— Ulasan teks teks asli Rg Veda Samhita yang disimpangkan oleh Dr Zakir Naik —

Om Swastyastu

— Ya Tuhan, semoga Engkau selalu melindungi —

 

Rg-Veda telah dikenal dan diakui seluruh dunia sebagai buku tertua yang ditulis manusia. Jika buku ini menyebut tentang Muhammad, tentunya ini akan sangat membuat bangga Umat Muslim. Tidak hanya itu saja, Umat Hindu juga tentunya gampang dipengaruhi umtuk memeluk Islam. Karena itulah, mudah dimengerti mengapa Dr. Zakir Naik sorang oknum  Muslim bersusah payah mencoba mencari pembenaran bahwasanya Nabi Muhammad disebutkan dalam Pustaka Suci Rg-Veda dan berbagai literatur Hindu lainnya. Tetapi bukan satu kebenaran yang kemudian disampaikan oleh Dr. Zakir Naik, namun sebuah manipulasi dan pembohongan baik itu kepada Umat Muslim maupun Umat Hindu.

 

Pertama-tama, kita harus melihat apa yang disampaikan dalam Pusataka Suci Rg-Veda tentang Muhammad. Kita harus mengetahui ada dua kata Sanskrit yang berperang penting yang dijadikan dasar argumen Dr Naik, yakni

(1) śaṃsata ; dan

(2) narāśaṃsa .

 

Menurut Dr Naik, kata śaṃsata berarti orang yang memuji. Dalam bahasa Arab, orang seperti itu disebut Ahammad, yang merupakan nama lain dari Nabi Muhammad. Karena itu, dimanapun dia menemukan kata śaṃsata, dia berusaha mengartikan kata itu berkenaan dengan Nabi Muhammad. Menurut Dr Naik, kata kedua berarti orang yang terpuji atau layak dipuji. Jadi, di manapun dia menemukan kata narāśaṃsa, dia menganggap kata itu menyatakan Muhammad. Bukankah ini adalah satu kekeliruan logika yang fatal atau `absurd`.

 

Sebuah analogi berdasarkan argumennya, Dr Naik beranggapan bahwa setiap kata Indonesia dalam kamus Indonesia yang mengandung kata “layak dipuji,” pasti berhubungan dengan nama Muhammad. Lebih jauh lagi, anggapan `konyol` seperti ini bisa diterapkan sebagai berikut:

 

kambing berjenggot dan Zakir Naik berjenggot, jadi ini berarti Zakir Naik adalah kambing – begitulah kesimpulan berdasarkan argumennya.

 

Sebenarnya, literatur Sanskrit śaṃsata dan narāśaṃsa adalah kata kata yang ditujukan kepada Dewa atau Tuhan, yang memang layak dipuji. Menurut Sāyana, penulis tafsir Veda yang paling terpercaya, kata narāśaṃsa merujuk kepada Dewa atau Personalitas Tuhan (Sagunam Brahman)  yang layak dipuji oleh manusia.

 

Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas apa yang dikatakan Dr Naik. Menurut Dr Naik, Mantram Mantram Rg Veda  (1/13/3), (1/18/9), (1/106/4), (1/142/3), (2/3/2), (5/5/2), (7/2/2), (10/64/3) dan (10/182/2) dari Pustaka Suci Rig-Veda mengandung kata narāśaṃsa dan kutipan klaim tentang Muhammad dalam Mantram (8/1/1) Rig Veda yang mengandung kata śaṃsata (Ahmmad), atau nama lain Muhammad. Berikut kutipan Matram Rig Veda (8/1/1):

 

 

Rg Veda Mandala VIII Sukta 1 Mantram 1

Mā cidanyadvi śaṃsata sakhāyo

mā riṣṇyata l

Indramitstot ā vṛṣaṇaṃ sacā sute

muhurukthā ca śaṃsata ll (8/1/1) — Muliakan hanya dia, wahai teman2; sehingga jangan kesedihan menggelisahkanmu. Hanya puji Indra yang perkasa saat sari buah dikucurkan, dan katakan pujianmu berulang-kali.

(terjemahan: R T H Griffith; The Hymns of the Ṛgveda, Motilal Banarsidass Publishers, Delhi; 1995, p-388).

 

Rg Veda Mandala I Suka 13 Mantra 3 Narāśaṃsamiha priyamasminajña upahvaye l

Madhujihvat haviṣkṛtam ll (1/13/3)

— Wahai Narāśaṃsa, yang manis lidah, sang pemberi dari persembahan, aku sembahyang bagi persembahanku

(ref.ibid hal 7)

Mantram Mantram Rg Veda Mandala 1 Sukta-13 ditujukan untuk memuja  Agni. Jadi Narasamsa itu merujuk kepada Dewa Agni.

