AYAT-AYAT DALAM KITAB-KITAB SUCI versus HAK ASASI MANUSIA

1. I S L A M

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu”. (Q.S. 2: 190-191)

“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar”. (Q.S. 5:33)

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana”. (Q.S. 5:38)

2. K R I S T E N

 

Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (Injil Matius, 10:34)

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. (Injil Lukas, 12:51)

Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. (Injil Lukas, 14:23)

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan dia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, dia tidak dapat menjadi murid-Ku. (Injil Lukas, 14:26)

Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka kemari dan bunuhlah mereka di depan mataku. (Injil Lukas, 19:27)

3. H I N D U

 

“Bakar habis semua dan setiap bhuta dan lawan”. Yajurweda Putih I.7

“Bantailah para musuh yang menyerang kami”. Yajurweda Putih VIII.53

“Ya, para pelopor, burulah para lawan. Bantailah musuh-musuh sesuai dengan perintah Indra (Zat yang Maha Bercahaya). Remukkan para lawan, seperti serigala membantai biri-biri. Tanpa mengecualikan satu pun yang hidup”. Atharwaweda V.8.4

“Wahai engkau basmilah musuh”. Atharwaweda VI.88.3

“Potonglah (musuh itu)”. Rigweda VIII.40.6

“Wahai Manyu, robohkanlah musuh-musuh kami; bergeraklah maju serang mereka, lukai, bunuh, dan basmi mereka”. Rigweda X.84.3

“Engkau memotong dosa-dosa para pemuja-Mu sebagaimana memotong tubuh musuh-musuh-Mu”. Rigweda X.89.8

“Taklukkan musuh-musuh itu; keluarlah, bunuhlah mereka musuh-musuh yang terkenal itu; jangan biarkan salah seorang dari mereka lepas”. Atharwaweda III.19.8

“Potonglah tangan-tangan para lawan”. Atharwaweda VI.66.3

“Aku menolakmu manusia yang keluar dari rumah, saingan yang melawan (kami), dengan doa pengusiran; Indra (Zat yang Maha Bercahaya) telah menghancurkannya.

… , mendorongnya ke tempat paling jauh, sehingga dia tak bisa kembali.

… , sehingga dia tak dapat kembali, melalui waktu bertahun-tahun, begitu lama seperti matahari yang akan selalu di langit”. Atharwaweda VI.75.1-3

“Potonglah kaki dan tangan seorang pencuri sehingga dia tidak bisa hidup lebih lama”. Atharwaweda XIX.49.10

 

4. B U D D H A

 

Kitab Dhammapada, syair 294-295:

mātaraṁ pitaraṁ hantvā

rājāno dve ca khattiye

raṭṭham sānucaraṁ hantvā

anīgho yāti brāhmaṇo

(Setelah membantai ibu dan ayah serta dua orang kesatria; dan setelah menghancurkan negara bersama dengan para menterinya, maka seorang brahmana akan berjalan pergi tanpa kesedihan)

mātaraṁ pitaraṁ hantvā

rājāno dve ca soṭthiye

vejagghapañcamaṁ hantvā

anīgho yāti brāhmaṇo

(Setelah membantai ibu dan ayah serta dua raja; dan setelah menghancurkan lima jalan yang penuh bahaya, maka seorang brahmana akan berjalan tanpa kesedihan)

Amitayur-Dhyana Sutra:

Pada waktu itu, di kota Rajagraha, ada seorang Pangeran Calon pewaris tahta-kerajaan bernama Ajatasatru. Dia dihasut oleh komplotan Devadatta dan kawan-kawan, yang dengan kekerasan menangkap ayahnya Raja Bimbisara; …

… seketika itu juga dia (Pangeran Ajatasatru) mengacungkan pedangnya yang tajam, dan bermaksud membunuh ibunya. …

“Kami para menteri, O Baginda, pernah mendengar bahwa sejak permulaan kalpa terdapat beberapa raja lalim, bahkan sampai sejumlah delapan belas ribu orang, yang membunuh ayah mereka sendiri, karena mendambakan tahta kerajaan mereka, sebagaimana disebutkan di dalam Sastra Veda. Namun, kami belum pernah mendengar seseorang membunuh ibunya sendiri, betapa pun kejamnya dia.”

berkomentarlah dengan bijak, segala konsekuensi hukum ditanggung pemilik komentar, jadi berhati-hatilah sebelum berkomentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s