Opini member FDJHN Tentang Allopanisad

https://www.facebook.com/groups/178796685474409/doc/251473024873441/

silahkan berikan tanggapan kepada rekan rekan intelektual Hindu yang mengetahui lebih dalam mengenai Upanisad dan Allopanisad ini
karena sudah msuk keranah yang sangat kontroversial agar paling tidak jika ini tidak benar maka ada counter sebagai umpan balik agar umat tidak mengalami penyesatan dan ketersesatan

Shanti

Mohon dibaca ketentuan dan kesepakatan dibawah ini : Mari berdiskusi sehat. Group Diskusi Agama (DA) diharapkan bermanfaat untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar dapat dijadikan pedoman dalam m…
Kamis pukul 21:05 · SukaTidak Suka · · Berhenti LanggananBerlangganan
  • 3 orang menyukai ini.
    • Vedanta YogaBawa Chakep; mohon di konfirmasikan kepada rekan rekan yang memilki kapabilitas untuk membedah hal ini

      Kamis pukul 21:06 · SukaTidak Suka
    • Adi Putrha Sesananyimak…,

      Kamis pukul 21:09 melalui seluler · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yogamasih menunggu rekan rekan intelektual Hindu memberikan tanggapan karena saya pribadi jauh dari sempurna untuk pembahasan ini

      Kamis pukul 21:17 · SukaTidak Suka
    • Vedanta YogaDharma Raksaka
      Edy Luph Epik
      Candra Wigunamohon tanggapan

      Kamis pukul 21:25 · SukaTidak Suka
    • Bawa Chakep Waduh!!! Mohon bantuan pak Wyat Gniten, Tiwi Etika Pak Wayan Sukarma, pak Nyoman Kurniawan, pak Gede Wisma Giri,, Sudiana Nyoman Komang Eka Diana, dll,
      Mohon dibantu bos ane juga kagak ngerTi, hehehe….

      Kamis pukul 21:32 melalui seluler · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yogaini sudah berat kasusnya karena sudah msuk ke ranah yang paling dasar dari sastra Hindu yaitu Upanisad, jadi harus ada pembanding dan counter dari Allopanisad ini jika saja ini adalah upaya asimilasi ajarah Islam ke dalam Sastra Veda

      Kamis pukul 21:34 · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yogabisa di tag rekan bawa, saya tidak bisa mentag mereka saat ini

      Kamis pukul 21:35 · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yoga benarkah Upanisad ada sebanyak 200 atau 108
      Daftar 200 Upaniṣad yang dikodifikasi oleh Viśva Bandhu Śāstri di dalam “Vaidika Padānukrama Kośa” (edisi Lahore 1945)

      Kamis pukul 21:36 · SukaTidak Suka
    • Bawa ChakepSabar dulu nanti juga di komenin, hehehe…

      Kamis pukul 21:43 melalui seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Vedanta Yogamasukan informasi disini akan saya upayakan rangkum karena si oknum akan menerbitkan buku terkait Allopanisad ini

      Kamis pukul 21:45 · SukaTidak Suka
    • Dharma Raksakapseudo upanishad, alias upaishad semu.

      Kamis pukul 21:47 · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yogapaling tidak ada point point penting kenapa Allopanisad ini tidak masuk kedalam 108 Upanisad yang diakui

      Kamis pukul 21:48 · SukaTidak Suka
    • Dharma Raksakanah itu dia,,saya lgi nyari ebooknya,,tp gak ketemu2,,ckckck

      Kamis pukul 21:49 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Bawa ChakepUpanisad (Aksara Dewanagari: उपनिषद्, IAST: upaniṣad) termasuk dalam Sruti merupakan bagian dari Veda, disamping sastra-sastra Brahmana. Upanisad memuat ajaran filsafat, meditasi serta konsep ketuhanan.Upanisad disusun dalam jangka waktu yang panjang, upanisad yang tertua diantaranya Brhadaranyaka Upanisad dan Chandogya Upanisad, diperkirakan disusun pada abad ke delapan sebelum masehi. Merujuk pada Ashtadhyayi yang disusun oleh Maharsi Panini, jumlah upanisad yang ada sebanyak 900. Begitu pula Maharsi Patanjali menyatakan jumlah yang sama. Namun saat ini kebanyakan sudah musnah seiring dengan waktu.

      Kamis pukul 21:52 melalui seluler · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yogakok sepertinya dia keep sendiri asumsinya nanti malah meledak tidak karuan jadinya

      Kamis pukul 21:52 · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yoga ‎900 Upanisad?
      tambah referensi baru lagiwah wah tunggu pinih sepuh dan sedulur dulu agar lebih jelas

      Kamis pukul 21:53 · SukaTidak Suka
    • Vedanta YogaBawa Chakep; apakah semua Upanisad ditulis dengan huruf Devanagari?

      Kamis pukul 21:54 · SukaTidak Suka
    • Sudiana NyomanSaya juga tidak paham tapi dari internet saya pastekan mudah2an membantu : *************Allah Upanishad, atau Allopanishad, adalah sebuah buku yang diragukan kebenarannya dan pada mulanya diduga dari Atharvaveda dan diyakini ditulis pada masa pemerintahan Kaisar Mughal Akbar.Namun Swami Dayananda Saraswati dalam bukunya bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membuat jelas bahwa Allopanishad bukanlah bagian dari Upanishad. Buku itu bahkan tidak pernah muncul dalam Atharvaveda. Buku ini kemungkinan saja ditulis selama era Mughal (mungkin selama pemerintahan Akbar) zaman india di jajah Islam untuk mengaburkan ajaran Hindu.

      Kamis pukul 21:55 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Dharma Raksaka‎1008 upaniishad kalau gak salah..

      Kamis pukul 21:55 · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yoga‎1008?~_~!!!!!!!!

      Kamis pukul 21:57 · SukaTidak Suka
    • Dharma Raksakaungkin dari artikel ini akan ditemukan ‘benang merah’nyahttp://abdullah-ubaid.blogspot.com/2006/07/menembus-sekat-sekat-islam-dan-hindu.html

      abdullah-ubaid.blogspot.com

      Dunia sufi adalah dunia keseimbangan. Spiritualisme dan intelektualisme merupaka…n perantara ampuh untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dara Sikhoh telah membuktikan itu.Oleh Abdullah Ubaid Matraji“Siapakah nanti yang akan menggantikan singgasanaku ini?” pikir Shah Jehan suatu ketika. Ia adal…Lihat Selengkapnya
      Kamis pukul 21:57 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Sudiana Nyoman

      Contoh2 yang dijelaskan di alloupanisad dan menimbulkan pertentangan umat :1. Dewi Drupadi yang menjadi istri panca-Pandawa. Apakah berarti polyandry (seorang wanita bersuami lebih dari satu) direstui Tuhan
      2. Perang Bharatayuda, bolehkah s…eorang murid membunuh gurunya dengan alasan tertentu (Darmawangsa membunuh Bhagawan Drona), walaupun yang menjadi penengah atau hakim dalam persengkataan ini Sri Kresna (Avatara). Kasus yang sama, anak yang membunuh pamannya (Nakula sebagai panglima perang Pandawa, melawan Salya sebagai panglima perang Korawa)
      3. Pembalasan dendam yang kejam: Srikandi membunuh Rsi Bhisma, Drupadi bersumpah akan mandi dari darah Duryodana.
      4. Perzinahan antara Bhagawan Abyasa dengan Ambika yang melahirkan Dastarastra (menurunkan Korawa) dan Bhagawan Abyasa dengan Ambalika yang melahirkan Pandu (menurunkan Pandawa) dengan alasan: ‘Untuk mengembangkan keturunan’
      5. Kalau diingat Mahabharata adalah Itihasa yang juga bagian dari Kitab Suci Hindu, apakah agama Hindu memang mengajarkan hal-hal seperti itu? (polyandry, pembunuhan, balas dendam, zina, dll). JELAS MAU MENGADU DOMBA. Domba saja nggk mau di adu..kwkwkwkwkLihat Selengkapnya

      Kamis pukul 21:58 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Dharma Raksakapak @Sudiana bisa gak di share lebih banyak lagi tentang allopanishad yg ada bnyak pertentangannya??

      Kamis pukul 22:01 · SukaTidak Suka
    • Sudiana Nyoman Pak Dharma Raksaka@ Saya juga tau sedikit tentang ini, saya kira sama dengan isu Kalki Awatara adalah Muhammad. Jadi nggk usah diperdebatkan, semakin ditanggapi semakin hot beritanya kayak selebritis..he..he

      Kamis pukul 22:03 · SukaTidak Suka · 1 orangPan Dana menyukai ini.
    • Bawa Chakep

      Artikel Bali – Hindu & Adat BaliJUMLAH UPANISAD
      Posted by Ketut Adi on 2004-01-06 [ print artikel ini | dilihat 505 kali ]

      …Setelah Veda maka terdapat kitab-kitab Brahmana dan kitab-kitab Upanisad sebagai kitab-kitab suci agama Hindu. Kitab-kitab Brahmana dan kitab-kitab Upanisad merupakan bagian-bagian kitab suci Veda. Masing-masing Veda mempunyai kitab-kitab Brahmana dan Upanisad sendiri-sendiri.
      Salah satu kitab Brahmana yang terkenal ialah Satapatha Brahmana yang masuk bagian kitab Yajur Veda. Kitab ini diperkirakan orang mulai ada sekitar 1000 tahun sebelum Masehi dan merupakan buku pedoman untuk mengadakan upacara. Pada dasarnya kitab ini menguraikan sistem upacara sampai sekecil-kecilnya sehingga dengan demikian lebih banyak berkaitan dengan bentuk luar pelaksanaan hidup beragama dibandingkan dengan hidup kerohanian.

      Kitab-kitab Upanisad diperkirakan muncul setelah kitab-kitab Brahmana yaitu sekitar 800 tahun sebelum Masehi. Jumlahnya amat banyak, lebih dari 200 judul, namun Muktika Upanisad menerangkan jumlahnya 108 buah dan banyak di antaranya berasal dari jaman yang tidak terlalu tua. Upanisad-Upanisad tua dan penting ialah:

      Isa Upanisad
      Kena Upanisad
      Katha Upanisad
      Prasna Upanisad
      Mundaka Upanisad
      Mandukya Upanisad
      Taittiriya Upanisad
      Aitareya Upanisad
      Chandogya Upanisad
      Brhadaranyaka Upanisad
      Kausitaki Upanisad
      Maitrayaniya Upanisad dan ….
      Svetasvatara Upanisad.

      Kata Upanisad artinya duduk di bawah dekat guru. Kata ini erat hubungannya dengan sakhas yaitu kelompok orang yang mempelajari Veda. Pada sakhas itu duduk beberapa murid terpilih (dipilih berdasarkan kesetiannya pada guru dan kejujurannya) di bawah mengelilingi seorang guru. Apa-apa yang diajarkan oleh guru tersebut kemudian dikumpulkan menjadi kitab Upanisad. Karena sakhas itu banyak maka Upanisad itupun banyak pula jumlahnya.
      Dari sakhas yang banyak jumlahnya itu sebagian besar lenyap dalam perjalanan jaman, dan untuk masing-masing Veda tinggal memiliki beberapa sakhas dan Upanisad yang penting-penting saja.

      1 Rg Veda

      Aitareya Upanisad
      Kausitaki Upanisad
      Aitareyin

      Kausitakin

      2 Sama Veda

      Chandogya Upanisad
      Kena Upanisad
      Tandin

      Yaiminiya

      3 Yajur Veda

      Taittiriya Upanisad
      Svetasvatara Upanisad
      Brhadaranyaka Upanisad
      Isa Upanisad

      Taittiriyaka

      Vajasaneyin

      4 Atharva Veda

      Mundaka Upanisad
      Prasna Upanisad
      Mandukya Upanisad
      Narayana Upanisad

      sumber: babadbali.comLihat Selengkapnya

      Kamis pukul 22:03 melalui seluler · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
    • Vedanta Yogasemakin ada tambahan untuk dijadikan rangkuman

      Kamis pukul 22:07 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Dharma Raksaka http://en.wikipedia.org/wiki/Allopanishad

      en.wikipedia.org

      Allah Upanishad, or Allopanishad, is a book of dubious origin supposedly from At…harvaveda and believed to be written during Mughal Emperor Akbar’s reign.Lihat Selengkapnya
      Kamis pukul 22:10 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Dharma Raksaka http://kalyanchandra.in/2009/09/25/allopanishad/

      kalyanchandra.in

      Allopanishad is a pseudo upanishad which purportedly injected among valid upanis…hads. Sri Aurobindo and Dayananda Saraswati ruled out the validity of Allopanishad (ALLA+UPANISHAD) and claimed that this must have been written during Akbar regime when he started Din Illa-hi religion(mixture of Hinduis…Lihat Selengkapnya
      Kamis pukul 22:10 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Sudiana NyomanSebenarnya mudah dipahami kekeliruan cara pandang tetangga sebelah terhadap Hindu misalnya bagaimana orang nggk percaya REINKARNASI bisa paham dan percaya ada Avatara??. Aneh kan? tapi itulah ilmu COCOKLOGI. Apapun bisa dicocok-cocokkan demi mendapat penganut.

      Kamis pukul 22:11 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Dharma Raksakayach, ketahuan itu upanishad semu,,,http://www.aryasamajjamnagar.org/chapterfourteen.htm#79

      www.aryasamajjamnagar.org

      M. -Have you read the whole of the Atharva Veda? If yo…u have refer to Allopanishad. It is given there in plain words. Why do you then say that nothing is said in the Atharva Veda about the Mohamme…Lihat Selengkapnya
      Kamis pukul 22:15 · SukaTidak Suka
    • Kantha AdnyanaItu hanya kamuflase saja…..biarkan saja, mau mereka bilang apa. itu mencirikan mereka2 ga cerdas dalam pola pikir…….