 

Rg Veda Mandala 1 Sukta 18 Mantram 9

 

Narāśaṃsaṃ sudhṛṣṭamamapaśyam

saprathastam l

 

Divo na sadmakhasam ll (1/18/9)

I have seen Narāśaṃsa , him most resolute, most widely famed, as ‘twere the Household Priest of heaven

(tr: ibid, p-11).

 

The 18th Sukta, to which the verse belongs, is dedicated to Brahmaṇaspati, the Priest of heaven and hence the word narāśaṃsa (praiseworthy to man) in this verse refers to Brahmaṇaspati, the Priest of heaven.

 

Rg Veda Mandala I Sukta 106 Mantra 4

 

Narāśaṃsaṃ vajinṃ vajayinniha

kṣayadvīraṃ pūṣaṇaṃ summairī mahe l

 

Rathaṃ na durgādvasava sudānavo

viśvasmānno ahaṃso niṣpipartana ll (1/106/4)

To mighty Narāśaṃsa, strengthening his might, to Pūṣaṇa , ruler over men, we pray with hymns. Even as a chariot from a difficult ravine, bountiful Vasus, rescue us from all distress

(tr: ibid, p-69).

 

The 106th Sukta of 1st Mandala, to which the verse belongs, is dedicated to Viśvadevas, and hence the word narāśaṃsa (praiseworthy to man) in this verse refers to Viśvadevas.

 

Rg Veda Mandala I Sukta 142 Mantra 3

 

śuci pāvako adbhuto madhvā

yajñaṃ mimikṣati l

 

Narāśaṃsasthrirā divo devo

deveṣu yajñiyaḥ ll (1/142/3)

He wondrous, sanctifying, bright, sprinkles the sacrifice with mead, thrice, Narāśaṃsa from the heavens, a God mid Gods adorable

(tr: ibid, p-98).

 

The 142nd Sukta, to which the versae belongs, is dedicated to to deity Āprī, and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Āprī. Most of the scholars agree that Āprī is the other name of Agni and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Agni, the god of fire.

 

Rg Veda Mandala II Sukta 3 Mantram 2

 

Narāśaṃsaḥ prati dhāmānyañjan tisro div prati mahṇā svarciḥ l

Ghṛtapruṣā manasā havyamundanmūrdhanyajñasya sanamaktu devān ll (2/3/2)

May Narāśaṃsa lighting up the chambers, bright in his majesty through threefold heaven, steeping the gift with oil diffusing purpose, bedew the Gods at chiefest time of worship

(tr: ibid, p- 132).

 

Like the earler one, 142nd Sukta of 1st Mandal, this present 3rd Sukta of 2nd Mandala, is dedicated to the deity Āprī or Agni and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Agni the the Fire God.

 

Rg Veda Mandala V Sukta 5 Mantram 2

 

Narāśaṃsaḥ suṣūdatīmṃ yajñamadābhyaḥ l

Kavirhi madhūhastāḥ ll (5/5/2)

He, Narāśaṃsa, ne’er beguiled, inspiriteth this sacrifice; for sage is he, with sweets in hand

(tr: ibid, p- 240).

 

This 5th Sukta of 5th Mandala is also dedicated to Āprī or Agni and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Agni the Fire God.

 

Rg Veda Mandala VII Sukta 2 Mantram 2

 

Narāśaṃsasya mahimānameṣamupa

stoṣāma yajatasya yajñaiḥ l

 

Ye sukratavaḥ śucayo dhiyandhāḥ

svadanti devā ubhayāni havyā ll (7/2/2)

With sacrifice to these we men will honour the majesty of holy Narāśaṃsa – to these the pure, most wisw, the thought-inspires, Gods who enjoy both sorts of our oblations

(tr: ibid, p- 334).

 

Again this 2nd Sukta of 7th Mandala is dedicated to Āprī or Agni, and hence the word narāśaṃsa in this verse refers to Agni the Fire God.

 

Rg Veda Mandala X Sukta 64 Mantram 3

 

Narā vā śaṃsaṃ pūṣṇamagohyamagni

deveddhamabhyarcase girā l

 

Sūryāmāsā candramasā yamaṃ divi

tritaṃ vātamuṣasamaktumaśvinā ll (10/64/3)

To Narāśaṃsa and Pūṣaṇ I sing forth, uncocealable Agni kindled by the Gods. To Sun and Moon, two Moons, to Yama in the heaven, to Trita, Vāta, Dawn, Night and A śvins Twain

(tr: ibid, p- 578).

 

This 64th Sukta of 10th Mandala is dedicated to Viśvadevas, and the word narāśaṃsa in this verse refers to Viśvadevas.

