kontradiksi

http://groups.google.com/group​/soc.culture.indonesia/msg/fe3​eb0fbea2e67ce?

Islam terbukti SALAH ngakak.com, Badra Naya memberkati wkwkwkwkwk

groups.google.com

‎” Penghormatan yang tulus terhadap iman para pengikut agama tidak berarti kita mengijinkan segala penyelidikan dari sejarahwan harus diblokir, dihentikan atau dibelokkan … Kita harus membela hak-hak dasar metodologi sejarah”. Maxime Rodhinson, 1981; hal 57
50 menit yang lalu · Suka ·  · Berlangganan
    • Arda Chandra

      Dalam sumbangannya terhadap Al-Qur’an sebagai Text, Dr. Gerd-R. Joseph Puin menyindir adanya kekhususan yang ia jumpai dalam kumpulan manuskrip Yaman:

      1. Penulisan alif yang tidak sempurna. Ini tampak lebih umum pada bagian bagian manuskrip San’a’ dibandingkan dengan yang lain.
      2. Perbedaan letak pemisah ayat pada ayat-ayat tertentu.
      3. Penemuan`terbesar’ adalah satu bagian yang mana akhir surah 26 setelahnya diikuti oleh surah 37.

      Dalam menulis “What is the Koran?” (Apa itu AI-Qur’an?) edisi Januari, 1999, dalam majalah The Atlantic Monthly, Toby Lester begitu kental mengandalkan pada penemuan Dr. Puin.. Salah seorang tokoh penting dalam memulihkan Mushhaf-Mushaf di San’a’, Yaman, Dr. Puin menemukan dirinya, dan juga bagian-bagian manuskrip Yaman, tiba-tiba menjadi sorotan melalui publikasi artikelnya. Kata-kata Lester kadang-kadang memicu sensasi yang menyenangkan dan juga luapan kemarahan yang mendalam mengenai karya Puin itu, tergantung apakah seorang berbicara kepada Orientalis atau Muslim yang taat, makanya, guna meredam kemarahan kaum Muslimin dan mengikis ketidak percayaan, Puin telah menulis satu surat panjang dalam bahasa Arab kepada al-Qadi al-Akwa` dari Yaman. Surat itu kemudian muncul dalam harianath-Thawrah, dan saya reproduksi di pelbagai tempat.

      Sambil memuji Mushaf-Mushaf San’a’ dan bagaimana ia menguatkan posisi kaum Muslimin, namun ia juga menulis dengan gaya yang sangat halus dan sekaligus ingin mengelabui seluruh sejarah Al-Qur’an. Berikut ini adalah terjemahan sebagian surat itu yang berkaitan dengan tema ini:

      “Peninggalan-peninggalan [Mushaf tua ini] secara ilmiah meyakinkan berasal dari abad pertama setelah Hijrah! Karena keberadaan manuskrip manuskrip tersebut di San’a’, …[kita memiliki] satu-satunya bukti monumental tentang penyelesaian tulisan Al-Qur’an pada abad pertama Hijrah, dan bukan, seperti yang ditudingkan oleh para ilmuwan non Muslim, pada abad ketiga Hijrah! Tentunya, kaum Muslimin akan bertanya apa pentingnya informasi yang dilangsir oleh seorang ilmuwan non-Muslim, jika kaum Muslimin yakin bahwa Mushaf yang lengkap sudah ada sejak Khalifah ketiga, `Uthman bin `Affan. Keyakinan mereka sebenarnya hanyalah satu kepercayaan yang dikemas dalam keimanan yang baik, karena kita tidak mempunyai naskah ash Mushaf yang ditulis di bawah pengawasan`Uthman, ataupun naskah-naskah lain yang ia sebar ke negeri-negeri lain….”

      Ringkasan beberapa poin penting surat di atas sebagai berikut:

      1. Manuskrip San’a’ adalah satu-satunya bukti monumental tentang penyelesaian penulisan Al-Qur’an pada abad pertama Hijrah, yang merupakan argumen kuat terhadap tuduhan banyak ilmuwan non-Muslim bahwa ia baru selesai pada abad ketiga Hijrah.

