Semua Agama Asalnya Dari Tuhan

PERLUNYA AL QUR’AN DITURUNKAN.

 

Sewaktu Al Qur’an diturunkan pada empat belas abad yang lalu, di dunia sudah terdapat banyak agama dan banyak kitab yang dianggap suci oleh pengikut-pengikutnya. Di sekitar negara Arab terdapatlah orang-orang yang percaya kepada Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru. Banyak orang-orang Arab yang menjadi menjadi Nasrani atau condong ke arah agama Nasrani. Di antara orang-orang Arab itu ada juga yang memeluk agama Yahudi. Di antara mereka yang memeluk agama Yahudi adalah penduduk Madinah sendiri, seperti Ka’ab bin Asyraf seorang kepala suku di Madinah dan musuh Islam. Di Mekah sendiri di samping budak-budak yang beragama Nasrani terdapat juga orang-orang Mekah yang condong kepada agama Nasrani. Waraqah bin Naufal paman dari Khadijah, isteri pertama Nabi Muhammad s.a.w. juga memeluk agama Nasrani. Ia faham bahasa Ibrani dan menterjemahkan Kitab Injil dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab.

 

Di sebelah ujung lain negeri Arab, hidupah orang-orang Persia yang juga mempercayai seorang nabi dan sebuah kitab suci. Sekalipun kitab Zend Avesta telah mengalami perubahan-perubahan oleh tangan manusia, tetapi kitab itu masih dianggap suci oleh beratus ribu pengikutnya dan suatu negeri yang kuat menjadi pendukungnya. Adapun di India maka kitab Weda dipandang suci beribu-ribu tahun lamanya. Di situ ada juga kitab Gita dari Shri Krisna dan ajaran Buddha. Agama Kong Hu Cu menguasai negeri Tiongkok, tetapi pengaruh Buddha makin hari makin meluas di negeri itu.

Dengan adanya kitab-kitab yang dipandang suci oleh pengikut-pengikutnya dan ajaran-ajaran itu, apakah dunia ini memerlukan Kitab Suci yang lain lagi? Inilah sebenarnya satu pertanyaan yang ada pada setiap orang yang mempelajari Al Qur’an. Jawabannya bisa diberikan dalam beberapa bentuk.

 

 

Pertama, apakah adanya berbagai agama itu, tidak menjadi alasan yang cukup untuk datangnya agama yang baru lagi untuk semua?

 

 

Kedua, apakah akal manusia itu tidak mengalami proses evolusi sebagaimana badannya? Dan karena evolusi fisik itu akhirnya mencapai bentuk yang sempurna, apakah evolusi mental dan rohani itu tidak menuju ke arah kesempurnaan yang terakhir, yang sebenarnya merupakan tujuan daripada adanya manusia itu?

 

 

Ketiga, apakah agama-agama yang dulu itu dianggap ajaran-ajaran yang dibawanya itu ajaran-ajaran yang terakhir? Apakah mereka tidak mengharapkan perkembangan kerohanian yang terus-menerus? Apakah mereka tidak selalu memberitahukan kepada pengikut-pengikutnya tentang akan datangnya utusan terakhir yang akan menyatukan seluruh umat manusia dan membawa mereka kearah tujuan yang terakhir?

 

 

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah merupakan jawaban yang mengharuskan supaya Al Qur’an diturunkan, sekalipun sudah ada kitab-kitab yang dianggap suci oleh umat-umat yang dahulu.

Dibawah ini akan dicoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu satu demi satu.

 

Bukankah perbedaan antara agama yang satu dengan lainnya itu sudah cukup menjadi alasan akan perlu datangnya ajaran yang baru lagi, sebagai agama terakhir?

