Hindu Ibarat Kapal Induk

Tiba-tiba saja I Komang Sapleng Wirawan yang sehari-hari dipanggil Mang Apleng didaulat menjadi “hakim” untuk sebuah perdebatan konyol antar dua temannya yang camil (calon militan). Topik debatnya tidak main-main, kebenaran agama! Setelah berpesan agar perdebatan nantinya jangan sampai saling melecehkan, Mang Apleng kemudian mempersilakan mereka untuk memaparkan apa yang mereka ketahui tentang kebenaran agamanya masing-masing. Wah, tampak kedua temannya sangat berapi-api. Tak kalah semangatnya dengan debat-debat di TV.

Tiga puluh menit sudah berlalu, tak ada tanda-tanda salah satu dari mereka terpojok atau menyerah. Hal ini membuat mereka semakin bernafsu. Pesan Mang Apleng pun sudah tidak dihiraukan lagi. Tak dapat dicegah, mereka saling menunjukkan eksklusivisme atau lebih tepat egoisme masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa jika agama itu diibaratkan sebuah kendaraan untuk mencapai suatu tujuan, maka agamanya adalah kendaraan tercanggih, yaitu pesawat terbang. Pesawat terbang ini bisa membawa manusia ke belahan dunia mana pun dengan cepat. Temannya yang satu kemudian mendebat, “Ah, bagaimana mungkin pesawat terbang bisa membawa saya ke berbagai pelosok? Badannya yang relatif besar tidak memungkinkan untuk itu. Pesawat hanya bisa sampai di bandara. Inilah kelemahannya! Coba bandingkan, agama saya ibaratnya mobil tercanggih, walaupun kecepatannya tidak seperti pesawat terbang, tetapi ia bisa ke pelosok-pelosok. Inilah keunggulannya.”

Mendengar argumentasi itu, teman yang satunya agak gelagapan. Dia kemudian berkata, “Akan tetapi, tetap saja mobil tidak bisa membawa kita naik turun jurang dan menyeberangi lautan. Ini juga kelemahan!”

 

“Berhenti!” Mang Apleng berteriak menghentikan perdebatan itu. Karena dongkol, dia kemudian bertanya pada dua temannya yang berdebat itu, “Apa boleh saya melepaskan jabatan saya sebagai hakim debat? Saya kepingin ikut berandai-andai.” Kedua temannya kemudian mengiyakan. Mang Apleng berkata, “Jika kalian mengandaikan agama yang kalian anut itu seperti pesawat terbang dan mobil tercanggih, maka agama saya seperti kapal induk”. Kedua temannya spontan terbahak-bahak mengejek.

 

Untuk selanjutnya, kedua temannya itu menjadi lawan debat Mang Apleng. Mereka sependapat bahwa kapal induk walaupun badannya sangat besar, tetapi ia hanya bisa berlayar di laut lepas saja, tidak bisa ke mana-mana. Besar tetapi tidak gesit, katanya. Mang Apleng kemudian mengatakan bahwa kapal induk itu tidak kosong. Di dalamnya ada berbagai jenis kendaraan. Ada puluhan jenis pesawat terbang, ratusan mobil, ribuan sepeda motor, dan peralatan lainnya. Kalau mau pergi jauh, bisa naik pesawat terbang yang ada di dalam kapal induk itu.

Seorang temannya kemudian berkata, “Sama saja seperti tadi, pesawat terbang tidak bisa ke pelosok-pelosok!” Ya, pesawatnya memang tidak bisa ke pelosok-pelosok, tetapi pesawat terbang yang di kapal induk itu pun tidak kosong! Dalam pesawat itu ada sebuah mobil amphibi yang canggih, sebuah sepeda motor dan sebuah peralatan naik turun jurang, kata Mang Apleng.

Argumen “Belalang Tamak” versi I Komang Apleng membuat keduanya takluk. Seorang temannya berkata, “Jika demikian, Anda sama saja dengan mengatakan agama Anda adalah yang terlengkap.” Mang Apleng menjawab, “Ya! Hindu adalah yang terlengkap! Hindu agama terbesar di dunia!” Dia kemudian mengutip pernyataan Maharsi Wararuci, “Ajaran luhur apa saja yang terdapat di luar Hindu, sudah pasti ada dalam Hindu, tetapi ajaran luhur yang ada dalam Hindu belum tentu ada di luar Hindu!”

 

Aha…ini dia Mang! Kemarin Komang mengatakan semua agama adalah sama-sama jalan menuju Tuhan Yang Esa. Komang mengakui bahwa Tuhan yang Komang muliakan adalah Beliau yang juga dimuliakan oleh pemeluk agama lain. Komang juga mengutip satu ayat dalam kitab suci bahwa semua pemeluk agama diperlakukan sama di mata Tuhan. Bagaimana Komang bisa mengingkari semua itu?

 

Mang Apleng menjawab, “Tidak! Saya tidak mengingkarinya. Semua agama sama-sama jalan menuju-Nya, saya yakin akan hal itu. Artinya jika kalian berjalan di jalan yang kalian pilih dengan mematuhi rambu-rambu lalu lintasnya, maka saya yakin kalian akan selamat sampai di tujuan. Begitu juga kalau saya berjalan di jalan saya dengan mematuhi rambu-rambu yang ada di jalan saya, maka saya juga akan selamat sampai di tujuan. Saya juga tetap yakin bahwa semua jalan itu menuju satu tujuan, yaitu Tuhan. Akan tetapi, kualifikasi masing-masing jalan itu tentu tidak sama. Seperti jika kita mau ke kota Kendari, ada jalan yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas, aspalnya mulus, dan lebar seperti jalan provinsi itu. Ada yang fasilitasnya minim, aspalnya berlubang, dan sempit seperti jalan di Kolaka Selatan, bahkan ada jalan hampir mirip jalan setapak dan berkelok seperti di Kolaka Timur. Walaupun begitu, yakinlah jalan-jalan itu sampai juga ke Kendari. Hindu seperti jalan yang pertama saya sebutkan itu.”

sumber,disini

 

berkomentarlah dengan bijak, segala konsekuensi hukum ditanggung pemilik komentar, jadi berhati-hatilah sebelum berkomentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s