      2. Kaum Muslimin tidak punya bukti bahwa AI-Qur’an yang Iengkap telah ada sejak zaman pemerintahan ‘Uthman, hanya berpijak pada keimanan yang selalu dijadikan sandaran.

      Kebanyakan tuduhan Puin sudah kita bicarakan: ketidak sempurnaan dalam penulisan huruf alif sudah kita singgung pada Bab 10 dan 11 dari buku The History of The Quranic Text, penemuan`terbesar’, bagian yang memuat di mana surah 26 diikuti dengan surah 37, tidaklah begitu unik seperti yang telah saya tunjukkan dari bagian Mushhaf yang lain, Adapun mengenai kesalahan letak tanda tanda pemisah ayat, ketidak-serasian dalam bidang ini telah tercatat dan dibuat klasifikasi oleh para ilmuwan Muslim sejak awal. Satu tuduhan yang belum sempat kita kupas akan dibahas sesudah ini.

      Adakah Bagian-Bagian Manuskrip San’a’ Satu-satunya Bukti Lengkapnya Al-Qur an pada Abad Pertama?

      Puin melempar dua tuduhan yang saling berkaitan. la menarik ke belakang tahun penyelesaian penulisan Al-Qur’an yang lengkap dari abad ketiga kepada abad pertama, tetapi kemudian, dengan menghindar dari segala sesuatu yang lebih spesifik tentang `abad pertama’, secara halus telah membuka sebuah kerangka waktu yang luas untuk digunakan sekehendaknya.

      Tidak semua Orientalis menuding bahwa penulisan Al-Qur’an terselesaikan pada awal abad ke tiga. Ada beberapa di antara mereka, seperti Pendeta Mingana, yang ngotot bahwa penulisan Al-Qur’an telah lengkap pada abad pertama, dan contoh lain, Muir, berpegang bahwa Mushaf yang ada sekarang adalah sama dengan apa yang diberikan oleh Nabi Muhammad Kemudian ada pula al-Hajjaj (w. 95 H.), yang banyak dipuji ilmuwan Barat, karena menyempurnakan penulisan AI-Qur’an. Semua tahun tergabung dalam abad pertama Hijrah, dan tidak adanya kepastian dari Puin telah membuka peluang untuk meletakkan waktu kapan saja dalam periode ini. Ketepatan adalah satu unsur penting bagi ilmuwan yang sungguh-sungguh, dan kita hendaknya mau mematuhi. Dengan wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 Hijrah, berarti masa akhir turunnya wahyu; oleh sebab itu maka dikumpulkan dalam bentuk luaran (external form) di zaman Abu Bakr (w. 13 H.), di mana ejaan diseragamkan dan naskah-naskahnya disebarluaskan oleh `Uthman (25 30 H.) Inilah pandangan kaum Muslimin. Mereka tidak pernah mengatakan bahwa Al-Qur’an yang lengkap tidak pernah terwujud sehingga ke zaman `Uthman, dan jika Puin mengatakan demikian, berarti tidak mewakili pendapat kaum Muslimin.

      Lusinan manuskrip Al-Qur’an abad pertama tersedia di berbagai perpustakaan di seluruh dunia. Dugaan pribadi saya bahwa di seluruh dunia tersedia sekitar satu perempat juta baik sebagian atau keseluruhan manuskrip Mushaf yang meliputi semua zaman. Di bawah ini adalah daftar manuskrip yang semuanya menunjuk pada abad pertama hijrah. Dalam pengumpulannya, saya berpijak pada karya K. Awwad, saya hanya mengambil Mushaf abad pertama dari daftar yang ia sajikan (ditandai dengan nomor yang tebal) dan kemudian disusun kembali sesuai dengan urutan nama.