 

Rg Veda Mandala X Sukta 182 Mantram 2

 

Narāśaṃso na avatu prayāje śaṃ no

astvanuyajo habeṣu l

 

Kṣipadaśtimapa durmati hannathā

karadyajamānāya śam ṣoḥ ll (10/182/2).

May Narāśaṃsa aid us at Prayāja; blest be out Anuyāja at invokings. May he repel the curse, and chase ill-feeling, and give the sacrificer peace and comfort

(tr: ibid, p- 650).

 

The 182nd Sukta of 10th Mandala, to which the above verse belongs, is dedicated to Vṛhaspati, and hence the word narāśaṃsa refers to Vṛhaspati, the Priest of the Gods.

 

Rg Veda Mandala I Sukta 53 Mantram 9

 

Tvametāñjanarājño dvirdaśābandhunā

suśravasopajagmaṣaḥ l

 

ṣaṣtiṃ sahasrā navatiṃ nava śruto ni

cakreṇa rathyā duṣpadā vṛṇak ll (1/53/9)

With all-outstripping chariot-wheel, O Indra, thou far-famed, hast overthrown the twice ten Kings of men, with sixty thousand nine-and-ninety followers, who came in arms to fight with friendless Suśravas

(tr: ibid, p-36).

 

To narrate the incident, Sayana, the renowned commentator of Rig-Veda, says that twenty kings with a force, 60,099 strong, attacked the King Suśrava (Prajapati) and Indra alone defeated them and frustrated their ambition (the Vayu-Purana also narrates the incident).

 

Sebagian besar akademisi sepakat bahwa Rig-Veda dikodifikasi lebih dari 5000 tahun SM, dan karenanya perisitiwa diceritakan dalam Mantram Rg Veda I/53/9 terjadi lebih dari 7000 tahun yang lalu. Dan Muhammad menaklukkan Mekah pada 630 M. Tapi Zakir Naik telah berusaha untuk menghubungkan peristiwa tersebut dengan penaklukan Muhammad di Mekah, yang sebenarnya merupakan bentuk usaha memalukan yang dilakukan oleh seorang oknum Muslim. Untuk mengaburkan struktur mantramnya, Zakir Naik telah menggantikan kata Suśrava kata dengan Suśrama dan mengatakan bahwa Suśrama adalah kata singkatan orang yang memuji, dan karenanya disetarakan dengan Ahammad dalam bahasa Arab, nama lain dari Muhammad. Dan dia mengklaim bahwa Mantram tersebut menceritakan Penaklukan Mekkah oleh Muhammad, dimana diperkirakan penduduk kota tersebut berkisar 60.000 orang dan Muhammad telah menyerbu Mekah dengan 20 pengikut terdekatnya. Satu bentuk klaim sepihak yang sangat `absurd` kalau tidak ingin dinyatakan sebagai tindakan `konyol` dan memalukan dari seorang yang bernama Dr. Zakir Naik.

 

Rg Veda Mandala VIII Sukta 6 Mantram 10

 

Ahamiddhi pituṣpari

medhamṛtasya jagrabha l

Ahaṃ sūrya ivājrani ll (8/6/10)

I from my Father have received deep knowledge of the Holy Law:

I was born like unto the Sun

(Tr: ibid, p- 396).

 

In this verse the word ahamiddhi stands for “I have received”. But as the word spells like Ahammad, the other name of Muhammad, Zakir Naik claims that the verse mentions Muhammad, which only a lunatic can do.

Penyelidikan terhadap kutipan Mantram Mantram Rg Veda yang dijadikan dasar oleh Dr. Zakir Naik untuk menyebutkan Muhammad menghasilkan satu penjelasan bahwasanya bahasa Sansekerta untuk  kata Narāśaṃsa adalah rujukan untuk para dewa atau Tuhan yang patut dipuji oleh Umat Hindu (Sanathani)  dan bukan sama sekali satu pribadi (orang per orang) yang dipuji oleh orang lainnya atau komunitas lainnya seperti apa yang diklaim oleh Zakir Naik.

Kesimpulan yang dapat di peroleh dari kekeliruan fatal logika Dr. Zakir Naik adalah ketika satu kata bermakna `terpuji` dalam konteks apapun itu maka kesemua kata `terpuji` tersebut akan merujuk kepada Muhammad. Kekeliruan fatal logika ini dapat diperoleh dari contoh sederhana berikut,

 

`jika seseorang menyatakan hewan perliharaan nya dengan satu kata yang bermakna `terpuji` berarti hewan itu juga merujuk kepada Nabi Muhammad? Akan kah logika ini di terima oleh Umat Muslim? Penalaraan satu pribadi yang sehat pasti akan menolaknya.