 

 

a. Nabi Isa a.s. diutus untuk sesuatu kaum tertentu. Dalam Al Qur’an surat (3) Ali Imran, ayat 49 dinyatakan:

 

وَرَسُولاً إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْراً بِإِذْنِ اللّهِ وَأُبْرِئُ الأكْمَهَ والأَبْرَصَ وَأُحْيِـي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللّهِ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ -٤٩

Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata), “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhan-mu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman. (Aali-‘Imraan :49)

 

Hal ini dibuktikan juga oleh ayat-ayat dalam Injil:

 

Maka kata Daud kepada Abigail: Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, sebab disuruhnyalah engkau mendapatkan aku pada hari ini. (I Samuel 25:32). Dan lagi titah baginda demikian: Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, yang mengaruniakan pada hari ini seorang yang duduk di atas takhta kerajaanku, sehingga mataku sendiri telah melihatnya. (I Raja-raja 1:48).

Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, daripada kekal datang kepada kekal maka hendaklah segenap orang banyak mengatakan. Amin. Segala puji bagi Tuhan! (I Kitab Tawareh 16:26). Maka kata baginda: Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, yang telah berfirman dengan mulutnya kepada ayahku Daud, dan yang sudah menyampaikan dia dengan tangannya, firmannya. (I Kitab Tawareh 6:4)

 

Yesus juga menganggap dirinya sebagai nabi untuk Bani Israil. Apabila ada orang lain mendekati dia maka ia mengusirnya. Dalam Matius XV: 21-26, orang dapat membaca:

(21) Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.

(22) Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”

(23) Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.”

(24) Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”

(25) Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.”

(26) Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

 

(27) Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

(28) Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

 

b. Kitab Weda adalah Kitab untuk sesuatu golongan.

 

Di antara pengikut-pengikut Weda, maka membaca kitab Weda itu menjadi hak yang khusus bagi kasta yang tinggi saja. Demikianlah, maka Gotama Risyi berkata:

 

Apabila orang Sudra kebetulan mendengarkan kitab Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengecor cor-coran timah dan malam dalam kupingnya; apabila seorang Sudra membaca mantra-mantra Weda maka raja harus memotong lidahnya, dan apabila ia berusaha untuk membaca Weda, maka raja harus memotong badannya. (Gotama Smarti :12)

 

Agama Kong Hu Cu dan agama Zoroaster adalah juga agama-agama nasional. Kedua agama itu tidak berusaha untuk mengajarkan ajaran-ajarannya ke seluruh dunia, juga mereka tidak berusaha untuk mengembangkannya dalam daerah yang luas. Orang Hindu menganggap negeri India sebagai negeri pilihan bagi Tuhannya, demikian juga agama Kong Hu Cu menganggap negeri Tiongkok satu-satunya kerajaan Tuhan. Dalam hal ini, ada dua jalan untuk menyelesaikan pertentangan antara satu agama dengan lainnya itu, yaitu bahwa orang harus percaya bahwa Tuhan itu banyak, atau Tuhan itu Esa. Dan kalau orang percaya bahwa Tuhan itu Esa, maka orang harus mengganti agama yang berbeda-beda itu dengan ajaran yang bisa meliputi seluruhnya.

 

 

c. Tuhan adalah Esa.

 

Dunia kini telah maju. Orang tidak perlu berusaha untuk membuktikan bahwa apabila dunia ini mempunyai pencipta, maka Ia harus Pencipta Yang Esa. Tuhan dari orang-orang Israil, Tuhan dari orang-orang Hindu, Tuhan dari negeri Tiongkok dan Tuhan dari negeri Iran adalah tidak berbeda. Juga Tuhan dari negeri Arab, Afganistan, dan Eropa adalah tidak berlainan. Juga Tuhan dari orang-orang Mongol dan Tuhan orang-orang Semit adalah tidak berbeda. Tuhan adalah Esa, dan hukum yang mengatur dunia ini dengan lainnya adalah juga satu hukum, dan sistim yang menghubungkan satu bagian dari dunia ini dengan lainnya adalah juga satu sistim. Ilmu pengetahuan memberikan keyakinan, bahwa semua perubahan-perubahan alami dan mekanis di mana saja, adalah pernyataan hukum yang sama. Dunia ini hanya mempunyai satu prinsip: ialah gerak, sebagaimana pernyataan ahli-ahli filsafat materialis. Atau dunia ini hanya mempunyai satu pencipta. Apabila demikian halnya, maka pernyataan seperti Tuhan pada orang-orang Israil, Tuhan orang-orang Arab, Tuhan orang-orang Hindu adalah tidak berarti sama sekali. Tetapi apabila Tuhan itu satu, mengapa dunia ini mempunyai banyak agama? Apakah agama-agama itu hasil pemikiran otak manusia? Apakah karena itu, maka tiap-tiap bangsa dan tiap-tiap kelompok umat manusia menyembah Tuhannya sendiri? Apabila agama-agama itu bukan hasil pemikiran manusia, mengapa ada perbedaan antara satu agama dengan agama lain? Apabila dulu ada alasan tentang adanya perbedaan ini, apakah dewasa ini masih tepat bahwa perbedaan-perbedaan itu terus berlangsung?