      1. [1] Satu naskah dinisbatkan pada Khalifah `Uthman bin `Affan. Amanat Khizana, Topkapi Saray, Istanbul, no. 1.

      2. [2] Naskah yang lain dikaitkan dengan `Uthman bin `Affan. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 208. Naskah ini mempunyai 300 folio dan bagian kedua jilidnya hilang.

      3. [3] Naskah lain dikaitkan dengan `Uthman bin `Affan. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 10. la hanya 83 folio dan mengandung catatan-catatan yang ditulis dalam bahasa Turki yang menyebutkan penyalinnya.

      4. [12] Dinisbatkan kepada Khalifah `Uthman di Musim Seni Islam, Istanbul. Ada folio yang hilang pada bagian awal, pertengahan, dan akhir. Dr al-Munaggid telah meletakkan abad pertama waktunya pada paruh kedua

      5. [43] Dinisbatkan kepada Klalifah ‘Uthman di Tashkent, 353 fulio.

      6. [46] Naskah yang berukurun hesar dengan 1000 halaman, ditulis antara 25_31 11. di Raw:iq al-Magharibah, al-Azhar, Kairo.

      7. [58] Dinishatkan kepada Khalifah ‘Uthman. Perpustakaan Negara Mesir, Kairo.

      8. [4] Dikaitkan dengan Khalifah ‘All bin Abi Talib di atas palimpsest. Muresi Kutuphanesi, Topkapi Saray, no. 36E.H.29. Ada 147 folio.

      9. [5] Dikaitkan dengan Khalifah `. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 33. Hanya ada 48 folio.

      10. [11] Dikaitkan dengan Khalifah ‘All. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 25E.H.2. Mengandung 414 folio.

      11. [37] Dikaitkan dengan Khalifah `Ali. Perpustakaan Raza, Rampur, India, no. 1. Mengandungi 343 folio.

      12. [42] Dikaitkan dengan Khalifah ‘All, San’a’, Yaman.

      13. [57] Dikaitkan dengan Khalifah `Ali, al-Mashhad al-Husaini, Kairo.

      14. [84] Dikaitkan dengan Khalifah `Ali, 127 folio. Najaf, Iraq

      15. [85] Dikaitkan dengan Khalifah ‘All. Juga di Najaf, Iraq.

      16. [80] Disandarkan pada Husain bin ‘All (w. 50 H.), 41 folio, Mashhad, Iran.

      17. [81] Disandarkan pada Hasan bin ‘All, 124 folio, mashhad, Iran, no. 12.

      18. [86] Dinisbatkan pada Hasan bin ‘All, 124 folio. Najaf, Iraq.

      19. [50] Satu naskah, 332 folio, berkemungkinan besar dari awal paruh pertama abad pertama. Perpustakaan Negara Mesir, Kairo, no. 139 Masahif.

      20. [6] Dikaitkan dengan Khudaij bin Mu’awiyah (w. 63 H.) ditulis tahun 49 H. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 44. Mempunyai 226 folio.

      21. [8] Sebuah Mushaf bertulisan Kufi ditulis tahun 74 H. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 2. Mempunyai 406 folio.

      22. [49] Sebuah naskah ditulis oleh al-Hasan al-Basri tahun 77 H. Perpustakaan Negri Mesir, Kairo, no. 50 Masahif.

      23. [13] Sebuah naskah di Museum Sent Islam, Istanbul, no. 358. Menurut Dr. al-Munaggid ia berasal dart akhir abad pertama.

      24. [75] Sebuah naskah dengan 112 folio. Museum Inggris, London.

      25. [51] Sebuah naskah dengan 27 folio. Perpustakaan Negara Mesir, Kairo, no. 247.

      26. [96] Sekitar 5000 folio dari berbagai manuskrip di Bibliotheque Nationale de France, kebanyakan dari abad pertama. Salah satunya, Arabe 328(a), baru-baru ini diterbitkan dalam bentuk edisi faksimile.