      Kamis pukul 22:15 · SukaTidak Suka
    • Dewa Cakranegara

      wah…….terpancing deh…semua, hal ini sebenarnya sudah menjadi rahasia para cendikiawan eropa di abad 17 s/d 18 M, Reg weda telah diterjemahkan oleh ilmuwan inggris atas permintaan dewan gereja,dengan tujuan menyesatkan masyarakat Hindu… India agar lebih mudah dijajah dan dikonvensikan, nah dari terjemahan inilah kemudian dikembangkan lagi oleh kaum islam menggunakan sistem kitab /pengetahuan spiritual weda, tujuannya sama konvensi, namun tetap tidak berhasil, kemudian ajaran weda kembali disimpangkan di Indonesia oleh Wali songo dan ini cukup berhasil, dari fakta, Nabi muhamad adalah seorang buta hurup dan bangsa arab sendiri merupakan keturunan budak(encylopaedia britaninica dan islamia),arb mulai memiliki peradaban setelah dikuasai oleh Maha Raja India CANDRAGUPTA abad 58-415 SM beliau adalh pengikut setia Siwa, ada 7 kuil yg menjadi peninggalan beliau semua pengikut siwasidanta, salah satunya adalah Kaqbah yg dibangaun saat pemerintahan Vikramaditya, sedangkan kata allah berasal dari bahasa sansekerta yg dijadikan bahasa arab yg arti dasarnya adalah dewi Bulan, setelah berkembangnya ajaran islam maka bebrapa ayat weda mulai disadur dan diambil menjadi ayat Quran (prasasti dengan judul”SAYAR-UL-OKUL” disimpan diperpustakaan Turki, jadi jelas itu upanisad sesat, beliau yg disebut penulis adalah orang hindu yg sudah ditarik menjadi islam, sehingga upanisad yg ditulispun berasal dari terjemahan regweda yg sudah dikaburkan maknanya, dan yg pasti, sloka weda sruti semua merupakan pujian kepada Tuhan yg maha esa, satupun selokanya tidak ada berbentuk seperti ayat alquran, dan yg lebih lucu lagi candi borobudurpun diakui oleh alquraan persi kyai tengil dari indonesia, kita harus sepakat semua itu adalah dusta dan sesat.Lihat Selengkapnya
      Kamis pukul 22:22 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Kantha Adnyana Pak Dewa Cakranegara, muantap banget..lanjutkan pak…rahayu

      Kamis pukul 22:28 · SukaTidak Suka
    • Vedanta YogaDewa Cakranegara; suksma untuk masukannya pak dewa namun disini oknum ini sudah mempunyai rencana untuk menerbitkan sebuah buku terkai allopanisad ini, jadi cukup rawan andaikata kemudia buku ini menjadi semacam referensi acuan bagi umat non hindu terutama muslim untuk mengasimilasi ajaran Hinduadakah point point yang bisa menjadi penentang dari upanisad palsu ini

      Kamis pukul 22:33 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bawa ChakepUpanisad adalah kritisi at kajian utuk mematangkan pemahaman tentang veda it sendiri dan juga bagian dr veda sedangkan kata alloh tak ada dalam sastra veda,

      Kamis pukul 22:47 melalui seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Bawa ChakepDia mau bikin alloupanisad reprensinya darimana? Apa ada sumber upanisad yg memang berbahsa arab?? Xixixixixi… Sajaaan nak punyah! Kakakakaka….

      Kamis pukul 23:03 melalui seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Vedanta Yoga dia akan menerbitkan buku Allopanisad dari referensi yang katanya dari orang india malah saya diberikan emailnya
      tap tetap masih sangsi

      Kamis pukul 23:05 · SukaTidak Suka
    • Bawa ChakepAh sekane to!

      Kamis pukul 23:10 melalui seluler · SukaTidak Suka
    • Adi Putrha Sesanakumpulkan semua Komen2 ini Jadikan Dokumen Di DA…,^^

      Kemarin jam 6:59 melalui seluler · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Edy Luph Epikdia mau membuat kita kebingungan,dengan cara memberikan email seorang dari india,coba dech kalau yg punya email dari arab,,pasti kita langsung ga bakal percaya..hehehe

      Kemarin jam 10:06 · SukaTidak Suka
    • Sukono Kardiminheheheh mas edy kalo mailnya dari mbah kardimin gmn yah kira kira heheheeh

      Kemarin jam 10:19 · Tidak SukaSuka · 1 orangAnda menyukai ini.
    • Edy Luph Epik kang Sukono Kardimin,,lain lagi ceritanya tooh..hehe

      Kemarin jam 10:20 · SukaTidak Suka
    • Sukono Kardiminkikikikikiki lanjutin nyukur jenggotnya mas

      Kemarin jam 10:21 · SukaTidak Suka
    • Edy Luph Epikok mas,,hehehe.lanjuttt

      Kemarin jam 10:22 · SukaTidak Suka
    • Wyat Gniten

      Muktika Upanisad adalah Upanisad terakhir yaitu urutan ke-108, di mana di dalam Upanisad tersebut telah di kanonisasi bahwa 107 + Muntika adalah Upanisad sahih sebagai rujukan mempelajari Upanisad. Dalam sampradaya dan sekolah2 Advaita juga… mengkanonisasi 108 Upanisad ini sebagai Rujukan Umat Hindu di dalam mempelajari Veda. Jadi di luar tsb, perlu di pertanyaakan keberadaannya, di uji kebenarannya. Memang banyak( konon) upanisad itu bermunculan di India dan itu banyak motifnya. Nah Islam dan Kristen yg menjajah India melihat situasi ini pun ikut-ikutan membuat upanisad. Dari Muslim terbitlah Allopanisad dan dari Kristen adalah KristopanisadLihat Selengkapnya
      Kemarin jam 11:29 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Vedanta Yogajadi mari cari sumber sumber yang bisa mementahkan klaim kebenaran dari Allopanisad ini

      Kemarin jam 11:34 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Dharma Raksakasya dkrimin stanza2 allopanishad ini oleh sng penulis, stlah sya bca, sngat jauh dari kreadibilitas, sngat meragukan, sejak kapan veda shruti atharva veda ada kata muhamadnya?ckckck

      Kemarin jam 11:37 melalui seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Wyn CoeklexzDharma Raksaka, biasalah plagiat,

      Kemarin jam 11:42 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Vedanta YogaDharma Raksaka; nah itu dia, satu saja dapat ditemukan kekeliruannya maka semua klaim tersbut akan runtuh dengan sendirinya, terutama terkait kata `mahamada` ini, jadi harus jelas bagian mantram yang mana dari Atharveveda yang jadi acuan.

      Kemarin jam 11:46 · SukaTidak Suka
    • Edy Luph Epikmending buat buku juga,,judulnya ” upanisad plintiran” ..(hehehe)

      Kemarin jam 11:47 · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yogaatau `Bantahan Klaim Allopanisad` bagaimana?

      Kemarin jam 11:49 · SukaTidak Suka
    • Dharma Raksakaada sloka dlm allopanishad ini yg bunyinya ‘pujalah alla,hanya dia, hanya dia dsb’ sngat brtntangan dgn Veda shruti it sndiri, seperti dlm rg veda dgn sashanti ekam sat vipra bahuda vadanti. Atau bwt sja doc’a dsn, mungkn sdr vedanta bsa membnt sya membuat doc nya dsn, mklum sy ol pke hp😀

      Kemarin jam 11:51 melalui seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Edy Luph EpikVedanta Yoga: boleh juga,,tapi sebenarnya buku allopanisad itu bakalan mubazir juga bahkan hanya lewat bantahan di situs2 jejaring sosial saja..ya singkatnya tanpa bikin buku bantahan juga bisa..hehe.sementara si abi itu saya rasa bingung tentang agamanya sendiri,,mana ada islam seperti dia..he

      Kemarin jam 11:56 · SukaTidak Suka
    • Bawa Chakep

      CoPasSruti dan Smerti

      AYAH, APAKAH KITAB-KITAB SUCI HINDU?

      Anakku, Kitab-kitab suci Hindu secara luas dalam dikelompokkan dalam 2 golongan. Pertama adalah Sruti (“itu yang didengar”) dan yang lain adalah Smriti (“itu yang diingat”). Kedua kelompok kitab-kitab suci ini dianggap “wahyu Tuhan” sama seperti semua kitab-kitab Injil dianggap mendapat inspirasi Tuhan (God-inspired).

      KITAB MANA YANG PALING SUCI?

      Kitab-kitab itu disebut Weda-Weda, yang berarti “pengetahuan”.Ada empat Weda dan mereka menyatakan untuk mengajari manusia kebenaran tertinggi dan dapat menuntun manusia kepada Tuhan. Tiga Weda pertama disebut Tri Weda.

      Rig Weda (Weda Nyanyian Pujaan, Weda of Hymns) terdiri dari 1028 nyanyian pujaan atau hymne (dalam sepuluh buku) kepada para Dewa, seperti Indra dan Agni.

      Yajur Weda (Weda of Liturgy) berkaitan dengan pengetahuan upacara. Weda ini berdasarkan pada Rig Weda. Dia berisi aturan yang menjelaskan bagaimana melaksanakan semua upakara. Ia terdiri dari prosa dan puisi. Weda ini sesungguhnya buku untuk pendeta, bahkan menjelaskan aturan membuat sebuah altar. Pengorbanan (upacara) adalah satu bagian penting dari Weda ini.

      Sama Weda (Weda of Music) berkaitan dengan pengetahuan pengucapan mantra (chants). “Sama” artinya “melodi”. Musik klasik India berasal dari Sama Weda. Weda ini terdiri dari 1549 sloka. Weda ini juga berdasar kepada Rig Weda, dan sloka dari Sama Weda dinyanyikan oleh para Reshi ketika upacara korban Soma dilakukan. Weda ini mirip dengan Psalms (Mazmur) dari agama Kristen. Sampai ukuran tertentu banyak dari sloka Weda ini merupakan pengulangan dari Rig Weda, dinyanyikan dalam bentuk melodi. Mantra dalam Weda ini ditujukan kepada Soma (bulan), Agni (api) dan Indra (Tuhan surga). Satu kitab pelengkap dari Sama Weda adalah Chandogya Upanishad.

      Atharva Weda berisi pengetahuan yang diberikan oleh Maharesi Atharwa. Ia terdiri dari 731 hymne dengan 6000 ayat. Beberapa orang mengatakan bahwa Atharwa bukan menyusun kitab ini tapi beberapa pendeta kepala dalam upacara yang berkaitan dengannya. Atharwa yang disebut dalam Rig Weda, dianggap sebagai putra pertama dari Tuhan Brahma, Tuhan Pencipta (God of Creation). Atharwa Weda juga dikenal dengan Brahma Weda sebab ia digunakan sebagai manual oleh pendeta kepala upacara dan para Brahmin. Kitab ini berisi rumusan-rumusan magis dan jampi-jampi.

      Sejumlah besar Upanishad sebenarnya berasal dari Atharwa Weda. Percaya atau tidak, banyak dari mantra pengusir setan (exorcisme) dalam agama Hindu berasal dari Weda ini. Agak mengejutkan catatan-catatan tertua dari Weda-Weda tidak berbicara mengenai Weda ini. Tidak ada referensi mengenai Weda ini dan Chandogya Upanishad atau teks-teks Brahmana atau Jataka atau Bhagawad Gita. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa Atharwa Weda tidak ada ketika Tri Weda disusun.

      APA ISI MASING-MASING WEDA ITU?

      Weda-Weda pada umumnya berisi :
      1. Samhita. Teks dasar untuk himne, formula dan japa (chants).
      2. Brahmana. Petunjuk pelaksanaan upacara
      3. Aranyaka. Berisi Mantra dan tafsir dari upacara-upacara.
      4. Upanishad. Ini adalah sejumlah teks yang mengungkapkan kebenaran-kebenaran spiritual tertinggi dan berbagai anjuran mengenai cara untuk mencapai atau mengejawantahkan kebenaran itu. Kata Upanishad terdiri dari Upa (dekat), Ni (dibawah, down) dan Shad (duduk, to sit). Suatu Upanishad adalah sebuah pengajaran oleh seorang Guru ketika para murid duduk sangat dekat sehingga tidak seorang lain pun dapat nguping ajaran-ajaran tersebut.

      ADA BERAPA BANYAK UPANISHAD?

      Ada lebih dari 108 buku Upanishad. Tiga belas Upanishad yang paling penting adalah : Isa, Kena, Katha, Prasna, Mundaka, Mandukya, Aitereya, Taittirya, Chandogya, Brihad-Aranyaka, Kausitaki, Shvetasvatara dan Maitri. Beberapa dari Upanishad dinamai menurut Reshi besar yang ditokohkan atau digambarkan dalam Upanishad tersebut. Para Reshi besar itu adalah Mandukya, Shvetasvatara, Kaushitaki dan Maitri. Upanishad yang lain diberi nama berdasarkan kata pertama dari kitab itu.

      Kita juga memiliki sebelas Yoga Upanishad yang lebih kecil. Yang paling penting dari Upanishad ini adalah Yogatattwa, Dhyanabindu, dan Nadabindu. Yogattava berisi semua rincian mengenai praktik yoga. Nadabindu, seperti digambarkan oleh namanya, berkaitan dengan phenomena indra pendengaran yang menyertai latihan-latihan yoga tertentu. Dhyanabindu berkaitan dengan suku kata AUM dan dengan banyak wahyu mistik,Lihat Selengkapnya

      Kemarin jam 12:07 melalui seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Adi Putrha Sesana

      INI YANG PALING ANEH DAN LUCU…,The Perfect, the Highest, the Best, and the Greatest is Allā,
      Allā is the Creator Supreme (the Infinite);
      Mahamada is the Messenger of Allā,
      …The chiefest or the most outstanding (among all prophets), the future final (prophet),
      The pride of Allā is worthy of fear, none but Allā, Allā alone.