 

Namun selain mengutip Mantram Rg Veda , Dr Naik juga telah mengutip kata narāśaṃsa dari literatur Pustaka Suci Veda lainnya juga seperti Atharva-Veda dan Yajurveda yang kesemuanya itu dikait kaitkan dengan Muhammad, walaupun sebenarnya dengan sanggahan ini klaim dalam literatur Pusataka Suci Veda yang lainnya akan gugur dengan sendirinya karena sekali lagi, kata `narasamsa` dan `samsata` adalah kata yang digunakan oleh Umat Hindu (Sanathani) untuk memuja/melakukan pujian kepada para Dewa atau Personalitas Tuhan (Sagunam Brahman) bukan kepada satu pribadi (orang per orang) yang di junjung oleh pribadi atau satu komunitas lainnya.

 

Akhir kata, semoga materi sanggahan ini memberikan informasi pembanding yang sesuai dan mencerahkan agar sekiranya klaim klaim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya tersebut tidak menyesatkan umat beragama baik itu Umat Muslim atau pun Umat Hindu.

 

Satyam Eva Jayate

— pada saatnya hanya Kebenaran (Satyam) yang pasti akan menang —

 

Om Tat Sat

Om Shanti Shanti Shanti Om

 — Ya Tuhan, semoga damai di hati, damai di dunia, damai untuk selamanya —

 

 

Edited from : http://indonesia.faithfreedom.org/forum/muhammad-di-kitab-veda-dusta-dr-zakir-naik-t25485/

5 thoughts on “— Ulasan teks teks asli Rg Veda Samhita yang disimpangkan oleh Dr Zakir Naik —

  1. dasar ingusan yang belajar dungu dan tolol translate vedanya masih pake internetan kok banya cekcok di luaar
    DR Zakir naik telah melihat persamaan kesamaan kesamaan yang ada dalam VEDA,,,,,jadi wajar klo dia meggunakan narasamsa` dan `samsata` untuk merujuk ke Nabi Allah KArena beliau melihat ciriciri yang tertulis di kitab suci Hindu itusendiri dimana disana ada Sosok kalki Avatar yang mempunyai kesamaan ciri dengan Nabi Allah Muhammad SAW

  2. Benarkah AHMAD adalah MUHAMMAD dalam Al Quran ?

    Postby HILLMAN » Wed Mar 17, 2010 9:41 pm

    Assalamu’alaikum
    Salam damai dan sejahtera bagi semua.

    Pengikut ajaran Islam (note : bukan Muslim) meng-klaim bahwa nama “nabi” Muhammad sudah di sebutkan dalam Quran maupun Injil Nasrani sebagai nabi penerus dan nabi penutup setelah Nabi ISA AS.

    Pernyataan ini didasari dengan dalil Surah As Shaff ayat 6 yang dikatakan menuliskan sebuah “nama” yaitu أحمد “Ahmad”.

    Mari kita bersama melihat, mempelajari, dan menelaah apakah hal tersebut merupakan suatu kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan secara keimanan dan keilmuan.

    Kita coba menelaah dengan dua kata ini melalui pembandingan ayat-ayat yang ada dalam Al Quran sendiri.:

    Benarkah berdasarkan ilmu tatabahasa Arab, kata أحمد – ahmad = yang terpuji, dan apakah memang dimaksudkan sebagai sebuah nama yang merujuk pada محمد – muhammad ?

    Di bawah ini adalah ayat dimana kata أحمد – ahmad, tertulis dan menjadi dasar peryataan di awal tulisan.

    Surah As Shaff ayat 6
    wa-idz qaala ‘iisaa ibnu maryama yaa banii israa-iila innii rasuulu allaahi ilaykum mushaddiqan limaa bayna yadayya mina alttawraati wamubasysyiran birasuulin ya/tii min ba’dii ismuhu ahmadu falammaa jaa-ahum bialbayyinaati qaaluu haadzaa sihrun mubiinun

    [QS 61:6] Dan ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). ” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

    JIKA DEMIKIAN, KITA TELAAH AYAT-AYAT DI BAWAH INI

    ح ك م = ha kaf mim
    حَكَمَ – hakama = to judge = me-nilai / me-mutus-kan (verb)
    يَحْكُم – yahkumu = judge = me-nilai / me-mutus-kan (3rd person masculine singular imperfect verb)
    أَحْكُمُ – ahkumu = judging = me-nilai /me-mutus-kan (1st person masculine singular imperfect verb)

    Surah Al Maidah ayat 44
    innaa anzalnaa alttawraata fiihaa hudan wanuurun yahkumu bihaa alnnabiyyuuna alladziina aslamuu lilladziina haaduu waalrrabbaaniyyuuna waal-ahbaaru bimaa istuhfizhuu min kitaabi allaahi wakaanuu ‘alayhi syuhadaa-a falaa takhsyawuu alnnaasa waikhsyawni walaa tasytaruu bi-aayaatii tsamanan qaliilan waman lam yahkum bimaa anzala allaahu faulaa-ika humu alkaafiruuna

    [QS 5:44] Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya petunjuk dan cahaya , yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

    Surah Ali Imran ayat 55
    idz qaala allaahu yaa ‘iisaa innii mutawaffiika waraafi’uka ilayya wamuthahhiruka mina alladziina kafaruu wajaa’ilu alladziina ittaba’uuka fawqa alladziina kafaruu ilaa yawmi alqiyaamati tsumma ilayya marji’ukum fa-ahkumu baynakum fiimaa kuntum fiihi takhtalifuuna

    [QS 3:55] ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu perselisihkan “.