      Ini bukan daftar lengkap: untuk mendapatkan koleksi pribadi dapat mengakibatkan temperamen yang bukan-bukan bagi pemiliknya, dan kaum Muslimin secara umum tidak dapat memperlakukan hal yang sama seperti yang dialami oleh Lembaga Munster untuk Kajian Teks Perjanjian Baru yang terdapat di Jerman. Koleksi yang terdapat pada Tiirk ve Islarn F.serleri Miiresi di Istanbul, yang secara potensi lebih penting dari manuskrip San’a’, masih menunggu kehadiran para ilmuwan yang berdedikasi. Terlepas dari rasa keberatan, daftar di atas menunjukkan banyak Mushaf yang lengkap (dan yang agak lengkap) yang masih bertahan sejak zaman awal Islam, dan satu di antaranya, mungkin terdapat yang lebih tua dari Mushaf `Uthman.

      Walaupun tentunya terdapat sebuah khazanah agung yang menyimpan kekayaan ortografi yang rada aneh-aneh, Mushaf-Mushaf yang terdapat di San’a’ tidak menambah sesuatu yang baru atau bukti penting yang telah me nunjukkan penyelesaian penulisan Al-Qur’an pada awal beberapa dasawarsa Islam.

      Sumber : The History of The Quranic Text

      42 menit yang lalu · Suka ·  1 orang
    • Arda Chandra

      Tiga Cara Penyerangan terhadap Mushaf Utsmani

      Serangan terhadap Mushaf Utsmani dilakukan dengan tiga cara.
      image1. Pertama, melalui periwayatan;
      2. kedua, melalui penemuan manuskrip lama; dan
      3. ketiga, melalui tafsiran dan kekuatan intelektual.

      Untuk menyerang dari sisi periwayatan, mereka terpaksa menggunakan senjata ulumul hadits agar riwayat yang awalnya tertolak bisa diterima kembali. Ulama Hadits tentu tidak berdiam diri, karena sejak dahulu mereka memang telah memberi sumbangan besar dalam menjaga keutuhan al-Quran. Karena mushaf ini disandarkan pada riwayat yang mutawatir, serangan ini tidak akan mampu merusak Mushaf Utsmani. Apalagi upaya mereka melalui cara ini paling jauh hanya bisa mengangkat kedudukan riwayat syadz (yang menyimpang) menjadi ahad. Itupun dengan syarat riwayat itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran Mushaf Utsmani lainnya.

      Pun, bila usaha itu berhasil, fungsi yang paling tinggi dari riwayat itu paling hanya sebagai tafsir pembantu bagi Mushaf Utsmani. Itupun belum tentu diterima oleh ijma sebagai salah satu bacaan Utsmani. Jadi sebenarnya, serangan terhadap Mushaf Utsmani melalui jalan ini terlalu banyak makan waktu dan tenaga, tetapi hasilnya tidak seberapa.

      Alford T. Welch yang menulis mengenai al-Quran dalam Encyclopaedia of Islam menyatakan keputus-asaan para pengkaji Barat itu. Menurutnya, berbagai riwayat mengenai bacaan-bacaan yang telah mereka kumpulkan sekian lama itu tidak terlalu berarti untuk menyerang Mushaf Utsmani.

      Ketika mereka gagal meruntuhkan al-Quran dengan jalan riwayat, karena dijaga ketat oleh para ulama hadits, para orientalis itu jadi semakin berang. Kemudian dengan serta merta mereka menuduh bahwa riwayat-riwayat hadits yang mutawatir itu merupakan rekaan para ulama Islam.

      Begitulah sikap mereka, bila gagal menyerang al-Quran, maka hadits yang menjadi sasaran. Dan bila gagal menyerang hadits, maka fikih dan ilmu kalam pun akan mereka hantam. Bila gagal lagi, mereka menghantam, sejarah Islam yang luas dan panjang itu yang akan mereka buru. Mereka memang tidak akan berhenti menyerang sumber-sumber Islam, baik secara halus maupun terang-terangan agar agama Islam menerima nasib yang sama seperti agama mereka.