      Zat yang Mahasempurna, Mahatinggi, Mahaagung, dan Mahabesar ialah Allā,
      Allā-lah devatā tertinggi/teragung (Sang Maha Pencipta);
      Mahamada adalah utusan Allā, (ṛsi) teragung,
      (Utusan) terakhir yang akan datang,
      Tiada satu pun yang layak ditakuti kecuali Allā, hanya Allā,
      Allā seorang yang berhak menyombongkan (membanggakan) diri-Nya.Lihat Selengkapnya

      Kemarin jam 12:48 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Kantha AdnyanaWahhh semua saudara kita mantap ne…silahkan bikin bantahan biar mereka tau kita juga bisa…rahayu

      Kemarin jam 12:49 · Tidak SukaSuka · 1 orangAnda menyukai ini.
    • Edy Luph EpikAdi Putrha Sesana: sejak kapan ya ada upanisad se narsis itu? kok ‘Allā seorang yang berhak menyombongkan (membanggakan) diri-Nya’ ?? hehehehe

      Kemarin jam 12:53 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Adi Putrha Sesanasudah tidak perlu di ragukan lagi Allopanisad adalah palsu…,(:

      23 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Sukono Kardiminheheheheh makanya pilih kitab yang ga bisa di copy hehehe kaya pejati mana berani mereka meniru bisa senjata makn tuhan mereka tuuhh kalo namanya kitab tulis yo dari dulu bikin masalah

      23 jam yang lalu · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Nyairatu CengcengkebesBener mas Sukono Kardimin. . .sing paling mantep yoo sing ora iso dibaca dan dilihat. . .susah dijiplak apalagi dicuri orang. . . .xixixixixi

      22 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Sukono Kardiminnyai @ apa lagi pake anglo wahhh mantep kalo mau ngopi langsung tinggal bawa panci isi air kwkwkkw

      22 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Adi Putrha Sesanatapi kitap pejati itu sulit di baca,jawabanya nak mula keto,xixixixi…,

      22 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Sukono Kardiminkang adi putra @ heheheh makanya ada tapinya itulah pejati sampe detik ini tidak bisa ada yng mengaku aku selain hindu hehehehe mantab too …wes lah ga usah mikirin nak mulo ketu yg penthing maju trs ynag mulo kethu kasih saja prasadam tipat kelan dan senengnya minta ampun kok hehehehhe

      21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Wyat Gniten Titip pesan, coba kasi link ini , apa itu arti sesungguhnya Mahamada : http://bhavishyapuran.blogspot.com/2007/07/bhavishya-purana-prediction-of.htmlSelamat berdiskusi di sana…. wkwkwkwk😉

      20 jam yang lalu · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Edy Luph EpikWyat Gniten: sekalian mampir aja kesana yuk pak..hehehe

      20 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Vedanta Yogawah harus dirangkun ini

      20 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Wyat GnitenEdy Luph Epikngak ah😀.. …saya jaga disini saja, saya puas melihat sdr2ku membantai Abi Abdillah Al-Hamzani ….xixixixi. Mantaf bro …

      20 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Edy Luph EpikWyat Gniten: ahh,,belum ada teriak veteran..belum merdeka.:D

      20 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Wayan ArtamaMaha Rsinya siapa ya ?

      13 jam yang lalu melalui seluler · Suka

6 thoughts on “Opini member FDJHN Tentang Allopanisad

  1. Semua jawaban anda sudah terjawab di Google dan wikipedia, coba buka situs:

    http://en.wikipedia.org/wiki/Allopanishad

    http://id.wikipedia.org/wiki/Allopanishad_%28mantra/pujaan_dari_Atharva_Veda%29

    http://www.indiadivine.org/audarya/advaita-vedanta/531084-radha-ji.html

    http://www.astroveda.wikidot.com/vedic-agni-illa

    Dan, di situs ini kita bisa banyak belajar dari “penilaian” tentang Allopanishad yang diberikan oleh Raja Shyama Sankar Ray Bahadur dalam situs:

    http://www.theosociety.org/pasadena/theosoph/theos12b.htm

  2. Di antara Susastra Hindu, Allopaniṣad (Allā-Upaniṣad) adalah kitab Hindu yang paling kontroversial. Pro dan kontra mengenai otoritasnya dalam pustaka suci Veda terus berlangsung sepanjang sejarah, yaitu sejak era Swami Dayananda Saraswati hingga sekarang. Para cendekiawan dan rohaniwan Hindu dari berbagai zaman terbagi dua dalam memandang keabsahannya, ada yang menolak dan ada pula yang menerima. Penolakan yang terjadi atas keotentikannya–dalam Susastra Hindu–adalah disebabkan isinya yang begitu identik dengan keyakinan para Musalman (umat Muslim). Allopaniṣad mengajarkan tentang tauhid (keesaan Tuhan), juga merupakan satu-satunya kitab Upaniṣad–1200 tahun lebih awal dari Bhaviṣya Purāna–yang menyebutkan nama seorang saktya aveshya avatara bernama Mahamada.

    Allopaniṣad adalah Upaniṣad Hindu yang sarat kontroversi tidak hanya karena nama atau judulnya, tetapi juga muatan atau isinya yang identik dengan ajaran agama Islam. Eksistensinya secara jelas diketahui dari catatan sejarah abad keenam belas masehi “The Muntakhabu-’rūkh”, dan dibenarkan oleh leksikon-leksikon Sanskerta abad kesembilan belas masehi seperti “Shabda-Kalpadrum” dan “Vāchaspatya”.
    Fakta tersebut semakin dipertegas dengan pernyataan yang terlontar dari mulut seorang pemimpin spiritual dan politikus India bernama Mohandas Karamchand Gāndhī (1869-1948) yang dalam pidatonya pernah berkata, “Tidak seorang pun yang mengaku beragama Hindu dapat beralasan untuk menolak atau keberatan, kita mempunyai 108 Upaniṣad, dan Allopaniṣad adalah salah satu di antaranya”. (Vol 94 of The Collected Works of Mahatma Gandhi”, page 234)
    Tetapi, pernyataan Gāndhī tentang Allopaniṣad itu sangat jauh berseberangan dengan 3 cendekiawan Hindu lainnya: Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), Rajendralala Mitra (1824-1891), dan Sri Aurobindo (1872-1950). Bahkan, Gāndhī juga menyelisihi keterangan yang terdapat dalam Muktikopaniṣad.

    Benarkah Allopaniṣad adalah Upaniṣad palsu yang dikarang pada era Dinasti Mughal, ataukah justru merupakan bagian dari Susastra Hindu yang dianggap apokrifa (tidak otentik) karena selaras dengan ajaran agama lain (agama Islam)?

    Tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkap fakta tentang keotentikan Allopaniṣad sebagai kitab Hindu, sekaligus menerjemahkan teks Sanskertanya kedalam bahasa Indonesia.

    Dari semua versi Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad) yang eksis, hanya di dalam “Shabda-Kalpadrum”nya Rādhā Kānta Deva ditemukan teks Allaḥ Sūkta yang termurni, teruji, dan terbukti keotentikannya. Teks Allopaniṣad yang termaktub di dalam ‘Satyarth Prakash’nya Swami Dayananda Saraswati, dalam ‘Yantra–Mantra Tantra and Occult Sciences’nya Bhojraj Dwivedi, dalam ‘Hindi Vishva Kosh’nya Nagendra Nath Vasu, dan dalam ‘Un-published Upanishads’nya para pandit dari perpustakaan Adyar (Madras), tidak satu pun yang sama dengan teks Allopaniṣadnya Raja Rādhā Kānta Deva Bahadur. Kemungkinan besar, teks Allopaniṣad yang dikutip oleh Rādhā Kānta Deva di dalam “Shabda-Kalpadrum” adalah salinan (kopian) dari palm-leaf manuscript yang kini telah hilang dari perpustakaan Adyar di Madras (India), atau dari terjemahan Atharvaveda Samhitā abad ke-16 Masehi dalam bahasa Persia yang juga telah lenyap tanpa jejak.

    ‘Abdu-’l-Qādir Ibn-i-Mulūk Shāh (al-Badāoni) “masuk” ke istana Maharaja Akbar pada tahun 1574 Masehi, dan setahun kemudian dia mendapat perintah dari sang Kaisar Mughal tersebut untuk menerjemahkan Atharvaveda dari bahasa Sanskerta kedalam bahasa Persia. Di tahun 1575 Masehi, seorang Brāhmana terpelajar dari dataran tinggi Dekan bernama Pandit Bhāvana datang berkunjung ke istana Maharaja Akbar di Delhi. Dan dalam penerjemahan teks Sanskerta Atharvaveda kedalam bahasa Persia, al-Badāoni dibantu oleh Pandit Bhāvana.

    Kata ‘Dekan’ berhubungan dengan dataran tinggi Dekan di selatan India yang meliputi negara bagian Maharashtra, Andhra Pradesh, dan Karnataka. Nama Dekan berasal dari bahasa Prakrit ‘dakkhin’, dan ‘dakkhin’ sendiri berasal dari bahasa Sanskerta ‘daksina’, yang berarti ‘Selatan’. Di Pakistan dan wilayah kaum Muslimin di India Utara, istilah Dekan bermakna wilayah sekitar Hyderabad–ibukota Andhra Pradesh–yakni Dakhni, sebuah kata asli bahasa Urdu yang masih bertahan. Di Pakistan, ada kota dengan nama yang sama, dan untuk membedakan dua Hyderabad maka disebutkan Dekan Hyderabad.

    Kolaborasi 2 (dua) ulama cendekia berbeda agama tersebut tidak mampu merampungkan/menuntaskan penerjemahan teks Sanskerta Atharvaveda kedalam bahasa Persia. Kemudian, tugas tersebut diserahkan kepada sang cendekiawan terkemuka kerajaan Mughal bernama al-Faizi (1547-1595), tetapi juga tidak diselesaikan. Akhirnya, tugas penerjemahan teks Sanskerta Atharvaveda kedalam bahasa Persia dialihkan kepada seorang ulama cendekia dan Hakim Agung kerajaan Mughal di Gujarat (Sadr of Gujarat), yaitu Hājī Ibrāhīm Sirhindī. Hājī Ibrāhīm Sirhindī menjabat “Sadr of Gujarat” pada tahun 1578, tetapi kemudian dihukum penjara di benteng Ranthambor pada tahun 1584 karena sejumlah kebijakannya yang dianggap merugikan rakyat semasa menjabat “Sadr of Gujarat”.

    Upanisad-Upanisad dari Atharvaveda–semuanya–adalah bagian yang terpisah/berdiri sendiri kecuali Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad). Berdasarkan kitab “The Muntakhabu-’rūkh”nya al-Badāoni, diketahui bahwa Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad) adalah bagian dari Samhitā, yakni sebuah sūkta Atharvaveda Samhitā. Keterangannya al-Badāoni tersebut juga dibenarkan oleh Rādhā Kānta Deva di dalam “Shabda-Kalpadrum” dan Pandit Tārānātha Tarkavācaspati Bhattācārya di dalam “Vāchaspatya”, bahwa Allasūkta adalah Sūkta Atharvaṇa-Veda.

    Mantra-mantra Atharvaveda diperoleh oleh mahaṛsi bernama Atharvan. Kitab Veda ini terdiri dari berbagai macam mantram menunjukkan untuk mengusir kejahatan dan kehidupan yang sulit dan juga untuk menghancurkan musuh-musuh. Mantram-mantram Atharvaveda berbentuk prosa di samping juga berbentuk puisi. Di dalam kitab Atharvaveda kita menemukan mantra-mantra devatā yang tidak dijumpai dalam kitab suci Veda yang lain.

    Allaḥ Sūkta (Allopaniṣad) memang tidak termaktub dalam Śaunakīya Saṁhitā, Paippalāda Saṁhitā (manuskrip Oriya), Caraṇavyūha, Dīpikā, dan Muktikopaniṣad, tetapi ada fakta lain yang mengisyaratkan bahwa Allaḥ Sūkta–sesungguhnya–adalah bagian dari Atharvaveda Saṁhitā. Di dalam teks Atharvaveda Śaunakīya Śākhā, Kānda VII, termaktub sebuah sūkta yang khusus memuji Tuhan yang Mahaesa dengan menggunakan salah satu asmā (nama)-Nya, yaitu Idā-Sūkta (Sūkta 27). Sejumlah pakar Sanskerta yang tersohor dan beberapa kamus ensiklopedi Sanskerta yang termasyhur menyatakan bahwa kata Sanskerta Veda seperti Idā/Ilā/Ilāḥ dan Allā/Allaḥ bersinonim dengan Ilāh dan Allāh dalam bahasa Arab, yakni merujuk kepada Parameśvara atau Penguasa Tertinggi (Inggris: The Supreme God). Kekhususan dan kekhasan sūkta tersebut menunjukkan bahwa Atharvaveda Saṁhitā–pada hakikatnya–memiliki sebuah sūkta yang disebut Allaḥ Sūkta.

    Allopaniṣad ditulis/disusun ulang kembali oleh Swami Dayananda Saraswati di dalam “Satyarthaprakash”, edisi revisi kedua yang diterbitkan pada tahun 1882. Tetapi, teks Allopaniṣad di dalam “Satyarthaprakash” yang diterbitkan oleh Srimati Paropakarini Sabha di Ajmer pada tahun 1983, dan teks Allopaniṣad di dalam “An English translation of the Satyarthaprakash” (1908) terbitan Virganand Press Lahore, redaksionalnya tidak konsisten.
    Cendekiawan Hindu abad kesembilan belas masehi yang menolak otoritas Allopaniṣad, seperti Rajendralala Mitra dan Sri Aurobindo; dan cendekiawan Hindu masa kini yang menulis ulang kembali teks Allopaniṣad, seperti Bhojraj Dwivedi dan Nagendra Nath Vasu, semuanya merujuk kepada versi Allopaniṣad yang termaktub di dalam “Satyarthaprakash”. Padahal, teks Allopaniṣad versi “Satyarthaprakash” sungguh berbeda redaksionalnya dengan teks Allopaniṣad di dalam Shabda-Kalpadrum; juga pernyataan Swami Dayananda Saraswati tentang Allopaniṣad sungguh menyelisihi para pendahulunya seperti Rādhā Kānta Deva, Tārānātha Tarkavācaspati Bhattācārya, Raja Vijayagovinda Sinha dari Purnia, Maharaja Madanamohana dari Vishnupura, Pandit Radhakrishna dari istana Maharaja Ranajita Sinha, dan Pandit Vitthala Sastri dari “Benares College”, yang mengakui/menerima keotentikan teks Allopaniṣad di dalam Shabda-Kalpadrum.

