Tuhan yg rendah hati

Tuhan sebagaimana IA ingin dikenali adalah pribadi yang sangat mengagumkan, seorang raja yang rendah hati atau seorang Presiden yang rendah hati, atau seorang negarawan yang rendah hati atau bahkan seorang konglomerat yang rendah hati, itu biasa. Namun Tuhan yang rendah hati? Dan telah menunjukan kerendahan hatinya, itu baru luar biasa sangat, mengapa saya beri kata sangat pada luar biasa?

Karena mungkin baik raja, presiden, negarawan, ataupun konglomerat tetap saja manusia, seberkuasa apapun tak bisa abadi keberkuasaannya, bahkan hanya orang-orang besar yang rendah hatilah yang mendapat tempat dalam setiap hati manusia. Ketika sang Pencipta manusia itu rendah hati, bukan saja nilai-nilai keangungan dan kebesaran TUHAN yang termanifestasi, namun seyogyanya itu menjadi cerminan bagi manusia untuk menyadari kodrat dirinya dan tak boleh tinggi hati.

Menariknya hanya ada satu sejarah (bukan mitos) yang menyampaikan kabar baik ini, bahwa memang Tuhan itu benar-benar Tuhan yang rendah hati, YESUS KRISTUS nama Nya, walaupun banyak yang tidak mempercayai Nya sebagai Tuhan, bagaimanapun juga IA tetap Tuhan karena IA adalah Tuhan.

Joh 13:13-14

(ITB)  Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.

(KJV)  Ye call me Master and Lord: and ye say well; for so I am.

(ITB)  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;

(KJV)  If I then, your Lord and Master, have washed your feet; ye also ought to wash one another’s feet.

Dalam terjemahan KJV begitu jelas disebut  Master dan Lord, (tidak ada hubunganya dengan gelar kebangsaan), karena  begitu jelas penekanan yang diberikan bahwa jika AKU yang adalah TUHAN mu mau membasuh kaki mu sebagai seorang pelayan bagi mu maka demikianlah kamu harus atau wajib melakukan yang sama.

TUHAN mana yang begitu rendah hati mau membasuh kaki manusia yang diciptakannya?

Tanpa bermaksud untuk memperbandingkan konsep-konsep keTuhanan yang ada pada agama-agama, tidak ada Tuhan yang seperti itu.

Tidak ada TUHAN yang begitu pengertian Nya kepada manusia yang dalam kapasitas emosi dan egonya memerlukan sentuhan langsung dari TUHAN, dan tanpa basa-basi, tanpa merasa direndahkan TUHAN YESUS membasuh kaki murid-muridnya, padahal kebiasaan cuci kaki itu hanya dilakukan oleh seorang budak.

Bukan tidak perduli dengan reputasi atau image-Nya, Tuhan YESUS membasuh kaki adalah potret mujijat kemanusian yang tidak sering diperhatikan oleh orang percaya, yang sering terluput dari orang percaya bahwa dengan membasuh kaki murid-muridnya yang juga tidak pernah membasuh kaki Tuhan YESUS, TUHAN lah yang mengambil inisiatif untuk menjadi yang rendah hati terlebih dahulu.

Hanya Maria Magdalena satu-satunya manusia yang pernah membasuh kaki Tuhan YESUS dengan minyak narwastu yang sangat mahal itu, ia melakukannya setelah pembelaan dan pengertian Tuhan YESUS kepada dirinya, yang bagi orang banyak adalah sampah masyarakat atau sekedar orang-orang kotor yang tak berarti. Mungkin kalau Maria adalah orang-orang yang merasa “berhutang banyak” tidak ada pernah manusia yang membasuh kaki Tuhan YESUS. namun apa yang harus terjadi memang harus terjadi.

Murid-murid Tuhan YESUS selama bersama Tuhan YESUS, tidak sampai berpikiran untuk membasuh kaki gurunya dan tuannya. Tak ada satupun murid yang berinisiatif walaupun Maria Magadelena sudah memberikan teladan, bahkan Yudas Iskariot dengan sinis menanggapi perbuatan Maria Magdalena sebagai suatu pemborosan. Yohanes dan Petrus yang sangat dekat dengan Tuhan Yesuspun tak tergerak untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Maria Magdalena.