      Cara kedua yang mereka lancarkan adalah melalui penemuan-penemuan manuskrip. Misalnya yang dilakukan oleh Gerd R. Puin baru-baru ini. Ia mengklaim telah menemukan mushaf tua di Yaman yang konon mengandungi qira’ah yang lebih awal dari Qira’ah Tujuh yang terkandung dalam Mushaf Utsmani, walaupun mushaf itu tidak lengkap dan sangat berbeda dengan Mushaf Utsmani.

      Tujuan dari klaim itu adalah agar umat Islam yang membaca tulisannya menjadi keliru dan ragu sehingga menganggap bahwa al-Quran pada zaman Sahabat itu satu sama lain saling bertolak belakang. Memang serangan melalui manuskrip lama ini lebih canggih dibandingkan dengan serangan melalui riwayat. Tapi, ketiadaan manuskrip yang mereka inginkan itu jadi masalah yang mengganjal tujuan kajian mereka.

      Maka, dengan penemuan manuskrip Yaman di atas, konon Puin ingin mengemukakan bukti bahwa riwayat-riwayat yang bertentangan dengan Mushaf Utsmani itu bukan sekadar isu, tetapi fakta. Beliau turut mengkritik pernyataan Welch yang mengisyaratkan bahwa sebenarnya tidak ada alasan bagi para pengkaji Barat untuk menolak sumber-sumber hadits, sebab apa yang dinyatakan dalam banyak riwayat mengenai isu susunan surah-surah al-Quran adalah mendekati susunan Mushaf Utsmani.

      Dengan modal penemuan manuskrip Sana’a di Yaman itu, pernyataan Welch di atas disindir dan diputarbalikkan oleh Puin. Ia merasa bahwa serangannya terhadap Mushaf Utsmani lebih ampuh menggunakan manuskrip dibanding melalui jalan riwayat yang merupakan jalan mati bagi para orientalis yang menggeluti bidang al-Quran.

      Memang wajar bagi pengkaji Barat yang berlatar belakang tradisi Ahlul Kitab, Yahudi dan Kristian, untuk melirik manuskrip lama sebagai senjata utama mereka. Ini karena masalah agama mereka bersumber pada kitab suci mereka sendiri. Mereka ingin agar nasib al-Quran seperti nasib Taurat dan Injil. Mereka mau agar kita juga masuk dalam kelompok Ahlul Kitab! Maha Benar Allah, dengan firman-Nya:

      “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.“ (Al-Baqarah: 120)

      Kita, kaum Muslimin, tidak perlu terlalu bimbang dengan serangan baru melalui manuskrip ini, karena kualitas manuskrip itu pada dasarnya sama dengan kualitas riwayat hadits. Sebuah hadits, yang bila dari segi isnadnya nampak sah, tetapi pengertian matannya bertentangan dengan hadits-hadits yang lebih kuat derajat kesahihannya, maka hadis tersebut dianggap syadz (menyimpang). Begitu pula nilai sebuah manuskrip al-Quran dan qiraah-nya. Kesahihan manuskrip maupun riwayat harus menjadi ukuran utama.

      Puin mengklaim bahwa manuskrip Sana’a itu lebih tua dari sistem qiraah tujuh atau sepuluh, yang telah diakui mutawatir atau masyhur masing-masingnya oleh para ulama Islam. Kebetulan manuskrip itu mengandung qiraah yang lebih banyak daripada qiraah tujuh, sepuluh atau empat belas seperti yang diuraikan dalam Mu‘jam al-Qira`at al-Quraniyyah.

      Kita ingin mengatakan kepada Puin bahwa banyaknya qiraah yang terdapat dalam manuskrip itu sebenarnya tidak sahih. Karena apabila ia telah keluar dari qiraah 14 yang memuatkan bacaan ahad, boleh jadi bacaan-bacaan yang banyak itu hanyalah merupakan bacaan yang bernilai syadz (ganjil, menyimpang) ataupun mawdhu’‘ (palsu).