    Di antara semua teks Allopaniṣad yang eksis di muka bumi, teks Allopaniṣad di dalam ‘Un-published Upanishads’nya C. Kunhan Raja–yang disusun/ditulis ulang oleh para pandit dari perpustakaan Adyar (Madras)–adalah yang paling kontradiktif (bertentangan) dengan teks Allopaniṣadnya Rādhā Kānta Deva.

    Restorasi teks Sanskerta Allopaniṣad dalam Shabda-Kalpadrum dan transliterasinya

    “AUM asmallāṁ ille mitrāvaruṇo divyāni dhatte, ilalle varuṇo rājā punar daduḥ. hayāmi mitro illāṁ illalleti illāllāṁ varuṇo mitro tejakāmāḥ, hovāram indro hotāram indro māhā surindrāḥ. allo jyeṣṭhaṁ śreṣṭhaṁ paramaṁ pūrṇaṁ brahmāṇam allāṁ, allo rasura mahamada rakaṁ varasya allo allāṁ ādallāvukamekakaṁ. allāṁ vukaṁ, nikhātakaṁ. allo yajñe na huta hutvaḥ, allā sūryya candra sarvva nakshatrāḥ. allo ṛsīṇāṁ sadivyā indrāya pūrvvaṁ māyā paramanta antarikshāḥ, allo ṣṭathivyā antarikshaṁ viśvarūpaṁ divyāni dhatte illalle varuṇo rājā punar daduḥ. illā kavara illā kavara illalleti illāllāḥ illā illallā anādi svarūpā atharvvaṇo śākhāṁ HRŪM HRĪM janāt paśūt siñhāt jalacarāt adṛṣṭaṁ KURU-KURU PHAṬ, asurasaṁ hāriṇīṁ HUM allo rasura mahamada rakaṁ varasya allo allāṁ illalleti illallaḥ.” ity ātharvvaṇa sūktaṁ.

    Meskipun memiliki kemiripan bunyi dengan kata Ilāh atau Allāh dalam bahasa Arab, kata Allā/Allaḥ atau Īlaḥ/Ilāḥ adalah murni berasal dari bahasa Sanskerta Veda dan termasuk dalam kelompok kata-kata (istilah) Sanskerta kuno.
    Meskipun memiliki kemiripan bunyi dengan kata Arab “Muhammad”, kata “Mahamada” atau “Mahamat” adalah juga murni merupakan istilah atau nama Sanskerta. Kata Sanskerta “Mahamada” atau “Mahamat” adalah proper noun (nama diri) dan merupakan gabungan dari dua kata Sanskerta, yaitu “maha” + “mada”.

    Salah satu keunikan bahasa Sanskerta adalah bahwa setiap kata bisa mempunyai lebih dari satu arti (makna).
    Kata Sanskerta “Allā” dapat bermakna seorang ibu, Parāśakti, Īśvara, Paramātmā, dan Parameśvara atau Paramātma Devatāyām.
    Kata Sanskerta “maha” bermakna agung, besar, hebat, kuat, dan berlimpah-limpah atau berlebih-lebih. Sedangkan, kata Sanskerta “mada” bermakna kegembiraan, keriangan, keriaan (sukacita), kemabukan, dan segala sesuatu yang mempesona (indah atau rupawan). Jadi, kata Sanskerta “mada” mengandung 4 arti/makna bernilai rasa (konotasi) positif dan 1 arti/makna bernilai rasa (konotasi) negatif.
    Di dalam sejumlah leksikon Sanskerta-Inggris, baik dari era Monier Monier-Williams hingga sekarang, kata Sanskerta “Mahamada” ditafsirkan menjadi “kemabukan yang besar atau hebat”. Padahal, terdapat sebuah kata Sanskerta yang memiliki kemiripan bunyi dan bentuk luarnya dengan kata “Mahamada”, yaitu “Mahamat”. Kata Sanskerta “Mahamat” ditafsirkan dalam kamus A Sanskrit-English Dictionary-nya Monier Monier-Williams, halaman 794, sebagai nama seorang resi agung (a great sage) atau yang memiliki keluhuran/kemuliaan/kedudukan agung (terpuji).
    Jika dikembalikan pada arti (makna) sebenarnya, kata Sanskerta “Mahamada” adalah bermakna ‘sukacita yang besar, keindahan yang hebat/agung’. Sehingga, dapat dipahami bahwa sang resi pemilik nama “Mahamada”–pastinya–adalah seorang pembawa kabar gembira (sukacita yang hebat), memiliki pesona (keindahan) lahir maupun batin yang luar biasa.

    Penafsiran itu sesuai dengan maksud Veda sendiri yang memberi gelar di depan nama sang resi, yaitu “sura” (Allopanisad) dan “acharya” (Bhavishya Purana). Kedua title (julukan) tersebut tidaklah bernilai rasa (konotasi) negatif, melainkan bernilai rasa (konotasi) positif.

    Pandit Rādhā Kānta Deva atau “Raja Bahadur” (1783-1867), di dalam Shabda-Kalpadrum, dan pandit Tārānātha Tarkavācaspati Bhattācārya (1812-1885), di dalam Vāchaspatya, menyatakan bahwa Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad) adalah Ādi Sūkta (himne pertama) di dalam Atharvaveda Samhitā dan merupakan sūkta Veda yang termasyhur.

    Mengenai kemasyhurannya tidaklah diragukan, tetapi yang menjadi “pertanyaan besar” adalah ketiadaannya di dalam teks Atharvaveda Samhitā yang eksis, yaitu Śaunakīya Samhitā dan Paippalāda Samhitā. Meski demikian, Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad)-ternyata-tidak hanya terpelihara dalam bentuk manuskrip-manuskrip di tangan para Saṁnyāsin, tetapi juga hidup dalam bentuk lisan dengan pembacaanya yang dilakukan oleh para Brāhmana di India Utara pada perayaan Vasantotsava (Festival Musim Semi) atau pada waktu ketika bacaan terpilih dari keempat Veda harus dibacakan di rumah seorang Dwija (Pandita).

    Ada banyak versi penerjemahan Allopanisad kedalam bahasa Inggris. Dimulai dari terjemahan Allopanisad-nya Rajendralala Mitra, kemudian terjemahannya R. Ananthakrishan Sastri, dan terjemahannya Nagendra Nath Vasu, berbeda redaksional satu sama lain. Ini dikarenakan teks Allopanisad dalam bahasa Sanskerta–dari berbagai sumber–yang redaksionalnya juga tidak konsisten.
    Keotentikan Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad), versi Raja Rādhā Kānta Deva Bahadur di dalam Shabda-Kalpadrum, mendapat pengakuan dari sejumlah Sanatani Hindu ternama. Sedangkan, Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad) yang keotentikannya diragukan-sesungguhnya-adalah versi dari Swami Dayananda Saraswati (1824-1883) di dalam edisi revisi kedua “Satyarthaprakash” yang diterbitkan pada tahun 1882, dan versi inilah yang “dipertanyakan” validitasnya oleh para Sanatani Hindu maupun non Hindu sejak era Swamiji hingga sekarang.

    Semua Upaniṣad dari Atharvaveda–yang masih eksis sampai sekarang–sama sekali bukan merupakan bagian dari teks-teks Brāhmana atau Āraṇyaka dari Atharvaveda Saṁhitā. Upaniṣad-Upaniṣad dari Atharvaveda adalah bagian yang terpisah atau berdiri sendiri, berasal dari zaman yang berbeda, dan mempunyai lebih dari satu pengarang.
    Serupa dengan Nīlarudra Upaniṣad (Nilārudropaniṣad) dari Paippalāda Saṁhitā yang hanya termaktub dalam Caraṇavyūha dan Dīpikā, tetapi tidak termaktub dalam koleksi 108-nya Muktikā Upaniṣad (Muktikopaniṣad), Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad pun hanya ditemukan eksis di luar atau terpisah/berdiri sendiri dari Muktikopaniṣad, Caraṇavyūha, dan Dīpikā.

    Pandit Tārānātha Tarkavācaspati Bhattācārya (1812-1885) menuliskan di dalam leksikon terotentik yang memuat semua kosakata Sanskerta kuno, yaitu Vāchaspatya, bahwa Allaḥ Sūkta adalah Ādi Sūkta (Sūkta Pertama) dalam Atharvaveda Saṁhitā, dan merupakan sebuah sūkta Veda yang terkenal/termasyhur.
    Pandit Rādhā Kānta Deva di dalam ‘Shabda-Kalpadrum’ juga menuliskan hal yang sama bahwa Allopaniṣad adalah (Sūkta) yang Pertama dalam Atharvaveda Saṁhitā dan merupakan sūkta Veda yang terkenal/termasyhur.

    Bábu Harischandra dari Benares memiliki sebuah manuskrip yang memuat judul Allā-Upaniṣad (Allaḥ Sūkta), dan manuskrip tersebut menyatakan bahwa Allā-Upaniṣad adalah sebuah Sūkta (himne) dari Paippalāda Saṁhitā.
    Teks Atharvaveda Paippalāda Śākhā yang diketahui eksis hingga hari ini adalah berasal dari 2 versi, yaitu versi manuskrip Kashmir (Śāradā manuscript) dan versi manuskrip Orissa (Oriya manuscript). Keutuhan teks Atharvaveda Paippalāda Śākhā (versi manuskrip Orissa) dari abad ke-17 masehi, yang ditemukan pada tahun 1959 oleh Profesor Durgamohan Bhattacharyya (wafat tahun 1965), masih terpelihara hingga hari ini.
    Senasib dengan teks Ṛgveda Bāṣkala Śākhā yang kini hanya tinggal fragmen-fragmennya saja, teks Atharvaveda Paippalāda Śākhā (versi manuskrip Kashmir) dari abad ke-16 masehi sudah tidak utuh (cacat)–terutama bagian awalnya–sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1875 oleh George Buhler dengan bantuan seorang Pandit ternama dari Kashmir bernama Pandit Keshav Bhatt Shastri; manuskrip Śāradā tersebut kemudian berpindah tangan atau dimiliki oleh Rudolph von Roth, dan akhirnya tersimpan atau berada di Universitas Tubingen (Jerman) sampai sekarang.
    Durgamohan Bhattacharyya, dalam Paippalādasaṃhitā of the Atharvaveda, mengutip pendapat seorang orientalis Eropa bahwa Atharvaveda Paippalāda Śākhā versi manuskrip Kashmir boleh jadi adalah versi Atharvaveda Saṁhitā yang terbaik dan paling awal.
    Fakta sejarah negeri India mencatat bahwa pada masa yang silam, Paippalāda Saṁhitā adalah versi standar bagi teks Atharvaveda dan bukannya Śaunakīya Saṁhitā.

    Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad) bukanlah bagian dari Saunakiya Samhitā; bukan juga bagian dari Jaladā Samhitā dan Maudā Samhitā karena kedua śākhā Atharvaveda tersebut tidak boleh terlibat pada upacara-upacara ritual Vaidika Dharma, sedangkan Allaḥ Sūkta dibaca oleh para Brāhmana pada setiap upacara-upacara suci Vaidika Dharma. Allopaniṣad dibaca oleh para Brāhmana sebagai pemberkatan pada upacara penobatan Jalaluddin Muhammad Akbar sebagai ‘Maharaj Hindustani’ (Sang Penguasa Hindustan); Allopaniṣad turut pula dibaca oleh Maharani Devi Choudharani untuk keberkahan umur sang Maharaja, sembari melakukan Tulsi Puja. Maharaja Akbar dinobatkan sebagai Kaisar Mughal pada tanggal 14 Februari 1556 Masehi di Kalanaur, Gurdaspur, Punjab.

    Allaḥ Sūkta bukan bagian dari Jājalā Samhitā, Cāraṇavaidyā Samhitā, Devardarśā Samhitā, ataupun Staudā Samhitā. Karena, Jājalā Śākhā dan Cāraṇavaidyā Śākhā–pada masa yang silam–eksis di kawasan Madhya Pradesh (India bagian tengah), sedangkan Devardarśā Śākhā–di masa lalu–eksis di wilayah pantai Andhra Pradesh, dan Staudā Śākhā–dahulu–pernah eksis di Kosala (bagian tengah dan timur Uttar Pradesh).

    Mathuradas Trikumji menuliskan dalam suratnya kepada Mahātmā Gāndhī, bahwa Allopaniṣad berasal dari zaman Atharvaveda. Sedangkan, R. Ananthakrishna Sastri dalam “The Theosophist, volume 19, Madras 1898”, menyatakan bahwa Allopaniṣad disusun menggunakan gaya bahasa sūkta-sūkta tertua Ṛgveda.

    Shankar Gajannan Purohit (1882-1941) menuliskan di dalam Avadhoota gita with English Translation yang diterbitkan oleh Munrisham Manoharlal Publishers di New Delhi pada tahun 1979, bahwa “Allopaniṣad dilantunkan/dibaca pada upacara penobatan Jalaluddin Muhammad Akbar sebagai Maharaja (Penguasa) Hindustan, dengan menggunakan vedic chanda”.