    DAN KITA LANJUTKAN DENGAN AYAT_AYAT DIBAWAH INI

    ح م ل – ha mim lam
    حَمَلَ – hamala = to carry = mem-bawa (verb)
    يَحْمِلُ – yahmilu = carry = mem-bawa (3rd person masculine singular imperfect verb)
    أَحْمِلُ – ahmilu = carrying = mem-bawa / mem-bawa-kan (1st person masculine singular imperfect verb)

    Surah Thaha ayat 100
    man a’radha ‘anhu fa-innahu yahmilu yawma alqiyaamati wizraan

    [20:100] Barangsiapa berpaling dari padaNya maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat,

    Surah Yusuf ayat 36
    wadakhala ma’ahu alssijna fatayaani qaala ahaduhumaa innii araanii a’shiru khamran waqaala al-aakharu innii araanii ahmilu fawqa ra’sii khubzan ta’kulu alththhayru minhu nabbi’naa bita’wiilihi innaa naraaka mina almuhsiniina

    [QS 12:36] Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya : “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.” Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai.

    MAKA DENGAN DALIL PERSAMAAN DI ATAS, MAKA KITA TELAAH YANG BERIKUT INI

    ح م د – ha mim dal
    حْمَدَ – hamada = to praise = memuji (verb)
    يُحْمَدُ – yuhmaduu = praise = memuji (3rd person masculine plural passive imperfect verb)
    أَحْمَدُ – ahmadu = praising = memuji / me-mulia-kan (1st person masculine singular imperfect verb)

    Surah Ali Imran ayat 188
    laa tahsabanna alladziina yafrahuuna bimaa ataw wayuhibbuuna an yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu falaa tahsabannahum bimafaazatin mina al’adzaabi walahum ‘adzaabun aliimun

    [QS 3:188] Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka memuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.

    SEHINGGA DENGAN DALIL YANG SAMA KITA TELAAH SURAH YANG MENJADI DASAR PERNYATAAN, YAITU :

    Surah As Shaff ayat 6
    wa-idz qaala ‘iisaa ibnu maryama yaa banii israa-iila innii rasuulu allaahi ilaykum mushaddiqan limaa bayna yadayya mina alttawraati wamubasysyiran birasuulin ya/tii min ba’dii ismuhu ahmadu falammaa jaa-ahum bialbayyinaati qaaluu haadzaa sihrun mubiinun

    ANALISA DALIL TATABAHASA

    Root Word —- > Verb —- > 3rd person masculine singular imperfect verb —- > 1st person masculine singular imperfect verb

    ح ك م = ha kaf mim —- > حَكَمَ – hakama —- > يَحْكُم – yahkumu —- > أَحْكُمُ – ahkumu

    ح م ل – ha mim lam —- > حَمَلَ – hamala —- > يَحْمِلُ – yahmilu —- > أَحْمِلُ – ahmilu

    ح م د – ha mim dal —- > حْمَدَ – hamada —- > يُحْمَدُ – yuhmaduu —- > أَحْمَدُ – ahmadu

    TERJEMAHAN SEBENARNYA BERDASARKAN ANALISA di atas

    وإذ – wa-idz = dan apabila
    قال – qaala = berkata
    عيسى – ‘iisaa = Isa
    ابن – ibnu = anak
    مريم – maryama = Maryam
    يبني إسرءيل – yaa banii israa-iila = Hai Bani Israil
    إني – innii = Aku
    رسول – rasuulu = utusan
    الله – allaahi = Allah
    إليكم – ilaykum = kepadamu
    مصدقا – mushaddiqan = yang membenarkan
    لما – limaa = terhadap apa
    بين – bayna = antara
    يدي – yadayya = sebelumku
    من – mina = dari
    التورية – alttawraati = Taurat
    ومبشرا – wamubasysyiran = dan kabar gembira
    برسول birasuulin = dengan utusan
    يأتي – ya’tii = akan datang
    من – min = dari
    بعدي – ba’dii = sesudahku
    اسمه – ismuhu = nama-Nya
    أحمد – ahmadu = me-mulia-kan (1st person masculine singular imperfect verb)
    فلما – falammaa = maka tatkala
    جاءهم – jaa-ahum = datang kepada mereka
    بالبينت – bialbayyinaati = dengan keterangan yang jelas
    قالوا – qaaluu = berkata mereka
    هذا – haadzaa = ini
    سحر – sihrun = sihir
    مبين – mubiinun = yang nyata