 

 

d. Agama adalah bukan hasil pemikiran umat manusia.

 

Persoalan apakah agama itu merupakan hasil pemikiran manusia, maka jawabnya sudah barang tentu, ialah bahwa ia bukan hasil pemikiran manusia, dan sebabnya adalah banyak. Agama-agama yang merata di dunia ini mempunyai ciri-ciri yang khas:

 

Pertama, menurut ukuran yang biasa, maka pembawa agama adalah orang-orang biasa. Mereka tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang tinggi. Sungguhpun demikian, mereka berani memberikan ajaran, baik kepada orang-orang besar maupun orang-orang kecil; dan dalam waktu yang tertentu mereka dengan pengikut-pengikutnya meningkat dari kedudukan yang rendah sampai kepada kedudukan yang tinggi. Ini membuktikan bahwa mereka itu dibantu oleh Kekuasaan Yang Maha Agung.

 

Kedua, semua pembawa agama itu, adalah orang-orang yang sejak sebelum jadi Nabi dihargai dan dinilai tinggi oleh masyarakatnya karena ketinggian budi pekertinya, sekalipun oleh orang-orang yang kemudian hari menjadi musuhnya, setelah mereka itu menyatakan tentang kenabiannya. Oleh karena itu, tidak masuk akal sama sekali, bahwa mereka yang tidak pernah dusta terhadap manusia, dengan serta merta berdusta terhadap Tuhannya. Pengakuan yang universil tentang kesucian dari kehidupannya, sebelum mereka itu menyiarkan agama yang mereka bawa, adalah suatu bukti tentang kebenaran pengakuan mereka. Al Qur’an telah menekankan hal ini dengan menyatakan:

 

قُل لَّوْ شَاء اللّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلاَ أَدْرَاكُم بِهِ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُراً مِّن قَبْلِهِ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ -١٦

Katakanlah,“ Jika Allah Menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak memberitahukannya kepadamu.” Aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Apakah kamu tidak mengerti? (Yunus :6)

 

Ayat ini berarti, bahwa Nabi Muhammad s.a.w. menyatakan kepada mereka bahwa ia telah lama hidup bersama-sama dengan mereka, dan mereka mempunyai kesempatan yang cukup panjang untuk mengamat-amati dia. Juga mereka telah menjadi saksi tentang kejujurannya. Maka bagaimanakah mereka dapat berkata bahwa Nabi Muhammad s.a.w. pada waktu itu berani berdusta terhadap Tuhannya!

 

Demikian juga Al Qur’an menyatakan.

 

لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ -١٦٤

Sungguh, Allah telah Memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali-Imran :164)

Juga:

 

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ -١٢٨

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (At-Taubah :128)

 

Ini berarti, bahwa Rasul yang diturunkan kepada mereka itu adalah salah seorang di antara mereka, yang mereka tahu benar tentang kemurnian moralnya dan kebaikan budi pekertinya.