    Di era Rana Kumbha (Maharana Kumbhakarna), pembacaan Allasūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad) pastinya telah dikenal luas. Ini dibuktikan dengan terpahatnya nama Allah bersama dengan sejumlah nama (Arab: asmā) Tuhan yang Mahaesa dalam agama Hindu seperti Brahmā, Visnu, dan Mahesh (Siva) pada “Vijay Stambha” (Menara Kemenangan) atau “Visnu Stambha” (Menara Visnu) yang didirikan di Chittor (Rajashtan) pada abad kelima belas masehi oleh Maharana Kumbhakarna untuk mengenang kemenangan pasukannya melawan agresi tentara Sultan Muhammad dari dinasti Khilji. “Visnu Stambha” atau “Vijay Stambha” adalah menara cerita berlantai sembilan, di lantai ketiga dan lantai kedelapan menara tersebut terdapat inskripsi nama Allah.
    Bahkan, jauh sebelum era Rana Kumbha, Allasūkta–mestinya–telah dikenal luas pada sekitar abad ketujuh masehi. Ini dibuktikan dengan eksisnya seorang raja Hindu dari Dinasti Sendraka yang berkuasa di Gujarat, bernama Allaśakti.

    Ciri bahasa geminate (konsonan rangkap) di dalam teks Allopaniṣad ditemukan juga dalam literatur Śaivisme (Hindu-Siva) yang berasal dari Kashmir, yaitu Stavacintāmaṇi, yang disusun oleh Bhaṭṭa Nārāyaṇa. Bahkan, nama Allā/Allaḥ (Allah) termaktub pada Sūtra ke-47 dari seratus dua puluh sūtra di dalam Stavacintāmaṇi, yaitu:
    rāgo ‘py astu jagannātha mama tvayy eva yaḥ sthitaḥ /
    lobhāyāpi namas tasmai tvallābhālambanāya me //

    Ritual wajib pembacaan Allopaniṣad–pastinya–sudah berlangsung selama kurang lebih 3000 tahun, yaitu semenjak era Dinasti Kuru sampai ke era Mahātmā Gāndhī. Yaitu, berdasarkan testimoni dari seorang pakar filologi berkebangsaan Jerman, bernama Friedrich Otto Schrader (1876-1961), bahwa Allopaniṣad dibacakan oleh para Brāhmana di India Utara dalam Vasantotsava (Festival Musim Semi) atau pada kesempatan lain ketika bacaan-bacaan terpilih dari keempat Veda harus dibacakan di rumah seorang Dvija (Pandita).

    Eksistensi Allopaniṣad di kawasan India Utara–yang meliputi Jammu & Kashmir, Himachal Pradesh, Uttarakhand, Haryana, Punjab, Rajasthan, Uttar Pradesh, Bihar, Jharkhand, Chhattisgarh, dan Madhya Pradesh–semakin jelas dengan ditemukannya manuskrip-manuskrip Allopaniṣad di tangan 3 brāhmana Hindu ternama dari kota Benares (Varanasi/Kashi), yaitu pandit Dīnanātha, pandit Vindhyeśvarī-prasāda-dvivedin, dan Bábu Harischandra.

    Bhojraj Dwivedi, seorang Vastu Shastri dan Jyotishacharya yang tersohor di dunia, mengemukakan di dalam “Yantra–Mantra Tantra and Occult Sciences” bahwa sebuah kitab kuno yang sudah lapuk dimakan usia dan berasal dari abad keenam belas masehi memberikan keterangan mengenai kegunaan atau manfaat dari pembacaan Allopaniṣad: (1) untuk memusnahkan roh-roh jahat (makhluk halus) dalam jumlah yang sangat besar, (2) seorang calon (Brāhmana) dapat memperoleh kesaktian (kekuatan) yang tiada terhingga dengan membacanya setiap hari, (3) dapat menghancurkan segala jenis kekuatan jahat dari ilmu hitam (sihir) atau yang berasal dari makhluk halus, dan (4) menjadi tameng diri dari segala gangguan binatang buas di alam.
    Pernyataan dari Bhojraj Dwivedi itu juga didukung oleh catatan sejarah yang termaktub di dalam “The Muntakhabu-’rūkh”, bahwa sebuah sūkta dari Atharvaveda (yakni, Allaḥ Sūkta) dapat memberikan keselamatan atau perlindungan bagi para pembacanya.

    Jauh sebelum era Swami Dayananda Saraswati, Allaḥ Sūkta pada umumnya dianggap sebagai sebuah sūkta dari Atharvaveda, dan tidak dipandang sebagai sebuah Upanisad walaupun memuat praNava mantra (AUM). Allaḥ Sūkta di dalam “Shabda-Kalpadrum” hanya dikenal sebagai “atharvvaṇa sūktaṃ” (sūkta Atharvaṇa-Veda). Serupa dengan Gopātha Brāhmana yang juga memuat “Omkara”, tetapi tidak ditemukan sebuah Upanisad pun yang berasal darinya meskipun beberapa cendekiawan dan rohaniwan Hindu meyakini ada sebuah Upanisad didalamnya, yaitu Pranava Upanisad.
    Entah kapan, Allaḥ Sūkta yang awalnya lebih dikenal sebagai atharvvaṇa sūktaṃ, akhirnya beralih status menjadi Allā-Upaniṣad (Allopaniṣad). Status Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad), dalam kanon Upanisad, tidak jauh berbeda dengan Nīlarudrasūkta (Nīlarudra Upaniṣad atau Nīlarudropaniṣad). Nīlarudrasūkta merupakan sūkta dari Atharvaveda Paippalāda Śākhā dan sama sekali tidak eksis di dalam Śaunakīya Saṁhitā, tetapi Nīlarudrasūkta mendapat pengesahan di dalam Atharvaveda Pariśiṣṭa ke-49 (Caraṇavyūha) sebagai sebuah Upanisad (Nīlarudropaniṣad). Nīlarudrasūkta adalah kumpulan 26 Mantra dari Paippalāda Saṁhitā yang tersebar pada 3 Kānda dalam manuskrip-manuskrip Nīlarudropaniṣad.

    Termaktub dalam “The Muntakhabu-’rūkh” halaman 213-214 yang diterjemahkan dari naskah aslinya berbahasa Persia, terbitan The Baptist Mission Press Calcutta 1884-1925, karya ‘Abdu-’l-Qādir Ibn-i-Mulūk Shāh atau yang lebih dikenal dengan nama “Al-Badāoni” (Sejarawan India dari Dinasti Mughal yang wafat pada tahun 1615 M):
    Di tahun ini (983 H/1575–76 M) seorang Brāhmana terpelajar bernama Shaikh B’háwan (Bhavan) telah datang dari Dak’hin (Dataran Tinggi Dekan atau kawasan India Selatan) dan menjadi muslim ketika Maharaja (Jalaluddin Muhammad Akbar) memerintahkan saya untuk menerjemahkan At’harban (Atharwaweda). Beberapa doktrin (ajaran) yang terkandung didalamnya mempunyai kesamaan dengan ajaran Islam. Didalam penerjemahannya, saya menemukan banyak bagian yang sulit, yang bahkan Shaikh B’háwan pun tidak dapat menginterpretasikannya, lalu saya melaporkan hal ini kepada Sang Maharaja, akhirnya beliau memerintahkan Shaikh Faizi, dan kemudian Haji Ibrahim untuk menerjemahkannya. Yang kedua (Shaikh Faizi), meskipun bersedia, tidak menulis apa pun.
    Di antara doktrin (ajaran) yang terkandung dalam At’harban (Atharwaweda), ada sebuah (mantra) yang berbunyi bahwa tidak seorang pun akan diselamatkan kecuali kalau dia membaca suatu bagian (sūkta) tertentu (dalam Atharwaweda). Bagian ini (yaitu, Allah Sūkta) memuat banyak perulangan huruf “l”, dan sangat menyerupai kalimat (tauhid) kami “lá illáh illa’ lláh”. Selain itu, saya menemukan (dalam Atharwaweda) bahwa seorang Hindu dari kasta tertentu boleh memakan daging sapi; dan juga bahwa syariat Hindu mengajarkan untuk mengubur jasad orang-orang yang telah wafat, bukannya membakar mayat atau jasad mereka. Dengan bagian-bagian (dari Atharwaweda) itulah Sang Shaikh (B’háwan) biasa menggunakannya untuk mengalahkan para Brāhmana lainnya dalam perdebatan, dan (kekalahan) mereka (dalam setiap perdebatan) sebenarnya telah membimbing (Sang Shaikh) untuk memeluk Islam.

    Dari keterangan catatan sejarah di atas, diketahui bahwa pada mulanya penerjemahan Atharwaweda dari bahasa Sanskerta kedalam bahasa Persia dipercayakan oleh Maharaja Jalaluddin Muhammad Akbar kepada Badāoni dengan dibantu seorang Brāhmana yang berasal dari India Selatan. Tetapi, keduanya gagal menerjemahkan teks Atharwaweda secara keseluruhan, dan akhirnya tugas tersebut diserahkan kepada Faizi. Namun, Faizi tidak dapat melaksanakan tugas tersebut karena sebuah janji kepada gurunya yang juga seorang Brāhmana, yaitu untuk tidak menerjemahkan Weda dan tidak memberitahukan kepada seorang pun perihal segala sesuatu yang menyangkut ajaran Brahmān (agama Hindu). Pada akhirnya, tugas tersebut dilanjutkan dan disempurnakan oleh Hājī Ibrāhīm Sarhindī. Dari penerjemahan yang dilakukan oleh Hājī Ibrāhīm Sarhindī, diketahui adanya sebuah sūkta Atharwaweda–yang pada masa belakangan– yang oleh cendekiawan Barat dan cendekiawan Hindu akhirnya diberi judul “Allā-Upanisad atau Allopanisad”, meskipun pada masa Dinasti Mughal dan masa-masa yang jauh sebelumnya nama tersebut tidak dikenal secara umum, tetapi pembacaannya sudah dilakukan secara meluas dari generasi ke generasi dan menjadi bacaan wajib dalam setiap perayaan Vasantotsava.

    Schrader (1908:136) menyatakan:
    Meskipun (Atharwaweda dan Allopanisad) kurang terkenal di India bagian selatan, sudah menjadi keyakinan umum bahwa orang-orang Islam pandai tentang ilmu Atharwaweda. Allopanisad di India bagian utara tidak hanya dianggap (Upanisad) dari Atharwaweda, tetapi juga adalah fakta bahwa para Brāhmana membacanya dalam Vasantotsava (Festival Musim Semi) atau pada kesempatan lain ketika bacaan-bacaan terpilih dari keempat Weda harus dibacakan di rumah seorang Dvija.

    Dari keterangan yang diberikan oleh Badāoni dalam “The Muntakhabu-’rūkh”, diketahui bahwa Allah Sūkta awalnya adalah satu kesatuan dengan sūkta-sūkta lainnya yang membentuk teks Atharwaweda, dan tidak berdiri sendiri atau terpisah dari teks Atharwaweda. Tetapi, hal ini hanya bisa dibuktikan jika terjemahan Atharwaweda berbahasa Persia oleh Hājī Ibrāhīm Sarhindī eksis di zaman kita atau berhasil ditemukan. Sayangnya, terjemahan Atharwaweda berbahasa Persia yang memuat Allah Sūkta telah lenyap oleh perjalanan waktu, atau dengan kata lain ia tidak selamat sampai ke zaman kita, ia hilang ditelan masa.
    Boleh jadi, di masa lalu ada sekelompok Sannyāsin dan Sampradaya tertentu yang mengetahui keutamaan dari Allah Sūkta sehingga mereka khusus membaca, mempelajari, mengajarkan, dan menyimpan atau memeliharanya dalam catatan tersendiri berupa manuskrip-manuskrip yang terpisah dari sūkta-sūkta Atharwaweda lainnya, dan itulah yang sampai di zaman sekarang. Hal ini semakin dipertegas dengan tulisan yang termaktub dalam situs “www.stitidharma.org/allopanishad/” tentang para rohaniawan Hindu yang “menjunjung tinggi” kesucian Allopanishad.

    Viśva Bandhu Śāstri telah menyebutkan 200 Upanisad dalam “Vaidika Padānukrama Kośa” (edisi Lahore, 1945). Dan, “Allāh Upaniṣad” (Allaḥ Sūkta or Allopaniṣad) berada diperingkat ke-12 dari 200 Upanisad.
    Majalah Kalyan, majalah berbahasa Hindi, edisi ke-23, terbitan tahun 1949 oleh Gita Press Gorakhpur (India) menyebutkan 220 Upanisad dengan judul “Upanishad-Ank”. Dan, Allopaniṣad tertulis diurutan ke-15 dari 220 Upanisad.
    Allopaniṣad termaktub dalam “Upanisatsamgraha” atau ‘Daftar 188 Upanisad’, hal 392-93, terbitan tahun 1970 oleh Motilal Banarsidass Publishers Private Limited di New Delhi.
    Allah Sūkta termaktub dalam situs “www.veda.harekrsna.cz/encyclopedia/upanisads.htm”:
    Ācamana vedānta, Āzrama, advaita vedānta, alla zakta (Allopaniṣad), Ārseya vedānta, Ātharvan-advitīya zakta, dst.

    Pujya Sri Nath Bhagwan (Mahatma Sri Nathuram Sharma) dari Bilkha dekat Junagadh, Saurashtra (Gujarat) telah menerjemahkan 108 Upanisad dalam bahasa Gujarati. Dalam koleksi 108 Upanisadnya tersebut, eksis sebuah Upanisad bernama Allopaniṣad.

    Meskipun Swami Vivekananda meyakini bahwa Allopaniṣad-pastinya-adalah sebuah karya baru (modern) dan bukan Upanisad asli, termaktub keterangan di bagian Glossary dalam buku “From Colombo to Almora” terbitan Vyjayanti Press Madras tahun 1897, bahwa Allopaniṣad adalah salah satu dari 108 Upanisad.