    [QS 61:6] Dan ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan utusan yang akan datang sesudahku, yang memuliakan namaNYA, maka tatkala datang kepada mereka dengan keterangan yang jelas , mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

    KESIMPULAN

    Dengan demikian, kata أحمد – ahmad, pada Surah As Shaff ayat 6 adalah bukan sebuah “nama” tetapi bermakna (melakukan pekerjaan) memuji / me-mulia-kan (1st person masculine singular imperfect verb) .

    Di bawah ini, saya berikan perbandingan kata dalam ayat ini serupa dengan ayat-ayat yang tertulis dalam injil Nasrani mengenai ROH KEBENARAN / ROH KUDUS yang akan datang dan memuliakan pengutusnya yaitu Allah.

    Yohanes (John) 14 : 23 – 26

    [John 14 : 23] ἀπεκρίθη Ἰησοῦς καὶ εἶπεν αὐτῷ, Ἐάν τις ἀγαπᾷ με τὸν λόγον μου τηρήσει, καὶ ὁ πατήρ μου ἀγαπήσει αὐτόν, καὶ πρὸς αὐτὸν ἐλευσόμεθα καὶ μονὴν παρ’ αὐτῷ ποιησόμεθα.

    [John 14 : 23] apekrithē iēsous kai eipen autō ean tis agapa me ton logon mou tērēsei kai o patēr mou agapēsei auton kai pros auton eleusometha kai monēn par autō poiēsometha

    [John 14 : 23] Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.

    [John 14 : 24] ὁ μὴ ἀγαπῶν με τοὺς λόγους μου οὐ τηρεῖ: καὶ ὁ λόγος ὃν ἀκούετε οὐκ ἔστιν ἐμὸς ἀλλὰ τοῦ πέμψαντός με πατρός.

    [John 14 : 24] o mē agapōn me tous logous mou ou tērei kai o logos on akouete ouk estin emos alla tou pempsantos me patros

    [John 14 : 24] Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.

    [John 14 : 25] Ταῦτα λελάληκα ὑμῖν παρ’ ὑμῖν μένων:

    [John 14 : 25] tauta lelalēka umin par umin menōn

    [John 14 : 25] Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu;

    [John 14 : 26] ὁ δὲ παράκλητος, τὸ πνεῦμα τὸ ἅγιον ὃ πέμψει ὁ πατὴρ ἐν τῷ ὀνόματί μου, ἐκεῖνος ὑμᾶς διδάξει πάντα καὶ ὑπομνήσει ὑμᾶς πάντα ἃ εἶπον ὑμῖν [ἐγώ].

    [John 14 : 26] o de paraklētos to pneuma to agion o pempsei o patēr en tō onomati mou ekeinos umas didaxei panta kai upomnēsei umas panta a eipon umin egō

    [John 14 : 26] tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

    Yohanes (John) 16 : 13 – 14

    [John 16 : 13] ὅταν δὲ ἔλθῃ ἐκεῖνος, τὸ πνεῦμα τῆς ἀληθείας, ὁδηγήσει ὑμᾶς ἐν τῇ ἀληθείᾳ πάσῃ: οὐ γὰρ λαλήσει ἀφ’ ἑαυτοῦ, ἀλλ’ ὅσα ἀκούσει λαλήσει, καὶ τὰ ἐρχόμενα ἀναγγελεῖ ὑμῖν.

    [John 16 : 13] otan de elthē ekeinos to pneuma tēs alētheias odēgēsei umas eis pasan tēn alētheian ou gar lalēsei aph eautou all osa an akousē lalēsei kai ta erchomena anangelei umin

    [John 16 : 13] Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

    [John 16 : 14] ἐκεῖνος ἐμὲ δοξάσει, ὅτι ἐκ τοῦ ἐμοῦ λήμψεται καὶ ἀναγγελεῖ ὑμῖν.

    [John 16 : 14] ekeinos eme doxasei oti ek tou emou lēpsetai kai anangelei umin

    [John 16 : 14] Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.

    Kisah para rasul (Acts) 2 : 4, 11 -12

    [Acts 2:4] καὶ ἐπλήσθησαν πάντες πνεύματος ἁγίου, καὶ ἤρξαντο λαλεῖν ἑτέραις γλώσσαις καθὼς τὸ πνεῦμα ἐδίδου ἀποφθέγγεσθαι αὐτοῖς.

    [Acts 2:4] kai eplēsthēsan apantes pneumatos agiou kai ērxanto lalein eterais glōssais kathōs to pneuma edidou apophthengesthai autois.