Tentang Nabi-nabi lainpun Al Qur’an juga menyatakan demikian, bahwa para rasul itu adalah dari antara mereka sendiri. Oleh karena itu adalah mustahil bahwa mereka tidak mengerti tentang Nabi-nabi mereka sendiri. Demikianlah, maka Al Qur’an menyatakan:

 

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ -٣٢

Lalu Kami Utus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, “Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?” (Al-Mu’minuun :32)

Juga:

 

وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيداً ثُمَّ لاَ يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلاَ هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ -٨٤

Dan pada hari Kami Bangkitkan seorang saksi dari setiap umat, kemudian tidak diizinkan kepada orang yang kafir dan tidak dibolehkan memohon ampunan. (An-Nahl :84)

 

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ -٦٥

Dan kepada kaum ‘Ad Hud, saudara mereka. Dia berkata, “Wahai kaum-ku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?” (Al-A’raaf :65)

 

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ هَـذِهِ نَاقَةُ اللّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللّهِ وَلاَ تَمَسُّوهَا بِسُوَءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ -٧٣

Dan kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhan-mu. Ini unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.” (Al-A’raaf :73)

 

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْباً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ فَأَوْفُواْ الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلاَ تَبْخَسُواْ النَّاسَ أَشْيَاءهُمْ وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ -٨٥

Dan kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. (Al-A’raaf 85)

 

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Nabi-nabi Hud, Shaleh, Syu’aib dan nabi-nabi yang lain-lain, adalah bukan orang-orang yang tidak diketahui oleh masyarakatnya masing-masing. Mereka tahu benar tentang kehidupan yang dialami oleh para nabi-nabi itu, baik sebelum, maupun setelah menerima wahyu, bahwa mereka adalah orang-orang jujur, bertakwa dan saleh. Oleh karena itu maka tidaklah masuk akal bahwa mereka dengan serta merta berusaha untuk menipu kaumnya.

Ketiga,

bahwa pembawa agama itu tidak mempunyai kekuasaan dan alat-alat yang pada umumnya dapat dikatakan menjamin suksesnya pimpinannya. Umumnya mereka sedikit sekali mengetahui tentang seni atau kebudayaan masanya. Sungguhpun demikian, apa yang mereka ajarkan adalah sesuatu yang lebih maju dari pada apa yang ada dalam masa itu; tidak sama dengan apa yang berlaku pada masanya. Dengan mengambil ajaran-ajaran itu, maka manusia akan sampai kepada peradaban dan kebudayaan yang tinggi dan sanggup mempertahankan kebenarannya itu untuk berabad-abad lamanya.

Hanya pembawa-pembawa agama yang benar sajalah yang dapat berbuat demikian itu. Oleh karena itu adalah mustahil bahwa orang yang tidak mengerti sama sekali tentang peradaban, kemajuan yang terdapat pada waktunya, setelah berbuat dusta terhadap Tuhannya, akan mempunyai kekuatan yang luar biasa, hingga ajaran-ajarannya itu dapat mengalahkan ajaran-ajaran yang ada pada waktu itu. Kemenangan yang sedemikian itu adalah mustahil dengan tidak adanya bantuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Keempat,

apabila diperhatikan ajaran-ajaran yang dibawa oleh pembawa-pembawa agama itu, maka dapat diketahui bahwa ajaran-ajaran itu selalu bertentangan dengan pikiran-pikiran yang hidup pada waktu itu. Apabila ajarannya itu sama dengan pikiran-pikiran yang hidup di dalam waktunya, maka hal itu dapat dikatakan bahwa ajaran mereka itu adalah merupakan pernyataan saja dari pada pikiran-pikiran yang ada pada waktu itu. Sebaliknya apa yang mereka ajarkan adalah sangat berlainan dengan alam pikiran yang ada dalam waktunya. Pertentangan yang sengit itu timbul, menjadikan daerah tempat penyiaran agama itu seolah-olah menjadi terbakar. Sungguhpun demikian, mereka yang menentang ajaran-ajaran itu akhirnya tunduk. Ini membuktikan bahwa pembawa-pembawa agama bukanlah orang-orang yang tidak memenuhi kehendak masanya, tetapi mereka adalah Nabi-nabi dan Rasul-rasul, dalam arti sebagaimana mereka sendiri mengakuinya.