    Total Upaniṣad yang diterima secara luas oleh seluruh Sanatanist (penganut Hindu Dharma) hanyalah 108 Upaniṣad. Namun, ada sejumlah versi tentang nama-nama ke-108 Upanisad yang termaktub dalam Muktikopaniṣad.
    Berikut ini adalah 108 Upanishad dari Sastra Pustaka Suci Veda

    (1) Isha Upanishad (2) Kena Upanishad (3) Katha Upanishad (4) Prashna Upanishad (5) Mundaka Upanishad (6) Mandukya Upanishad (7) Taittiriya Upanishad (8) Aitareya Upanishad (9) Chandogya Upanishad (10) Brihadaranyaka Upanishad (11) Brahmopanishad (12) Kaivalyopanishad (13) Jabalopanishad (14) Shvetashvatara Upanishad (15) Hamsopanishad (16) Aruneyopanishad (17) Garbhopanishad (18) Narayanopanishad (19) Paramahamsopanishad (20) Amrita-bindupanishad (21) Nada-bindupanishad (22) Siropanishad (23) Atharva-sikhopanishad (24) Maitrayaniya Upanishad (25) Kaushitaki Upanishad (26) Brihaj-jabalopanishad (27) Nrisimha-tapaniyopanishad (28) Kalagni-rudropanishad (29) Maitreyy-upanishad (30) Subalopanishad (31) Kshurikopanishad (32) Mantrikopanishad (33) Sarva-saropanishad (34) Niralambopanishad (35) Suka-rahasyopanishad (36) Vajra-sucikopanishad (37) Tejo-bindupanishad (38) Nada-bindupanishad (39) Dhyana-bindupanishad (40) Brahma-vidyopanishad (41) Yoga-tattvopanishad (42), Atma-bodhopanishad (43) Narada-parivrajakopanishad (44) Trisikhy-upanishad (45) Sitopanishad (46) Yoga-cudamany-upanishad (47) Nirvanopanishad (48) Mandala-brahmanopanishad (49) Dakshina-murty-upanishad (50) Sarabhopanishad (51) Skandopanishad (52) Mahanarayanopanishad (53) Advaya-tarakopanishad (54) Rama-rahasyopanishad (55) Rama-tapany-upanishad (56) Vasudevopanishad (57) Mudgalopanishad (58) Sandilyopanishad (59) Paingalopanishad (60) Bhikshupanishad (61) Mahad-upanishad (62) Sarirakopanishad (63) Yoga-sikhopanishad (64) Turiyatitopanishad (65) Sannyasopanishad (66) Paramahamsa-parivrajakopanishad (67) Malikopanishad (68) Avyaktopanishad (69) Ekaksharopanishad (70) Purnopanishad (71) Suryopanishad (72) Akshy-upanishad (73) Adhyatmopanishad (74) Kundikopanishad (75) Savitry-upanishad (76) Atmopanishad (77) Pasupatopanishad (78) Param-brahmopanishad (79) Avadhutopanishad (80) Tripuratapanopanishad (81) Devy-upanishad (82) Tripuropanishad (83) Katha-rudropanishad (84) Bhavanopanishad (85) Hridayopanishad (86) Yoga-kundaliny-upanishad (87) Bhasmopanishad (88) Rudrakshopanishad (89) Ganopanishad (90) Darsanopanishad (91) Tara-saropanishad (92) Maha-vakyopanishad (93) Panca-brahmopanishad (94) Pranagni-hotropanishad (95) Gopala-tapany-upanishad (96) Krishnopanishad (97) Yajnavalkyopanishad (98) Varahopanishad (99) Satyayany-upanishad (100) Hayagrivopanishad (101) Dattatreyopanishad (102) Garudopanishad (103) Kaly-upanishad (104) Jabaly-upanishad (105) Saubhagyopanishad (106) Sarasvati-rahasyopanishad (107) Bahvricopanishad (108) Muktikopanishad.

    (Sri Caitanya Caritamrita Adi 7.108, Purport)

    Ada silang pendapat di kalangan Vedantist (pengikut Weda) mengenai jumlah Upanisad dari Atharwaweda, ada yang menyatakan 31 Upanisad dan ada yang menyatakan 32 Upanisad. Dalam situs “www.geocities.com/advaitavedant/kaivalya.htm”, Kaivalya Upanisad dicantumkan sebagai Upanisad dari Yajurweda Hitam. Namun, tertulis dalam situs “www.punditravi.com/kaivalya_upanishad.htm#b” bahwa Kaivalya Upanisad adalah Upanisad dari Atharwaweda.

    Tidak adanya kesatuan pandangan dalam dunia Hindu mengenai “posisi” Kaivalya Upanisad adalah juga berlaku pada Katha Upanisad. Beberapa literatur Sanskerta yang otentik menyatakan bahwa Katha Upanisad adalah Upanisad dari Yajurweda Hitam; literatur Sanskerta lainnya menyatakan bahwa ia merupakan Upanisad dari Sāmaweda; bahkan, sejumlah besar literatur Sanskerta yang otentik lainnya menyatakan bahwa Katha Upanisad adalah Upanisad dari Atharwaweda.
    Manuskrip-manuskrip yang eksis mengenai nama dan jumlah Upanisad dari Atharvaveda tidak satu pun yang homogen, melainkan saling kontras satu sama lain. Misalnya, nama Vaitathya tidak termaktub dalam Dīpikā, sedangkan teks Caraṇavyūha menyebutkan nama Vaitathya; nama Nīlarudra juga tidak termaktub dalam Muktikopaniṣad, tetapi termaktub dalam Dīpikā dan Caraṇavyūha.
    Ketidakhomogen ‘testimoni’ dari berbagai komentator Veda di masa lalu mengenai jumlah Upanisad, perbedaan nama-nama Upanisad, tidak adanya argumen yang jelas atas pemilihan sejumlah Upanisad (dan menafikan yang lain), dan tidak adanya satu manuskrip yang lengkap memuat nama-nama Upanisad dari berbagai śākhā Veda sehingga setiap orang dapat dengan mudah mengklaim otoritas ataupun ketidakotentikan sebuah Upanisad.
    Adi Śaṅkarācārya hanya memberikan ulasan atau komentar atas 3 Upanisad dari Atharvaveda; Nārāyaṇa Bhaṭṭa memberikan komentar atas 52 Upanisad dari Atharvaveda; Muktikopaniṣad hanya menyebutkan 31 Upanisad dari Atharvaveda; Atharvaveda Pariśiṣṭa ke-49 (Caraṇavyūha) menyebutkan 15 Upanisad dari Śaunakīya Saṁhitā, dan 37 Upanisad lainnya merupakan Upanisad dari Paippalāda Saṁhitā.

    Para Brahmacarin mempelajari kitab-kitab Saṃhitā; para Gṛhasthin mempelajari kitab-kitab Brāhmana yang menjelaskan tentang tugas dan kewajiban atau upacara sehari-hari; sedang para Vānaprasthin mempelajari kitab-kitab Āranyaka, demikian pula para Saṁnyāsin (mereka yang meninggalkan keduniawian) secara khusus mempelajari kitab-kitab Upaniṣad yang mengandung ajaran filsafat (Titib, 2003).
    Kitab-kitab Upaniṣad memberikan wejangan tentang rahasia tertinggi terhadap umat manusia. Kitab-kitab ini berisi intisari dari kitab-kitab Veda dan merupakan dasar kebenaran spiritual bagi seseorang yang mencari pencerahan spiritual (Titib, 2003).

    Allopanishad banyak dibaca, ‘disimpan’ dan disakralkan oleh para Saniasin Hindu, karena ada Wahyu tentang avatara terakhir. Mereka mempelajari, untuk menyebarkannya dan memberikan kesempatan yang luas diperincangkan/ diperdebatkan oleh para rohaniawan Hindu. (http://stitidharma.org/allopanishad/)

    Allopaniṣad merupakan salah satu kitab Hindu Dharma yang dimuliakan oleh para Vedantist (pengikut Veda). Keutamaannya atas sūkta-sūkta Veda yang lain adalah karena ia memberikan jaminan keselamatan (perlindungan) bagi para pembacanya atau yang mengamalkannya; mengandung doa perlindungan yang meliputi aspek lahir maupun batin.

    Pujian kepada Sang Maha Pencipta begitu indah dan murni tertuang pada setiap mantra Allopaniṣad. Setiap huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, tersusun dengan apik dan rapi, menyiratkan eksistensi sistem interlocking 21 yang merupakan simbol keesaan Sang Maha Pencipta dalam Veda. Cahaya tauhid bersinar terang benderang dalam Upanisad, konsep tauhid (keesaan Tuhan) dibahas secara mendalam dalam Upanisad, rahasia-rahasia Uluhiyah (Ketuhanan) mengejawantah secara nyata dalam Upanisad.

    Bibliography

    Turner, Patricia and Coulter, C. R. 2000. Dictionary of Ancient Deities. USA: McFarland.

    Cappeller, Carl. 1891. A Sanskrit-English Dictionary Based Upon the St. Petersburg Lexicons. USA: Ginn and Company.

    Bhattacharyya, Durgamohan. 1964. Paippalādasaṃhitā of the Atharvaveda (Kāṇḍa 1). Calcutta: Sanskrit College.

    Vasu, Ś. C. The Ashtadhyayi of Panini (Book VII)–Translated into English. 1897. Benares: Sindhu Charan Bose.

    Apte, V. S. 1957. The Practical Sanskrit-English Dictionary (1st ed.). Poona: Prasad Prakashan.

    ……… 1965. The Practical Sanskrit-English Dictionary (Fourth Revised & Enlarged Edition). Delhi: Motilal Banarsidass.

    Witzel, Michael. 1997. The Development of the Vedic Canon and its Schools. Cambridge: Harvard Oriental Series.

    Goswami, B. B. 1978. Atharvaveda-samhita. In: Sanskrit with Bengali script and translation. Calcutta: Haraf Prakashani Publishers.

    Macdonell, A. A. 1893. A Sanskrit-English Dictionary. London: Longmans, Green, And Co.

    Benfey, Theodore. 1866. A Sanskrit-English Dictionary. London: Longmans, Green, And Co.

    Monier-Williams, Monier. 1899. A Sanskrit-English Dictionary. Oxford: Clarendon Press.

    Whitney, W. D. 1856. Contributions from the Atharva-Veda to the Theory of Sanskrit Verbal Accent. Journal of the American Oriental Society, V: 387-419.

    ……….. 1879. A Sanskrit Grammar. London: Trubner & Co.

    Gaud, R. S. (Ed.). 1990. Atharvaveda with Sāyanabhāṣya. Varanasi: Chowkhamba Vidyabhavan.

    Desai, S. G. 1996. A Critical Study of the Later Upanishads. Delhi: Bharatiya Vidya Bhavan

    Sharma, Suresh K. and Sharma, Usha (Eds.). 2004. Cultural and Religious Heritage of India (1st ed.). New Delhi: Mittal Publications.

    Sharma, Shubhra. 1985. Life in the Upanishads. New Delhi: Abhinav Publications.

    Bloomfield, Maurice. 1899. The Atharvaveda. Strassburg: K. J. Trubner.

    ……….. 1906. A Vedic Concordance. Massachusetts: Harvard University.

    Prasad, Durga (Ed.). 1908. An English Translation of the Satyarth Prakash of Maharshi Swami Dayanand Saraswati. Lahore: Virjanand Press.

    Singh, Nagendra KR (Ed.). 2000. Encyclopedia of Hinduism (1st ed.). New Delhi: Anmol Publications.

    Kaw, M.K. (Ed.). 2004. Kashmir & Its People. New Delhi: S. B. Nangia.

    Hopkins, E. W. 1895. The Religion of India. USA: Ginn & Company, Publishers.

    Brewer, E. C. 1894. Dictionary of Phrase and Fable (New and Enlarged Edition). London: Cassell and Company, Limited.

    The Editors of the Raja’s Sabdakalpadruma. 1859. A Rapid Sketch of the Life of Raja Radhakanta Deva Bahadur. Calcutta: Englishman Press.

    Lees, Captan W. N. and Ali, Munshi Ahmad (Eds.). 1865. The Muntakhab Al-Tawārīkh of Abd Al-Qādir bin- I Malūk Shah Al-Badāoni. Calcutta: College Press.

    Elliot, Henry M. 1850. Bibliographical Index to the Historians of Muhammedan India (Vol. I). Calcutta: Baptist Mission Press.

    Jarrett, H. S. 1948. Bibliotheca Indica. An English Translation of ‘Ain-I-Ākbari of Abul Fazl-I-‘Āllami (Vol. III). Calcutta: Royal Asiatic Society of Bengal.

    Witzel, Michael. 1995. Early Indian history: linguistic and textual parameters, in: George Erdosy, The Indo-Aryans of ancient South Asia. Berlin, New York: De Gruyter.

    Böhtlingk, Otto. 1847. Vopadeva’s Mugdhabodha. St. Petersburg: Eggers et Comp.

    The Mugdhabodha: A Sanscrit Grammar, by Vopadeva. 1820. Calcutta: Sanscrit College

    Aiyar, K. N. 1914. Thirty Minor Upanishads (English Translation). Madras: Theosophical Society.

    Weber, Albrecht. 1850. Indische Studien. Berlin: Trowitzsch und Sohn.

    ………… 1852. Indische Literaturgeschichte. Berlin: Akademische Vorlesungen.

    ………… 1869. Indische Streifen. Berlin: A. Effert und L. Lindtner.

    Griffiths, Arlo and Schmiedchen, Annette (Eds.). 2007. The Atharvaveda and its Paippalādaśākhā, Historical and Philological Papers on A Vedic Tradition. Aachen: Shaker Verlag.

    Sadhale, G. Shastri. 1940. Upanishad vakya Mahakosha. Bombay: Gujarati Printing Press.

    Sarkar, Jadunath. 1919. Studies in Mughal India. Calcutta: M. C. Sarkar & Sons.

    Chand, Tara. 1922. Influence of Islam on Indian Culture. Allahabad: Indian Press.

    Barnett, L. D. 1994. Antiquities of India. New Delhi: J. Jetley

    Mishra, V. B. 1973. Religious Beliefs and Practices of North India during the Early Mediaeval Period. Leiden: E. J. Brill.

    Sonawane, V. H. …. Harappan Civilization in Western India with Special Reference to Gujarat. Journal of Interdisciplinary Studies, 1 (2): 63-78.