Terkejutlah sangat murid-murid ketika Tuhan YESUS yang adalah TUHAN membasuh kaki mereka, bahkan yang lebih mengharukan lagi kaki Yudas Iskariotpun dibasuh oleh Tuhan YESUS, murid yang tak bergeming juga dari niat penghianatannya. Bisa dibayangkan perasaan Tuhan YESUS ketika membasuh kaki Yudas Iskariot? YESUS yang adalah Tuhan yang menjadi manusia, membasuh kaki orang yang akan menjualnya demi uang? Dan entah apa yang dirasakan oleh Yudas Iskariot ketika kakinya dibasuh oleh orang yang memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi orang-orang yang mulia, mengapa tak bergeming perasaan Yudas Iskariot?

Ketika saya menyadari realitas ini, terus terang hati saya dipenuhi oleh keharuan yang begitu dalam, mengapa Tuhan YESUS masih mau membasuh kaki orang yang menghianati dan menjualnya? Sedemikian dalam kasih Tuhan YESUS kepada manusia, sekalipun manusia itu tidak tahu berterima kasih dan suka berkhianat.

Kasih yang begitu besar dan indah, lewat membasuh kaki murid-murid-Nya Tuhan YESUS tidak melakukan hal itu demi ritual atau sekedar menjadikan teladan, tetapi ada kasih yang begitu mendalam karena Tuhan YESUS membuat sendiri pengakuan ;

Joh 13:7  Jawab YESUS kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

Joh 13:8  Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab YESUS: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”

Meskipun tak ada satupun murid-murid memahami mengapa Tuhan YESUS membasuh kaki mereka, tapi kerinduan yang mendalam tertangkap jelas pada perkataan Tuhan YESUS “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”

Sedemikian berartinya membasuh kaki bagi Mu Tuhan? sehingga agar untuk mendapat bagian dalam Mu, sampai Engkau harus membasuh kaki murid-murid atau orang-orang yang Engkau kasihi? Tidak cukupkah dengan memeluk setiap murid-murid Mu? atau menuangkan minuman dan menyendokan hidangan ke piring murid-murid Mu? Untuk menunjukan bahwa murid-murid Mu bisa mendapat bagian dalam Engkau?

Mengapa harus sampai mencuci kaki murid-murid Mu Tuhan YESUS?, bukan aku tidak rela, terlalu ajaib dan terlalu dalam untuk ku mengerti kedalaman kasih dan kerinduan Mu. bagiku sebuah totalitas dari kerendahan hati dengan belas kasih yang begitu teramat besar, telah Kau nyatakan TUHAN.

Baru ketika Tuhan YESUS membasuh kaki murid-muridnya IA menjelaskan maksud dari perbuatan-Nya tersebut, sebagai perwujudan untuk memperkenalkan pribadi-Nya yang penuh dengan belas kasih dan kerendahan hati. Meskipun para murid-murid masih tetap tidak mengerti, bahkan murid yang ingin menghianatinya tak bergeming juga dari niatnya.

Dulu sekali ketika mengikuti retreat kelulusan katekisasi, pada akhir acara atau acara puncaknya, para peserta diminta untuk duduk dalam formasi U, kemudian suasana hening dan diiringi suara gitar dan senandung pujian, kakak atau abang naposo (pemuda) membasuh kaki kami para peserta retreat tersebut, terus terang hal tersebut sangat menyentuh hati saya, walaupun saya belum mengerti sama sekali mengenai apa maksud semuanya itu, tapi entah kenapa saya begitu tersentuh, dan saya perhatikan teman-teman saya yang nakalnya minta ampun, sama dengan saya, mereka tersentuh ketika para kakak/abang naposo (pemuda) selesai membasuh kaki kami para peserta. Kami diminta untuk membasuh kaki teman kami satu kelompok, saya pun melakukan dengan khusuk bahkan berusaha keras agar tidak ada air mata yang tertumpah karena malu, saya perhatikan teman-teman saya pun demikian. Bagian acara basuh kaki itu meninggalkan kesan yang begitu mendalam dalam hidup saya.