      Bacaan-bacaan yang dikategorikan bernilai dha’if (lemah) seperti itu boleh jadi merupakan suatu kesalahan-kesalahan tulisan dalam manuskrip al-Quran yang ditulis secara individual oleh para penulis manuskrip yang bisa jadi dalam keadaan mengantuk, letih, tidak profesional dan lain-lain. Perlu disebutkan bahwa asal al-Quran adalah bacaan (qiraah) yang diperdengarkan, barulah tulisan (rasm) mengikutinya.

      Prinsip yang disepakati adalah al-rasm tabi‘ li al-riwayah (tulisan teks mengikuti periwayatan). Karena itu, faktor periwayatan dari mulut ke mulut sangatlah penting. Hal itu telah dilakukan oleh para sarjana dan penghafal al-Quran yang berwibawa. Tetapi para orientalis ingin menyodorkan pemikiran mereka yang menyeleweng dengan mengatakan bahwa bacaan al-Quran mestilah mengikuti teks tulisan (rasm), sekalipun tulisan itu salah.

      Pantaslah nenek moyang mereka yang Ahlul Kitab itu tersesat sejak dahulu, karena mereka hanya berpegang dengan teks tulisan dan telah kehilangan isnad dan sandaran yang kukuh dalam periwayatan kitab suci mereka. Mungkin karena sebab itu pula mereka dipanggil Ahlul Kitab, karena mereka itu memang, seperti kata Prof. Naquib al-Attas, bookist.

      Para ulama Islam awal telah membuat perbedaan antara al-Quran dengan qiraah. Al-Quran adalah bacaan mutawatir yang diterima oleh keseluruhan umat Islam, dibaca dalam shalat,dan menolak bacaan itu adalah kufur. Sedangkan pada qiraah tidak demikian. Mereka juga telah meletakkan syarat-syarat penerimaan qiraah. Pembahagian qiraah yang kita sebutkan di atas menunjukkan kategori penerimaan dan penolakan terhadap sesuatu qiraah. Oleh karena itu tidak semua qiraah dapat diterima. Kalaupun diterima, belum tentu bacaan itu dibenarkan untuk dibaca dalam shalat. Dan hal ini tidak berarti qiraah tersebut tidak bermakna, karena fungsi bacaan itu masih boleh membantu dalam ilmu tafsir. Jadi penemuan Puin mengenai banyak terdapatnya qiraah dalam manuskrip itu mungkin sekali termasuk qiraah-qiraah yang dha’if , yang tidak akan diterima para ulama.

      Agaknya Puin tidak begitu mengindahkan tiga rukun utama yang mesti dipenuhi agar setiap qiraah itu bisa diterima. Rukun-rukun yang telah disepakati itu adalah: pertama, qiraah mestilah sesuai dengan tata bahasa Arab, walaupun itu hanya dari satu pengertian (wajh); kedua, qiraah mesti juga sesuai dengan salah satu dari Mushaf Utsmani, walaupun itu hanya dari segi kemungkinannya (ihtimal); dan ketiga, qiraah juga mesti sah sanad periwayatannya. Apabila salah satu rukun itu tidak terpenuhi, maka qiraah tadi dianggap dha’if (lemah), syadzh (ganjil) atau batil.

      Menurut Ibnu al-Jazari, ketentuan itu adalah sahih di mata para pengesah (pentahqiq) baik di kalangan ulama salaf (ulama di masa awal) ataupun khalaf (ulama yang terkemudian). Uraian terperinci terhadap ketiga rukun itu terdapat dalam kajian ‘Ulum al-Quran.

      ***
      Dr. Ugi Suharto
      *) Penulis adalah Asisten Profesor di Universitas Islam Antarbangsa (UIA) Malaysia

berkomentarlah dengan bijak, segala konsekuensi hukum ditanggung pemilik komentar, jadi berhati-hatilah sebelum berkomentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s