    Bryant, E. F. and Patton, L. L. 2005. The Indo-Aryan Controversy. Oxon: Routledge.

    http://www.astroveda.wikidot.com/vedic-agni-illa

    Sachau, E. C. 1910. Alberuni’s India. An Account of the Religion, Philosophy, Literature, Geography, Chronology, Astronomy, Customs, Laws and Astrology of India about A.D. 1030. An English Edition, with Notes and Indices. In Two Volumes, Vol. I. London: Kegan Paul, Trench, Trubner & CO.

    Sarup, Lakshman. 1967. The Nighantu and the Nirukta: Text and Translation (Second Reprint). New Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited.

    University of Madras. 1924. Tamil lexicon. Madras: University of Madras.

    Deva, Radha Kanta. 1967. Shabda-Kalpadrum. Third Edition (Part One). Varanasi: The Chowkhamba Sanskrit Series Office.

    Tarkavachaspati, Taranatha. 1873. Vachaspatya–A Comprehensive Sanscrit Dictionary (Part. I). Calcutta: Kavya Prakasha Press.

    Schrader, F. Otto. 1908. A Descriptive Catalogue of the Sanskrit Manuscripts in the Adyar Library Vol. I. Upanisads. Madras: Oriental Publishing Co., LTD.

    Caturvedi, Mahendra. 1970. A Practical Hindi-English Dictionary. Delhi: National Publishing House.

    http://www.indiadivine.org/audarya/advaita-vedanta/531084-radha-ji.html

    http://www.theosociety.org/pasadena/theosoph/theos12b.htm

    http://stitidharma.org/allopanishad/

    Mitra, Sudipta. 2005. Gir Forest and the Saga of the Asiatic Lion. New Delhi: Indus Publishing Company.

    Dasgupta, Surendranath. 1952. A History of Indian Philosophy. London: The Syndic of The Cambridge University Press.

    Apte, Vaman Shivaram. Revised and enlarged edition of Prin. V. S. Apte’s The practical Sanskrit-English dictionary. Poona: Prasad Prakashan, 1957-1959. 3v.

    Dasa, Syamasundara. Hindi sabdasagara. Navina samskarana. Kasi: Nagari Pracarini Sabha, 1965-1975.

    Titib, I Made. 2003. VEDA Śabda Śuci (Pedoman Praktis Kehidupan). Surabaya: Pāramita.

    Hamzah, Fahmi. 2011. Matematika Dalam Qur’an & Veda. Surabaya: Pāramita.

  3. Om Swastyastu,

    Rekan-rekan Hindu Dharma se-Nusantara di mana pun berada, di sini tyang akan memberikan sebuah rujukan “final” yang tyang percaya bahwa meskipun banyak yang kontra, namun tidak sedikit di antara para Sanatani Hindu yang pro dengan keotentikan Allopanishad. Yaitu, Raja Syama Sankar Ray Bahadur dengan sebuah penjelasan “obyektif”nya yang termaktub dalam situs:

    http://www.theosociety.org/pasadena/theosoph/theos12b.htm

    Raja Syama Sankar Ray Bahadur, dalam situs tersebut, memberikan gambaran bahwa dia sendiri juga tidak langsung “menafikan” otoritas Allopanishad yang diklaim oleh Swami Dayanda Saraswati sebagai sebuah Upanisad palsu. Karena, pribadi-pribadi yang terkenal keluhuran dan kejujurannya di antara para Brahmana India kala itu, yaitu Radha Kanta Deva dan Taranatha Tarkavachaspati, pastinya mempunyai fakta/dokumen tersendiri yang membuat keduanya menerima keotentikan Allopanishad.
    Terlebih lagi dengan eksisnya manuskrip-manuskrip Upanisad tersebut di tangan 3 pandit Hindu ternama dari kota Benares, yaitu: (1) pandit Dīnanātha, (2) pandit Vindhyeśvarī-prasāda-dvivedin, dan (3) Bábu Harischandra.
    Demikian pula halnya dengan yang terjadi pada diri Mohandas Karamchand Gāndhī yang juga mengakui otoritas Allopanishad dalam pustaka suci Vaidika Dharma. Itu juga tidak tanpa alasan. Salah satu referensinya adalah koleksi 108 Upanisad-nya Mahātmā Sri Nathuram Sharma (Pujya Sri Nath Bhagwan) yang memuat nama Allopanishad.

    Total Upaniṣad yang diterima secara luas oleh seluruh Sanatanist (penganut Hindu Dharma) hanyalah 108 Upaniṣad.
    Agni Purāna, Adhyāya 271, menyatakan ada 1600 Upaniṣad. Sedangkan, “Mahavakya Ratnavali” menyatakan ada 1180 Upaniṣad.
    Pāṇini menyatakan–di dalam “Aṣṭādhyāyī”–bahwa jumlah Upaniṣad adalah 900. Patañjali–di dalam “Mahābhāṣya”–juga menyatakan jumlah yang sama, yaitu 900 Upaniṣad.
    Albrecht Friedrich Weber (1825-1901) menyebutkan 235 Upaniṣad di dalam Indische Literaturgeschichte terbitan tahun 1876; di dalam “Upaniṣad-vākya-mahā-kośa” terbitan tahun 1940, Sadhale menuliskan 223 total Upaniṣad yang eksis; Profesor Martin Haug (1827-1876) menyebutkan 170 Upaniṣad di dalam Brahma und die brahmanen terbitan tahun 1871; di dalam “Tanjore Catalogue”, halaman 59, Arthur Coke Burnell (1840-1882) menuliskan 154 Upaniṣad; Friedrich Max Muller menyatakan bahwa jumlah Upaniṣad yang asli mencapai 149 Upaniṣad.
    Nigeernopaniṣad, Upaniṣad yang dianggap apokrifa dan berasal dari abad keempat belas masehi, menyebutkan ada 187 Upaniṣad.

    Dan, nama Allopanishad benar-benar eksis dalam sejumlah situs,lesikon,dan kanon Upanisad seperti:
    Viśva Bandhu Śāstri telah mengkodifikasi 200 Upanisad dalam “Vaidika Padānukrama Kośa” (edisi Lahore, 1945). Dan, “Allāh Upaniṣad” (Allaḥ Sūkta or Allopaniṣad) berada diperingkat ke-12 dari 200 Upanisad.
    Majalah Kalyan, majalah bulanan berbahasa Hindi, edisi ke-23, terbitan tahun 1949 oleh Gita Press Gorakhpur (India), mengkodifikasi 220 Upanisad dengan judul “Upanishad-Ank”. Dan, Allopaniṣad berada pada urutan ke-15 dari 220 Upanisad.
    Allopaniṣad termaktub dalam “Upanisatsamgraha” atau ‘Daftar 188 Upanisad’, halaman 392-393, terbitan tahun 1970 oleh Motilal Banarsidass Publishers Private Limited di New Delhi.
    Allaḥ Sūkta atau Allopaniṣad termaktub dalam situs “www.veda.harekrsna.cz/encyclopedia/upanisads.htm”: Ācamana vedānta, Āzrama, advaita vedānta, alla zakta (Allopaniṣad), Ārseya vedānta, Ātharvan-advitīya zakta, dst.

    Manuskrip-manuskrip yang eksis mengenai nama dan jumlah Upanisad dari Atharvaveda tidak satu pun yang homogen, melainkan saling kontras satu sama lain. Misalnya, nama Vaitathya tidak termaktub dalam Dīpikā, sedangkan teks Caraṇavyūha menyebutkan nama Vaitathya; nama Nīlarudra juga tidak termaktub dalam Muktikopaniṣad, tetapi termaktub dalam Dīpikā dan Caraṇavyūha.
    Ketidakhomogen ‘testimoni’ dari berbagai komentator Veda di masa lalu mengenai jumlah Upanisad, perbedaan nama-nama Upanisad, tidak adanya argumen yang jelas atas pemilihan sejumlah Upanisad (dan menafikan yang lain), dan tidak adanya satu manuskrip yang lengkap memuat nama-nama Upanisad dari berbagai śākhā Veda sehingga setiap orang dapat dengan mudah mengklaim otoritas ataupun ketidakotentikan sebuah Upanisad.
    Adi Śaṅkarācārya hanya memberikan ulasan atau komentar atas 3 Upanisad dari Atharvaveda; Nārāyaṇa Bhaṭṭa memberikan komentar atas 52 Upanisad dari Atharvaveda; Muktikopaniṣad hanya menyebutkan 31 Upanisad dari Atharvaveda; Atharvaveda Pariśiṣṭa ke-49 (Caraṇavyūha) menyebutkan 15 Upanisad dari Śaunakīya Saṁhitā, dan 37 Upanisad lainnya merupakan Upanisad dari Paippalāda Saṁhitā.
    Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad) bukanlah bagian dari Śaunakīya Samhitā, juga tidak eksis dalam Paippalāda Samhitā (versi manuskrip Orissa); bukan juga bagian dari Jaladā Samhitā dan Maudā Samhitā karena kedua śākhā Atharvaveda tersebut tidak boleh terlibat pada upacara-upacara ritual Vaidika Dharma, sedangkan Allaḥ Sūkta dibaca oleh para Brāhmana pada setiap upacara-upacara suci Vaidika Dharma.
    Allopaniṣad dibaca oleh para Brāhmana sebagai pemberkatan pada upacara penobatan Jalaluddin Muhammad Akbar sebagai ‘Maharaj Hindustani’ (Sang Penguasa Hindustan); Allopaniṣad turut pula dibaca oleh Maharani Devi Choudharani untuk keberkahan umur sang Maharaja, sembari melakukan Tulsi Puja (Sahitya Academy: Indian Literature, halaman 175, Volume 41, 1st–3rd Edition, 1998).
    Shankar Gajannan Purohit (1882-1941) menuliskan di dalam Avadhoota gita with English Translation yang diterbitkan oleh Munrisham Manoharlal Publishers di New Delhi pada tahun 1979, bahwa “Allopaniṣad dilantunkan/dibaca pada upacara penobatan Jalaluddin Muhammad Akbar sebagai Maharaja (Penguasa) Hindustan, dengan menggunakan vedic chanda”.
    Maharaja Akbar dinobatkan sebagai Kaisar Mughal pada tanggal 14 Februari 1556 Masehi di Kalanaur, Gurdaspur, Punjab.

    Friedrich Otto Schrader (1876-1961), dalam “A Descriptive Catalogue of the Sanskrit Manuscripts in the Adyar Library Vol. I. Upanisads, halaman 136, terbitan Adyar Library Madras 1908”, menyatakan bahwa Allopaniṣad dibacakan oleh para Brāhmana di India Utara dalam Vasantotsava (Festival Musim Semi) atau pada kesempatan lain ketika bacaan-bacaan terpilih dari keempat Veda harus dibacakan di rumah seorang Dvija (Pandita).

    Allaḥ Sūkta bukan bagian dari Jājalā Samhitā, Cāraṇavaidyā Samhitā, Devardarśā Samhitā, ataupun Staudā Samhitā. Karena, Jājalā Śākhā dan Cāraṇavaidyā Śākhā–pada masa yang silam–eksis di kawasan Madhya Pradesh (India bagian tengah), sedangkan Devardarśā Śākhā–di masa lalu–eksis di wilayah pantai Andhra Pradesh, dan Staudā Śākhā–dahulu–pernah eksis di Kosala (bagian tengah dan timur Uttar Pradesh).

    Mathuradas Trikumji menuliskan dalam suratnya kepada Mahātmā Gāndhī, bahwa Allopaniṣad berasal dari zaman Atharvaveda (The Collected Works of Mahatma Gandhi, Volume 95, halaman 244).
    Allopaniṣad disusun menggunakan gaya bahasa sūkta-sūkta tertua Ṛgveda (The Theosophist, volume 19: Allopanishad or Mahomed Upanishad by R. Ananthakrishna Sastri, halaman 177-178, Theosophical Society Madras 1898).

    Fakta sejarah negeri India mencatat bahwa pada masa yang silam, Paippalāda Saṁhitā adalah versi standar bagi teks Atharvaveda dan bukannya Śaunakīya Saṁhitā. Terdapat sejumlah keterangan dari era Pāṇini dan Patañjali yang menyatakan bahwa Atharvaveda Paippalāda Śākhā dahulunya adalah versi standar untuk Atharvaveda Saṃhitā.
    Teks Atharvaveda Paippalāda Śākhā yang diketahui eksis hingga hari ini adalah berasal dari 2 versi, yaitu versi manuskrip Kashmir (Śāradā manuscript) dan versi manuskrip Orissa (Oriya manuscript). Manuskrip Kashmir mempunyai 825 Kāṇḍikā (Sūkta) dan 7192 Mantra, sedangkan manuskrip Orissa mempunyai 923 Kāṇḍikā (Sūkta) dan 7899 Mantra.
    Durgamohan Bhattacharyya, dalam Paippalādasaṃhitā of the Atharvaveda, mengutip pendapat seorang orientalis Eropa bahwa Atharvaveda Paippalāda Śākhā versi manuskrip Kashmir boleh jadi adalah versi Atharvaveda Saṁhitā yang terbaik dan paling awal.
    Tapi, ironinya bahwa teks Atharvaveda Paippalāda Śākhā (versi manuskrip Kashmir) dari abad ke-16 masehi sudah tidak utuh (cacat/rusak/hilang)–terutama bagian awalnya–sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1875 oleh George Buhler dengan bantuan seorang Pandit ternama dari Kashmir bernama Pandit Keshav Bhatt Shastri; manuskrip Śāradā tersebut kemudian berpindah tangan atau dimiliki oleh Rudolph von Roth bersama manuskrip salinan (revisi)nya dalam aksara Devanagari, dan akhirnya tersimpan atau berada di Universitas Tubingen (Jerman) sampai sekarang.
    Sedangkan, keutuhan teks Atharvaveda Paippalāda Śākhā (versi manuskrip Orissa) dari abad ke-17 masehi, yang ditemukan pada tahun 1959 oleh Profesor Durgamohan Bhattacharyya (wafat tahun 1965), masih terpelihara hingga hari ini.