Jadi sebagaimana manusia ketika saya melakukan pembasuhan kaki tersebut ada perasaan yang begitu mendalam mengenai bagaimana saya harus mengasihi dan melayani satu sama lain, mendahulukan satu sama lain, saya tidak bisa membayangkan sebagai TUHAN bagaimana perasaan Tuhan YESUS, disaat perpisahan-Nya menuju kematian Nya, kemudian ditengah itu ada murid yang tetap kekeh dengan penghianatan, ada juga murid yang terlalu minta perhatian lebih dengan meminta Tuhan YESUS mencuci tangan dan kepalanya, demikian campur aduk situasi-situasi kebatinan yang dirasakan oleh Tuhan YESUS.

Namun tetap IA mencuci kaki-kaki murid-murid Nya. IA tetap menyeka kaki demi kaki dengan belas kasih yang sama untuk setiap murid-murid Nya, apapun tingkah lakunya. Karena kasih dan kerendahan hati Tuhan YESUS tidak bergantung kepada situasi dan kondisi tingkah laku murid-murid Nya atau lingkungannya.

Terus terang inilah yang sulit untuk dilakukan oleh saya pribadi, saat ini saya hanya bisa mengasihi berdasarkan situasi-situasi yang ada dan merespon sesuai dengan tingkah laku sekitar saya, karena itu saya mau belajar untuk tidak menjadi rendah hati di lingkungan yang memang memungkinkan untuk saya menjadi rendah hati, sementara dimana lingkungan yang sulit buat saya untuk menjadi rendah hati, saya masih terus menjaga momentum atau memilah-milah kapan saya harus rendah hati, kapan tidak (turn on/off), itu yang menjadi pergumulan saya pribadi, saya merasa itu yang juga banyak dialami oleh orang-orang percaya. Dan saya berjuang waktu lepas waktu agar tidak tergantung situasi untuk tetap konsisten menjadi orang yang rendah hati.

Menjadi rendah hati bukanlah suatu pilihan melainkan perintah dari TUHAN langsung, ada begitu banyak ekspresi ketidaksukaan TUHAN kepada orang yang tinggi hati, sombong dan angkuh, namun begitu jelas ekspresi kesukaan TUHAN (favorable) terhadap orang-orang yang rendah hati dan mengandalkan TUHAN saja, tertuang dalam Alkitab.

Perlahan-lahan aku berkata kepada jiwaku dan hatiku, lihatlah betapa Tuhan mencintai orang yang rendah hati karena IA adalah Tuhan Allah yang rendah hati, karena itu hancurlah batu karang kesombongan, keangkuhan dan ke-aku-an dalam diriku, terleburlah dalam pemurnian api dari tukang periuk. Relakanlah untuk ditempa agar kerendahan hati itu ada dalam jiwaku.

Ada satu pembelajaran yang terpetik dari apa yang Tuhan YESUS lakukan dengan membasuh kaki murid-murid Nya, mengasihi identik dengan kerendahan hati, tanpa kerendahan hati seseorang tidak akan bisa mengasihi, dan semakin seseorang rendah hati, semakin besar ia dapat mengasihi dan menjadi berkat buat banyak orang.

Tidak rendah hati tidak dapat mengasihi, mengampuni memerlukan kerendahan hati, melayani memerlukan kerendahan hati, membimbing memerlukan kerendahan hati, mengajar memerlukan kerendahan hati, bahkan pertobatan dimulai dengan kerendahan hati.

Kerendahan hati bukan sekedar tidak pamer kebisaan, kebendaan atau sebagainya, kerendahan hati adalah ketaatan untuk terus menerus mengalahkan ke-aku-an dalam diri dan mengantikannya dengan apa yang TUHAN inginkan dalam kehidupan kita masing-masing.

Mari bersama belajar untuk semakin rendah hati, dari waktu ke waktu mengenal lebih dan lebih dekat Tuhan, Tuhan sebagaimana IA ingin dikenali adalah pribadi yang sangat mengagumkan, Tuhan yang rendah hati dan Tuhan yang mengasihi sangat.

WebRepOverall rating

berkomentarlah dengan bijak, segala konsekuensi hukum ditanggung pemilik komentar, jadi berhati-hatilah sebelum berkomentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s