    [Acts 2:4] Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

    [Acts 2:11] Ἰουδαῖοί τε καὶ προσήλυτοι, Κρῆτες καὶ Ἄραβες, ἀκούομεν λαλούντων αὐτῶν ταῖς ἡμετέραις γλώσσαις τὰ μεγαλεῖα τοῦ θεοῦ.

    [Acts 2:11] ioudaioi te kai prosēlutoi krētes kai arabes akouomen lalountōn autōn tais ēmeterais glōssais ta megaleia tou theou

    [Acts 2:11] baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.

    [Acts 2:12] ἐξίσταντο δὲ πάντες καὶ διηπόρουν, ἄλλος πρὸς ἄλλον λέγοντες, Τί θέλει τοῦτο εἶναι;

    [Acts 2:12] existanto de pantes kai diēporoun allos pros allon legontes ti theloi touto einai

    [Acts 2:12] Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?”

    Dalam ayat-ayat Injil Nasrani tersebut memilki kesamaan makna yang sangat jelas dengan Surah Surah As Shaff ayat 6, baik dalam pengutusan ROH KEBENARAN sesudah Nabi ISA AS, ROH yang akan memuliakan namaNYA, dan bahkan “ketercengangan” mereka yang mendengar, sehingga mengucapkan kalimat “Ini adalah sihir yang nyata.”, dan sayangnya itu bukan “nabi” Muhammad.

    Demikian tulisan ini adalah sesuatu yang sangat-sangat kecil dan penuh dengan kekurangan, tetapi dengan tujuan untuk memberikan suatu pemicu ikhtiar dan ijtihad yang lebih dalam dalam mencari wajah Allah yang hakiki yang pada titik tertingginya adalah tawakal dengan pengertian akal dan iman, jauh dari taklid buta.

    Wassalam
    ===============================================================================================

    Postby betdaniel99 » Wed Mar 17, 2010 10:19 pm

    Pertamax… Numpang absen, daeng.. :

    Saya ingin menggarisbawahi kalimat ini:
    Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

    Ternyata, dalam kalimat asli berbahasa Arab-nya, kata ‘rasul’ itu tidak ada, yaa… Dan mereka menuduh kitab lain telah direvisi/diedit..😆

    Syukron & Salaam.
    ===============================================================================================

    Postby HILLMAN » Thu Mar 18, 2010 10:45 am

    Terima kasih mas Beth, anda menunjukan sebuah bukti lagi KEBOHONGAN PENTERJEMAH AL QURAN demi memanipulasi makna sebenarnya.

    Saya ada sedikit editing diatas, karena ada beberapa kata yang kurang dan terlupa saya tuliskan, mohon maaf dan maklum karena saya buat di sela-sela waktu sibuk. 😆

    InsyaAllah, tulisan ini berguna bagi semua.

    Wassalam
    ================================================================================================

    Postby CRESCENT-STAR » Thu Mar 18, 2010 3:18 pm

    bagaimana bisa bung hilman mengutak-ngatik ayat Quran dan bertindak berdasar ayat Quran, akan tetapi bung Hilman dgn begitu saja tdk memperdulikan hal2 yg sudah jelas dalam ayat tsb mengenai apa itu kata “AHMAD” ?
    bukankah di dalam ayatnya sudah diterangkan bahwa AHMAD adalah ASMA/ISMUN (nama) ??
    ================================================================================================

    Postby HILLMAN » Thu Mar 18, 2010 6:24 pm

    Mas Crescent, oleh karena itulah saya mendasarinya dengan ayat-ayat Quran itu sendiri sebagai pembanding.
    Kenyataan yang saya dapatkan adalah أَحْمَدُ – ahmadu , bukan merupakan sebuah “nama” tetapi sebuah kata kerja yang berbentuk 1st person masculine singular imperfect verb.

    ANALISA DALIL TATABAHASA

    Root Word —- > Verb —- > 3rd person masculine singular imperfect verb —- > 1st person masculine singular imperfect verb

    ح ك م = ha kaf mim —- > حَكَمَ – hakama —- > يَحْكُم – yahkumu —- > أَحْكُمُ – ahkumu

    ح م ل – ha mim lam —- > حَمَلَ – hamala —- > يَحْمِلُ – yahmilu —- > أَحْمِلُ – ahmilu

    ح م د – ha mim dal —- > حْمَدَ – hamada —- > يُحْمَدُ – yuhmaduu —- > أَحْمَدُ – ahmadu

    Dan hal itu membuat makna kalimat dalam Surah As Shaff ayat 6 sangat jauh dari maksud sebenarnya.
    Dan maaf jika saya menyatakan bahwa hal ini adalah bentuk pembohongan yang menggunakan ke-tawakal-an manusia terhadap (nama) Allah.
    Apakah anda akan membiarkan jika diri anda mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut ? Lillahita’allah, Itulah yang saya lakukan.