    Pandit Tārānātha Tarkavācaspati Bhattācārya (1812-1885) menuliskan di dalam leksikon terotentik yang memuat semua kosakata Sanskerta kuno, yaitu Vāchaspatya, bahwa Allaḥ Sūkta adalah Ādi Sūkta (Sūkta Pertama) dalam Atharvaveda Saṁhitā, dan merupakan sebuah sūkta Veda yang terkenal/termasyhur.
    Pandit Rādhā Kānta Deva di dalam ‘Shabda-Kalpadrum’ juga menuliskan hal yang sama bahwa Allopaniṣad adalah (Sūkta) yang Pertama dalam Atharvaveda Saṁhitā dan merupakan sūkta Veda yang terkenal/termasyhur.
    Bábu Harischandra dari Benares memiliki sebuah manuskrip yang memuat judul Allā-Upaniṣad (Allaḥ Sūkta), dan manuskrip tersebut menyatakan bahwa Allā-Upaniṣad adalah sebuah Sūkta (himne) dari Paippalāda Saṁhitā (Proceedings of the Asiatic Society of Bengal, halaman 140, diedit oleh the Honorary Secretaries, Baptist Mission Press Calcutta 1871).

    Dan, tidaklah salah “kesaksian” sejarah yang diberikan oleh ‘Abdu-’l-Qādir Ibn-i-Mulūk Shāh (al-Badāoni)dalam kitabnya yang termasyhur “The Muntakhabu-’rūkh” tentang keberadaan sebuah terjemahan Atharvaveda Samhitā abad ke-16 Masehi dalam bahasa Persia. Sezaman dengan teks Atharvaveda Paippalāda Śākhā (versi manuskrip Kashmir) dari abad ke-16 masehi temuan George Buhler pada tahun 1875.
    Dr. Bhojraj Dwivedi, seorang Vastu Shastri dan Jyotishacharya yang tersohor di dunia, yang mempunyai nama besar dan ketenaran dalam bidang Astrology dan Vaastu Shastra, mencantumkan Allopanisad sebagai salah satu bacaan Hindu yang valid dalam bukunya yang berjudul “Yantra–Mantra Tantra and Occult Sciences”. Lebih lanjut dalam bukunya tersebut, Dwivedi menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan dari suatu kitab kuno berusia 500 tahun yang sudah lapuk dimakan waktu, jenis ilmu ini (Allopanisad) ditujukan untuk memusnahkan roh-roh jahat (makhluk halus) dalam jumlah yang sangat besar dan seorang calon (Brahmana) dapat memperoleh kesaktian (kekuatan) yang tiada terhingga dengan membacanya setiap hari. Mantra ini (Allopanisad) dapat menghancurkan segala jenis kekuatan jahat dari ilmu hitam (sihir) atau yang berasal dari makhluk halus dan menjadi tameng diri dari segala gangguan binatang buas di alam.

    Dari semua versi Allaḥ Sūkta (Allā-Upaniṣad atau Allopaniṣad) yang eksis, hanya di dalam “Shabda-Kalpadrum”nya Rādhā Kānta Deva ditemukan teks Allaḥ Sūkta yang termurni, teruji, dan terbukti keotentikannya.
    Teks Allopaniṣad yang termaktub di dalam ‘Satyarth Prakash’nya Swami Dayananda Saraswati, dalam ‘Yantra–Mantra Tantra and Occult Sciences’nya Bhojraj Dwivedi, dalam ‘Hindi Vishva Kosh’nya Nagendra Nath Vasu, dan dalam ‘Un-published Upanishads’nya para pandit dari perpustakaan Adyar (Madras), tidak satu pun yang sama dengan teks Allopaniṣadnya Raja Rādhā Kānta Deva Bahadur.
    Kemungkinan besar, teks Allopaniṣad yang dikutip oleh Rādhā Kānta Deva di dalam “Shabda-Kalpadrum” adalah salinan (kopian) dari palm-leaf manuscript yang kini telah hilang dari perpustakaan Adyar di Madras (India), atau dari terjemahan Atharvaveda Samhitā abad ke-16 Masehi dalam bahasa Persia yang juga telah lenyap tanpa jejak.

    Kutipan teks Allopanisad yang termaktub dalam “Shabda-Kalpadrum”nya Rādhā Kānta Deva adalah tidak disangsikan lagi keotentikannya jika berpijak pada kenyataan bahwa begitu banyak testimoni yang datang, baik dari dalam negeri India maupun dari luar negeri India yang ditujukan untuk “Shabda-Kalpadrum”.
    Raja Vijayagovinda Sinha dari Purnia menuliskan dalam suratnya kepada Rādhā Kānta Deva, “Kecuali volume yang terakhir, saya telah menerima Shabda-Kalpadrum yang merupakan satu-satunya yang eksis untuk melenyapkan keraguan dan memperlengkapi kita dengan permata kebenaran yang diperlihatkan.”
    Maharaja Madanamohana dari Vishnupura dalam suratnya kepada Rādhā Kānta Deva, mengatakan bahwa dia beserta seluruh Pandit dalam Sabhanya memperoleh kepuasan tertinggi dan sempurna dari pemeriksaan/pembacaan yang teliti atas “Shabda-Kalpadrum” yang dikirimkan kepadanya.
    Pandit Radhakrishna dari istana Maharaja Ranajita Sinha, menuliskan dalam suratnya kepada Rādhā Kānta Deva, “Semua Pandit di negeri ini, yang telah melihatnya (Shabda-Kalpadrum), dengan apresiasi yang tinggi memberikan persetujuan mereka atasnya.”
    Pandit Vitthala Sastri dari “Benares College” dalam suratnya kepada Rādhā Kānta Deva, mengatakan bahwa dia telah melihat “Shabda-Kalpadrum” yang luar biasa, yang mengungguli semua leksikon Sanskerta, baik yang kuno maupun yang modern, dan keistimewaannya itu diperoleh karena sangat lengkap topik (bahasan)nya yang bersumber dari berbagai Sastra (pustaka suci Hindu) yang tidak terbatas.
    Profesor Doktor Max Muller, menuliskan dalam suratnya kepada Rādhā Kānta Deva, “Luasnya cakupan (pembahasan)nya dan susunannya yang sangat istimewa sehingga membuat Shabda-Kalpadrum menjadi tiada duanya dalam Filologi India.”

    Seorang pandit Hindu yang sangat terkenal pada masanya, yang menjadi informan tentang gosip “Navadwipa” kepada J.C.Ghose, menyatakan bahwa Allopaniṣad-yang oleh sejumlah Sanatani Hindu dianggap Upanisad palsu (pent.)-adalah Upanisad dari Atharva Veda. (Bhupendranath Datta. 1957. Hindu law of inheritance (an anthropological study), halaman 115. Calcutta: Nababharat)

    Sebagai bahan renungan buat kita semua:

    1. Terdapat perbedaan jumlah mantra Veda dalam Śaunakīya Saṃhitā. Pada umumnya, total mantra di dalam Atharvaveda Śaunakīya Śākhā adalah 5977, tetapi jumlahnya bertambah menjadi 6014 mantra di dalam “Veda Bhagavan”-nya Swami Gangeswarananda ‘Vedamurthi’ (1881-1992).
    Dan untuk masa sekarang, yang menjadi versi standar Atharvaveda Saṃhitā adalah Atharvaveda Śaunakīya Śākhā.

    Lalu, yang menjadi pertanyaan besar adalah sumber darimana yang dirujuk oleh Swami Gangeswarananda ‘Vedamurthi’ untuk mendapatkan 37 mantra tambahan bagi Atharvaveda Śaunakīya Śākhā dalam “Veda Bhagavan”-nya?

    2. Friedrich Otto Schrader menuliskan di dalam A Descriptive Catalogue of the Sanskrit Manuscripts in the Adyar Library Vol. I. Upanisads, halaman 136, bahwa sebuah manuskrip Allopaniṣad dari daun palem/lontar (palm-leaf manuscript) pernah eksis di Perpustakaan Adyar (Madras), tetapi kehadirannya kemudian “ditolak” oleh para pustakawan Adyar.

    Ada “motif” apa sehingga para pustakawan Adyar kala itu “menghilangkan jejak/memusnahkan bukti sejarah” tersebut?

    Manuskrip Allopaniṣad yang kini eksis di Perpustakaan Adyar (Madras) terdiri dari tiga jenis, yaitu: (1) Manuskrip kertas Allopaniṣad yang menggunakan jatāpātha dan dikopi dari sebuah manuskrip yang cukup tua milik pandit Vindhyeśvarī-prasāda-dvivedin di Benares; (2) Manuskrip kertas Allopaniṣad yang dikopi dari koleksi manuskrip berjudul Mānasopaniṣad milik pandit Dīnanātha dari Benares; dan (3) Manuskrip Allopaniṣad dengan pātha (teknik pembacaan mantra-mantra Veda) yang termaktub pada bagian terakhir dalam manuskrip Vanadurgopaniṣad, dari bahan kertas yang lebih baru.

    3. Swami Vivekananda pernah berkata bahwa “beberapa bagian Veda rahasya hanya diketahui oleh rumpun-rumpun keluarga Hindu tertentu. Dan dengan musnahnya anggota-anggota dari keluarga-keluarga ini, ajaran-ajaran rahasia Veda yang mereka ketahui juga turut lenyap. Sembilan puluh sembilan bagian (isi) Veda telah lenyap/musnah, yang awalnya terpelihara dalam lingkup rumpun keluarga Brāhmana tertentu, dan ketika rumpun keluarga tersebut musnah maka teks-teks Veda yang mereka miliki juga ikut lenyap.”

    4. Ada sebuah pernyataan menarik dari seorang Sejarawan India bernama Profesor Durga Mohan Bhattacharya dari Calcutta dalam usahanya mengumpulkan manuskrip-manuskrip Atharwaweda di setiap pelosok negeri Bhārata (India); sang profesor menyatakan bahwa masih banyak manuskrip berharga yang merupakan milik pribadi dan dirahasiakan oleh para pemiliknya, yaitu para pandit Hindu.

    5. Nama “Allopanishad” termaktub dalam situs “www.dharmicscriptures.org/scriptures.htm”. Tetapi, sangat di sayangkan bahwa situs tersebut tidak obyektif dalam memberikan “gambaran/fakta” menyeluruh tentang Allopanishad beserta teks aslinya, dan hanya memberikan opini yang kontra saja (menafikan yang pro beserta buktinya), bahkan memberikan terjemahan “subyektif” hanya berdasarkan teks Sanskerta yang diberikan oleh Swami Dayanda Saraswati dalam “Satyarthaprakash”.

    Allopaniṣad ditulis/disusun ulang kembali oleh Swami Dayananda Saraswati di dalam “Satyarthaprakash”, edisi revisi kedua yang diterbitkan pada tahun 1882. Tetapi, teks Allopaniṣad di dalam “Satyarthaprakash” yang diterbitkan oleh Srimati Paropakarini Sabha di Ajmer pada tahun 1983, dan teks Allopaniṣad di dalam “An English translation of the Satyarthaprakash” (1908) terbitan Virganand Press Lahore, redaksionalnya tidak konsisten.

    6. Di antara semua teks Allopaniṣad yang eksis di muka bumi, teks Allopaniṣad di dalam ‘Un-published Upanishads’nya C. Kunhan Raja–yang disusun/ditulis ulang oleh para pandit dari perpustakaan Adyar (Madras)–adalah yang paling kontradiktif (bertentangan) dengan teks Allopaniṣadnya Rādhā Kānta Deva.

    Dan, dari semua bukti-bukti yang kontra, atas keotentikan Allopaniṣad, tidak ada yang konsisten, melainkan saling berselisih fakta satu sama lain.

    – Swamiji, Rajendralala Mitra, dan Aurobindo Ghose meyakini bahwa Allopaniṣad adalah karya seorang cendekiawan muslim mughal pada era Akbar the Great.

    – Allopaniṣad diyakini adalah karya seorang Penyair terkenal abad ke-17 masehi bernama Jagannātha Paṇḍitarāja (1590 – 1665).

    -Allopaniṣad diyakini merupakan karya seorang pandit Hindu pada era Akbar the Great. (Lok Sabha Secretariat. 1955. Lok Sabha debates, Bagian 2,Volume 4, halaman 7345. India: Parliament. Lok Sabha.

    -Allopaniṣad adalah Upanisad yang ditulis atas permintaan sang putra Kaisar Shah Jahan, yaitu pangeran Dara Shikoh di abad ke-17 masehi. (Glimpses of Indian Heritage, halaman 70, oleh Raman Varadara)

    7. Kalau Allopaniṣad diragukan keotentikannya sebagai Upanisad dari Atharva Veda hanya karena tidak eksis dalam Muktika Upanisad, lalu bagaimana dengan “status” Nilarudra Upanisad yang juga tidak termaktub dalam daftar 108 Upanisad-nya Muktika Upanisad tetapi eksis dalam Caraṇavyūha dan Dīpikā?

    Kalau Allopaniṣad diyakini sebagai Upanisad palsu hanya karena keterangannya Swami Dayananda Saraswati dalam “Satyarthaprakash” dan Rajendralala Mitra serta Aurobindo Ghose, lalu bagaimana dengan “status” Nṛsiṃhatāpanī, Rāmatāpaṇi, dan Gopālatāpani yang termaktub dalam daftar 108-nya Muktika Upanisad tetapi dianggap tidak otentik oleh Swami Dayananda Saraswati dalam “Satyarthaprakash” (Prasad, Durga (Ed.). 1908. An English Translation of the Satyarth Prakash of Maharshi Swami Dayanand Saraswati, halaman 538. Lahore: Virjanand Press); dan Rajendralala Mitra dalam “Proceedings of the Asiatic Society of Bengal, halaman 140, yang diedit oleh the Honorary Secretaries, Baptist Mission Press Calcutta 1871”?

berkomentarlah dengan bijak, segala konsekuensi hukum ditanggung pemilik komentar, jadi berhati-hatilah sebelum berkomentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s