Dalam zaman Musa a.s., alangkah anehnya ajaran yang ia bawa, ialah tentang keesaan Tuhan, di waktu dunia diliputi oleh Polytheisme. Sewaktu Nabi Isa a.s. yang dilahirkan dalam dunia yang materialistis daripada orang-orang Yahudi dan yang sangat terpengaruh oleh kemewahan Romawi, maka alangkah sumbangnya ajaran yang dibawanya, yang menekankan kepada kejiwaan. Alangkah sumbangnya ajaran yang ia bawa untuk memberikan ampunan kepada orang-orang zalim yang telah menganiaya rakyat yang sekian lamanya hidup di bawah tirani serdadu-serdadu Romawi, yang sudah sekian lamanya pula mengharapkan dapat hak untuk menuntut kebenaran. Nabi Muhammad s.a.w. di negeri Arab mengajar orang-orang yang telah mendengarkan ajaran-ajaran Yahudi dan Nasrani. Alangkah ganjilnya bagi mereka yang percaya, bahwa sebenarnya tidak ada ajaran yang benar di luar ajaran mereka sendiri. Dan ia mengajar kepada orang-orang kafir Mekah, bahwa Tuhan adalah Esa, dan bahwa semua manusia itu sama. Alangkah ganjilnya ajaran itu bagi masyarakat yang percaya bahwa bangsanya adalah golongan yang paling tinggi. Untuk mengajar penyembah-penyembah berhala, peminum minum-minuman keras dan penjudi-penjudi ulung tentang jeleknya perbuatan mereka, untuk mengeritik hampir semua dan apa saja yang mereka percayai atau mereka perbuat, untuk memberikan kepada mereka ajaran yang baru, lalu mendapatkan sukses, adalah merupakan suatu hal yang mustahil. Itu adalah seperti usaha berenang melawan banjir dengan kekuatan yang luar biasa. Itu adalah di luar kemampuan manusia.

Kelima, pendiri-pendiri dari agama-agama itu semua menunjukkan tanda-tanda bukti dan mu’jizat-mu’jizat. Setiap orang dari mereka, menerangkan sejak permulaan, bahwa ajarannya itu akan berhasil dan bahwa mereka yang berusaha untuk menghancurkan itu, akan hancur sendiri. Padahal mereka tidak mempunyai kekuatan-kekuatan lahir. Ditambah lagi bahwa ajaran-ajaran mereka itu bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan menimbulkan pertentangan yang luar biasa. Sungguhpun demikian mereka berhasil dan apa yang mereka katakan itu benar-benar terjadi. Mengapa kata-kata mereka itu terbukti dan janji-janjinya itu bisa terlaksana? Memang selain nabi ada juga jenderal-jenderal dan diktator-diktator yang mendapatkan sukses para nabi itu, sukses yang dikatakan terlebih dahulu, yang disandarkan kepada Tuhan sejak daripada permulaannya, sukses yang menjadi taruhan dari seluruh kehormatannya dan yang dapat dicapai sekalipun adanya oposisi yang luar biasa. Orang seperti Napoleon, Hitler dan Jenghiz Khan, dapat mencapai tingkatan yang tinggi dari kedudukan yang rendah. Tetapi mereka tidaklah berbuat sesuatu yang bertentangan dengan alam pikiran pada waktunya.Juga mereka tidak mengatakan bahwa Tuhan telah menjanjikan mereka kemenangan, sekalipun ada tantangan yang bagaimanapun. Juga mereka tidak harus berhadapan dengan oposisi yang besar dari orang-orang yang sezaman dengan mereka. Tetapi apabila mereka kalah, maka sebenarnya mereka tidak kehilangan apa-apa. Mereka masih dianggap besar dan tinggi oleh rakyatnya dan tidak takut apa-apa. Hal yang demikian itu adalah sangat berbeda dengan Nabi Musa a.s., Nabi ‘Isa a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w.

 

To be continued..,

 

a. Nabi Isa a.s. diutus untuk sesuatu kaum tertentu.

()

 

b. Kitab Weda adalah Kitab untuk sesuatu golongan.

()

 

c. Tuhan adalah Esa.

()

 

d. Agama adalah bukan hasil pemikiran umat manusia.

()

 

e. Mengapa hukum-hukum dari agama-agama itu berbeda?

()

sumber,disini

berkomentarlah dengan bijak, segala konsekuensi hukum ditanggung pemilik komentar, jadi berhati-hatilah sebelum berkomentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s