    Ingatlah akan firmanNYA :
    walaa taqfu maa laysa laka bihi ‘ilmun inna alssam’a waalbashara waalfu-aada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas-uulaan

    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

    Saya hanya bertanya, apakah anda merasa cukup mempunyai pengetahuan mengenai makna sebenarnya yang tertulis dalam bahasa asalnya tanpa ber-ijtihad ?

    Salam bagi orang yang berpikir.
    ================================================================================================

    Postby Jihad Zone » Fri Mar 19, 2010 6:48 am

    emang susah kalo bicara sama orang gak tahu bhs arab, tapi sok ngomongin bhs arab.
    udah sering ane bilang lu itu pandir, tapi ente itu gak sadar2 juga, dasar pandir akut, emang yang pantas kepala lu itu jotosin aja ke tembok kayak gini
    ===============================================================================================

    Postby Jihad Zone » Fri Mar 19, 2010 7:01 am

    setiap “nama” yang terbuat dari kalimat apa saja. pasti ia menjadi “ISIM”
    misal YAZID diambil dari kata kerja FI’IL MUDHARI’, sedangkan AHMAD diambil dari ISIM TAFDHIL. (bukan dari kata kerja, ini mah kepandiran ente aja)
    ================================================================================================

    Postby CRESCENT-STAR » Fri Mar 19, 2010 8:17 am

    betul bung JZ, saya kira contoh2 seperti itu juga ada di budaya bahasa kita, bahasa Indonesia. seperti MULIA, HAKIM, yang menjadi nama bagi seseorang.
    ================================================================================================

    Postby HILLMAN » Sat Mar 20, 2010 12:34 am

    sungguh memprihatinkan, karena tulisan dan bukti dalil pendukung yang dibawa oleh seorang “yang tidak tahu bahasa Arab” saja, sudah membuat anda berceloteh tanpa dalil untuk menutupi kebohongan terjemahan Quran yang kasat mata.

    Kelihatannya pola celoteh yang sama anda lakukan pada thread yang lain, dan maaf saya tidak melayani celoteh tanpa dalil.

    Saya tambahkan sedikit saja, bukan untuk anda, tetapi untuk semua pembaca yang mempunyai minat untuk mengetahui kebenaran yang hakiki.

    Tetap saya berterima kasih karena anda sudah menuliskan kata ”YAZID”, maka saya berikan contoh :

    Surah Faathir ayat 1
    alhamdu lillaahi faathiri alssamaawaati waal-ardhi jaa’ili almalaa-ikati rusulan ulii ajnihatin matsnaa watsulaatsa warubaa’a yaziidu fii alkhalqi maa yasyaau inna allaaha ‘alaa kulli syay-in qadiirun

    [QS 35:1] Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    DAN

    Hadits Sahih Imam Bukhari
    182- وسئل الأوزاعي وأنا أسمع عن الإيمان فقال:الإيمان يزيد وينقص
    Wasa’ala al-awzaa’i w’ana asm’anul iman. Faqala : Al imanu yaziidu wa yanqushu

    Bertanya Awzaa’i : dan aku mendengar tentang iman, Ia berkata : Ke-iman-an naik dan turun.

    Kata يزيد – yaziid, dalam dua kalimat di atas berdasarkan qawaid lughah adalah bentuk fi’il mabni dengan dammah, sehingga dilafazkan menjadi yazzidu .
    Dengan demikian kata يزيد – yaziidu, dalam Al Quran dan Hadith di atas di maksudkan sebagai sebuah bentuk kata kerja, sebagaimana kata أحمد – ahmadu, dalam Surah As Shaff ayat 6.

    Salam bagi orang yang berpikir.
    ===============================================================================================

    Postby betdaniel99 » Sat Mar 20, 2010 5:51 pm

    CRESCENT-STAR wrote:
    betul bung JZ, saya kira contoh2 seperti itu juga ada di budaya bahasa kita, bahasa Indonesia. seperti MULIA, HAKIM, yang menjadi nama bagi seseorang.

    ‘Mulia’ dan ‘Hakim’ itu kata benda, sob…
    Apakah ‘ahmadu’ seperti di atas adalah kata benda?

    Syukron & Salaam.
    ================================================================================================

    Postby oglikom » Mon Apr 01, 2013 11:54 pm

    Benarkah !?

    Semoga ada Mualaf dari agama sebelah mau mampir.
    ================================================================================================================================================================================================
    (editing….sumber :faith freedom indonesia forum)

berkomentarlah dengan bijak, segala konsekuensi hukum ditanggung pemilik komentar, jadi berhati-hatilah sebelum berkomentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s